Feature & Figur

GP Ansor Karangrena, Bicara Kualitas Bukan Kuantitas

Saat ini ketika GP Ansor berbicara kuntitas secara nasional, tentu jumlahnya banyak mencapai jutaan anggota. Tetapi, mungkinkah kuantitas anggota GP Ansor dapat ditemukan secara rata sampai ke tingkat pimpinan ranting? Jika kuantitas bermasalah, bagaimanakah GP Ansor berbicara kualitas?

Inilah sebuah fakta dari dinamika berorganisasi itu, bahwa sesuatu yang besar ada penopang-penopang bagian dari kecil dan Pimpinan Ranting GP Ansor Karangrena di Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap merupakan salah satu bagian dari terkecil itu.

Namun yang membuat GP Ansor besar secara nasional, menjadi besar secara menyeluruh salah satunya adalah kontribusi Pimpinan Ranting GP Ansor di setiap kelurahan/desa, PR GP Ansor Karangrena sendiri anggotanya sekitar sembilan orang saja secara kuantitatif berkontribusi pada kebesaran GP Ansor secara nasional.

Kualitas Organisasi Pemuda

Tetapi GP Ansor Karangrena yang sedikit itu, bukan berarti secara kuantitas rendah kemudian berbanding lurus dengan kualitasnya yang juga ikut rendah, tentu tidak bisa disamaratakan. Sebab bagaimanapun sebuah organisasi berjalan dan bekerja atas dasar bagaimana kualitas orang-orang di dalam organisasi itu.

Sebab, sebuah organisasi masyarakat, ditambah itu merupakan organisasi pemuda, secara efektif dapat terasa gerakannya berasal dari kualitas bukan hanya kuantitas organisasi.

Bagaimana sebuah program dan inisiatif ide itu digerakan sebagai visi dan misi berorganisasi dapat terwujud menjadi gerakan nyata pada masyarakat itulah tantangan berorganisasi di semua tingkatan tidak terkecuali GP Ansor.

Maka sebagai sebuah pembanding, jika berbicara kuatitas, GP Ansor Karangrena dapat dikatakan tidak dapat mencapai itu “kuantitas” yang baik meski kaderisasi di masa yang akan datang, juga akan membuka peluang GP Ansor Karangrena mencapai kuantitas yang baik itu bukan tidak mungkin bertambah dari sembilan orang yang masih aktif di masa depan.

Semua kesempatan masih terbuka lebar mengingat GP Ansor di Karangrena, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap ini baru ada dan terbentuk pada 2018 yang lalu.

Dengan sumber daya anggota yang ada saat ini yang berjumlah kurang dari puluhan anggota. Optimalisasi kualitas tanpa kuantitas yang baik, bukan tidak mungkin diwujudkan kontribusi terbaiknya oleh GP Ansor Karangrena secara program dan kreativitas ikut turut serta terjun dalam pemberdayaan masyarakat, meski tetap kuantitas yang kecil akan berpengaruh pada mobilisasi anggota yang kurang itu tidak dapat ditampik.

Kembali, bukan berarti anggota yang kurang mempengaruhi gagasan dan implementasi program secara efektif dan semangat untuk militant bagi GP Ansor Karangrena berjuang pada titik mencapai program nyata itu pada masyaraat sesuai dengan visi-misi berorganisasi yang lahir dari dan untuk masyarakat.

Karena itu, bagaimanakah kuantitas yang rendah seperti GP Ansor Karangrena tetap dapat melakukan kontribusi apik sebagai representasi anggota GP Ansor yang besar secara nasional pada masyarakat desa yang terbilang kecil dengan skala oprasional berorganisasi di Pimpinan Ranting?

Kader Berkualitas    

“Kaderisasi yang gemuk merupakan bonus demografi anggota organisasi yang patut di banggkan tetapi jika kualitas yang dihasilkan minim, saya kira semua yang terlibat merasa ditantang bagaimana menjalankan organisasi kedepan dengan citra yang sepadan”.

Berorganisasi secara kuantitas saja tentu tidak akan pernah cukup. Sebab sebagai organisasi pemuda yang besar, keberadaan GP Ansor atau Gerakan Pemuda Ansor tentu memiliki dinamikanya sendiri dengan kepengurusan baik ditingkat pusat maupun di tingkat ranting bagaimana terlibat dalam pembangunan bangsa, masyarakat, dan negara.

Kuantitas yang bervariatif pada setiap tingkatan khusunya tingkatan ranting harus menjadi tantangan tersendiri bagi pimpinan organisasi GP Ansor secara nasional, bukan saja satu komando dalam kebijakan gerakan tetapi juga kontribusinya terhadap pemberdayaan masyarakat secara utuh dan mendasar.

Maka dari itu, sudah optimalkan dengan jumlah anggota GP Ansor secara nasional yang menyentuh angka kurang lebih empat juta anggota; berkontribusi terhadap pembangunan bangsa dan Negara? Atau dengan lingkungan terkecil, sudahkan GP Ansor mampu bergerak dan berkontribusi pada pembangunan masyarakat desa?

Inilah berbagai pertanyan itu, GP Ansor dan optimalisasi organisasi harus berkontribusi lebih luas bagi masyarakat, yang seharusnya menyongsong kualitas dihasilkan dari organisasi di berbagai tingkatan baik yang paling rendah seperti pimpinan ranting atau pun pusat yakni bersekala nasional.

Meski di tingkatan nasional sendiri GP Ansor merupakan garda terdepan dalam menggerakan relawan-relawan kemanusiaan seperti tanggap bencana dan lain sebagainya.

Tetapi pemeberdayaan masyarakat secara umum juga sangat penting dan tidak dapat ditinggalkan sebagai bagian dari pengabdian GP Ansor untuk bangsa dan Negara, yang berlandaskan ormas pemuda islamis dan membawa nama besar ormas islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama atau NU.

GP Ansor Karangrena dan Gerakannya

Untuk itu berkaca pada Pimpinan Ranting GP Ansor Karangrena yang tidak hanya eksis meski secara kuantitas jumlahnya sedikit sekitar 9 (sembilan) anggota yang terhitung aktif. Namun inovasi dalam membuat suatu program pemberdayaan masyarakat dan gerakan yang militan para anggotanya mampu membuat perubahan di masyarakat tingkat desa.

Satu dari banyak perubahan bagi masyarakat Desa Karangrena, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap yang sudah dilakukan GP Ansor Karangrena yakni memberdayakan ekonomi masyarakat melalui Bank Sampah Sahabat Hijau, yang merupakan satu-satunya dan inisiator utama adanya Bank Sampah di Desa Karangrena yang didirikan Desember 2020.

Di dalam hal “kemanusiaan” sendiri GP Ansor Karangrena merupakan pioneer yang menggerakan JP-ZIS atau jaringan pengelola zakat infak sodakoh berbasis masjid yang pertama ada di Desa Karangrena, yang oprasionalnya di mulai Oktober 2021 lalu.

Yang mana melalui JPZIS; distribusi zakat, infak dan sodakoh menjadi efektif, serta mengoptimalisasi pemerataan ekonomi Desa Karangrena secara menyeluruh melali ZIS.

Salah satu inovasi zakat yang dilakukan JPZIS Karangrena yakni membuka zakat panen padi bagi petani, yang mana inovasi program ini pertama kali dilakukan dan digerakan oleh GP Ansor Karangrena.

Sedangkan di bidang dakwah sendiri melalui Rijalul Ansor Karangrena, bekerja sama dengan pengurus ranting NU desa Karangrena menggelar berbagai kegiatan dakwah seperti Sholawat Nariyah, Pengajian Rutin keliling satu minggu sekali bagi anggota Ansor, mengadakan pengajian lintas Banom NU dan juga menginisiasi kegiatan perayaan hari-hari besar islam sebagai sarana dakwah dan kegiatan sosial.

Maka berkaca pada trobosan program dan inovasi yang dilakukan oleh GP Ansor Karangrena di tingkatan ranting dengan sumber daya anggota yang minim, tentu bukan alasan mereduksi Gerakan Pemuda Ansor untuk terus berkontribusi pada masyarakat secara menyeluruh.

Sudah seharusnya kualitas GP Ansor tidak terpaku pada kuantitasnya dalam melakukan sebuah gerakan perubahan seperti apa yang dilakukan PR GP Ansor Karangrena. Kuatitas yang banyak bagi organisasi merupakan bonus, tetapi yang menentukan efektif atau tidaknya sebuah organisasi bukan dari kuantitasnya namun sumber daya manusia yang ada di dalamnya.

Baca Juga >> Pemikir Harus Menjadi Penggerak Perubahan

Penulis: Toto Priyono, aktivis Gerakan Pemuda Ansor Karangrena Maos Cilacap

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

seventeen + five =

Baca Artiikel Rekomendasi Lainnya
Close
Back to top button