Jejak Ulama

Syaikhona KH Muhammad Kholil, Cerita Dibalik Pendirian NU

Mengenai cerita dibalik pendirian Organisasi NU (Jam`iyyah Nahdlatul Ulama) yang melibatkan dua tokoh utama, KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Hasyim Asy`ari, ternyata ada satu ulama lain yang perannya tak kalah penting dalam mendorong kelahiran NU, yaitu Syaikhona KH Muhammad Kholil, pengasuh Pesantren Kademangan, Bangkalan-Madura yang juga merupakan guru dari Kiai Wahab dan Kiai Hasyim Asy`ari.

Kisah ini diceritakan oleh KH As`ad Syamsul Arifin yang saat itu merupakan santri Syaikhona Kholil yang belakangan menjadi pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi`iyah, Asembagus, Sukorejo-Situbondo. Seperti kita ketahui Kiai Wahab Chasbullah sejak dua tahun sebelum NU berdiri (1924) telah mengusulkan dan meminta restu Kiai Hasyim Asy`ari untuk mendirikan jam`iyyah yang nantinya menjadi wadah tempat berhimpunnya para ulama tradisi. Kiai Hasyim cenderung berhati-hati menanggapi usulan tersebut, dan tidak langsung memberikan jawaban.

Sebagai ulama yang taat beribadah, sebelum mengambil keputusan penting-utamanya yang menyangkut masalah keumatan, hal yang pertamakali dilakukannya pastilah memohon petunjuk Allah SWT melalui shalat istikharah. Namun rupanya petunjuk tersebut tidak diterima oleh Hasyim Asy`ari namun justru kepada gurunya, Syaikhona Kholil, Bangkalan.

Pada akhir tahun 1924, Syaikhona Kholil yang mengetahui Kiai Hasyim Asy`ari tengah gundah gulana kemudian mengutus murid-nya As`ad Syamsul Arifin untuk mengantarkan tongkat disertai titipan ayat Al Quran, Surat Thaha ayat 17-23 yang menceritakan tentang mukjizat Nabi Musa AS, untuk diberikan kepada Kiai Hasyim. Ayat tersebut berbunyi:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى (١٧) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (١٨) قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى (١٩) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (٢٠) قَالَ خُذْهَا وَلا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الأولَى (٢١) وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَى (٢٢) لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى (٢٣)

”Wamaa tilka biyaminika ya Musa. Qala hiya `ashaya atawakka`u `alaiha wa ahusysyu biha `ala ghanami waliya fiha ma`aribu ukhra. Qala alqiha ya Musa. Faalqaha faidza hiya hayyatun tas`a. Qala khudza wala takhaf sanu`iduha siratahal ula. Wadmum yadaka ila janahika takhruj baidha`a min ghairi su`in ayatan ukhra. Linuriyaka min ayatinal kubra.

(Apakah itu yang ada ditanganmu, hai Musa?. Musa berkata, Ini adalah tongkatku, aku betelekan kepadanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.

Allah berfirman ”Lemparkanlah itu, hai Musa!”

Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.

Allah berfirman ”Penganglah ia dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar”).

Hari berganti hari bulan berganti bulan tanpa terasa satu tahun berlalu, tapi jam`iyyah yang diharapkan belum berdiri juga. Isyarat kedua kemudian datang lagi pada akhir tahun 1925. As`ad kembali diutus Syaikhona Kholil untuk menemui Kiai Hasyim Asy`ari di Tebu Ireng.

Ia diminta untuk mengantarkan seuntai tasbih disertai titipan asmaul husna ”Ya Jabbar, Ya Qahhar”. Pesan tersebut diterima Kiai Hasyim dengan penuh keyakinan, ia merasa bahwa ini merupakan jawaban yang diterima gurunya atas istikharah yang terus dilakukan Kiai Hasyim. Kepada As`ad, Kiai Hasyim Asy`ari mengatakan ”Allah SWT telah memperbolehkan kita mendirikan jami`iyyah (Organisasi, red.).

Cerita diatas menjelaskan pada kita bahwasanya pendirian Organisasi NU tidak selalu harus dilihat dalam konteks organisatoris saja, namun lebih dari itu pendirian Organisasi NU melibatkan dimensi lain yaitu spiritualitas sebagaimana yang dimaksudkan oleh pendirian organisasi keagamaan itu sendiri.

Dalam hal ini KH Hasyim Asy`ari tidak hanya mengandalkan dukungan dari jaringan Kiai yang ada di pesantren-pesantren, namun lebih pentingdari itu ia juga memperlihatkan sikap pentingnya memohon petunjuk Allah SWT melalui shalat istikharah.

Bahasa simbolik dibalik pemberian ”tongkat Nabi Musa” dan tasbih dari Syaikhona Kholil kepada Hasyim Asy`ari erat kaitannya dengan pendirian jam`iyyah (organisasi). Tongkat merupakan simbol kepemimpinan atau komando seseorang dalam mengarahkan orang lain agar tujuan organisasi dapat tercapai.

Sedangkan tasbih bermakna keseimbangan, lahir dan batin, usaha (ikhtiar) dan doa serta pengedepanan religiusitas dalam perjuangan. Tasbih juga dapat diartikan sebagai persatuan kaum nahdliyin layaknya biji tasbih yang banyak namun diikat dalam satu kesatuan.

Walaupun NU secara formal baru berdiri pada 31 Januari 1926 namun tradisi pesantren telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Jadi mendirikan Jam`iyyah Nahdlatul Ulama bukan hanya menghimpun orang untuk berorganisasi demi tujuan tertentu, lebih dari itu ini adalah panggilan ibadah.

Jika Syaikhona Kholil lebih menggunakan bahasa simbolik dengan memberikan isyarat pada Hasyim Asy`ari bahwa cita-citanya mendirikan jam`iyyah itu luhur, Kiai Hasyim Asy`ari kemudian menterjemahkannya ke dalam bahasa legal rasional, maka Kiai Wahab berupaya mengimplementasikannya menjadi gerakan yang terorganisir secara formal.

Ketiga-tiganya saling melengkapi, kekuatan Kiai Wahab ada pada kemampuannya mengorganisir, membangun dan mengefektifkan jaringan pesantren agar dapat dikonsolidasikan menjadi sebuah gerakan yang masif dan terorganisir (NU). Kiai Hasyim Asy`ari memiliki kewibawaan untuk memastikan agar jaringan pesantren nantinya bergabung dengan Jam`iyyah Nahdlatul Ulama, sedangkan Syaikhona Kholil memberi isyarat bahwa maksud mereka diridhoi Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

one × three =

Baca Artiikel Terbaru Lainnya
Close
Back to top button