Antologi NU

Turba (Turun Ke Bawah): Metode dan Tradisi dalam Organisasi

Turba adalah kependekan dari turun ke bawah, sebuah istilah, metode dan tradisi dalam organisasi NU untuk menggambarkan kegiatan silaturahmi dan konsolidasi; dengan cara mengunjungi struktur organisasi di bawahnya. Tidak hanya pada organisasi NU, pada organisasi badan otonom NU juga lazim menggunakan istilah atau kata Turba (Turun Ke Bawah).

Pengertian Turba

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata turba adalah turun ke bawah. Turba memiliki arti dalam kelas verba atau kata kerja sehingga turba dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya.

Makna Turba (Turun Ke Bawah) tentu sangat tergantung pada kondisi penggunaan kata tersebut; dari subjek hingga objeknya, juga hal-hal yang berkaitan di dalamnya. Sehingga karenanya tidak ada makna tunggal untuknya. Turba bisa saja bermakna silaturahmi; kunjungan, inspeksi, peninjauan, sambang (nyambangi, Jawa) dengan menggelar pertemuan.

Yang menjadi kunci dari Turba adalah kata “bawah” sebagai lawan dari “atas”. Dalam konteks organisasi Nahdlatul Ulama (NU), atas berarti struktur organisasi NU di level Pengurus Wilayah dan Pengurus Besar; itu untuk memandang “atas” dari level Pengurus Cabang, MWCNU dan ranting NU; juga Anak ranting NU yang ada di bawah nya.

Artikel Terkait

Misal, Turba MWCNU Bantarsari untuk Konsolidasi Organisasi dan Ngaji; itu artinya, Pengurus MWCNU Bantarsari Cilacap melaksanakan kegiatan Turba (Turun Ke Bawah); bersilaturahmi, mengunjungi dan bertemu dengan pengurus di bawahnya, yaitu Ranting NU dan Anak Ranting NU.

Bisa jadi, yang hadir dalam kegiatan turba juga termasuk pimpinan dang pengurus juga anggota badan otonom NU sebagai objek kegiatan. Seperti yang pernah dilakukan oleh PC IPNU IPPNU Cilacap di artikel ini : PC IPNU IPPNU Cilacap Turba “Njagong Bareng”.

Turba, Tradisi dan Metode

Selain telah menjadi bagian tak terpisahkan dari istilah ke-NU-an, dalam prakteknya turba sudah menjadi tradisi dalam pengertian kebiasaan yang terus menerus; terjaga dan bersifat turun temurun. Selain sudah merupakan tradisi, Turba (Turun Ke Bawah) juga merupakan salah satu metode dalam penguatan organisasi.

Sebagai sebuah metode, turba sudah teragendakan dengan baik dari sisi perencanaan hingga pelaksanaannya. Turba membawa misi untuk, misalnya; sosialisasi sebuah kegiatan, membahas dan menetapkan sebuah kegiatan; atau mencari masukan hubungannya dengan pelaksanaan program dan kegiatan organisasi.

Misalnya yang tergambar di artikel ini: PCNU Cilacap Turba Sosialisasikan Sensus NU dan KARTANU. Atau di artikel ini PCNU Cilacap Gelar Turba, Konsolidasi Ke Seluruh MWCNU.

Turba bukan sekadar hadir atau menghadiri sebuah undangan; melainkan turun dan hadir ke level bawah struktur organisasi karena ada agenda yang hendak disampaikan. Jadi, turba dalam konteks organisasi NU ini juga memiliki maksud; misalnya menyerap pendapat dan aspirasi, mendengarkan hal-hal yang menjadi kehendak atau keinginan pengurus organisasi di level bawahnya.

Sebagai sebuah metode sekaligus tradisi dalam ikhtiar menguatkan organisasi, Turba (Turun Ke Bawah) biasa terlaksanakan oleh Pengurus Wilayah NU di level Pengurus Cabang. Dari level pengurus cabang ke pengurus MWCNU. Dan dari tingkatan struktur MWCNU ke Ranting NU.

Perencanaan Turba yang Baik

Melalui Turba (Turun Ke Bawah) tentu ada hasil yang baik yang hendak dicapai. Namun, hasil tentu akan tergantung bagaimana dengan perencanaan turba yang baik tentunya. Perencanaan turba yang baik mutlak adanya mengingat pertimbangan, misalnya; waktu dan personil yang terbatas; jarak tempuh yang jauh, juga cakupan materi turba yang hendak disampaikan.

Perencanaan Turba (Turun Ke Bawah) yang baik koranya bisa dilihat dan dapat dinilai jika memenuhi beberapa unsur berikut ini:

  1. Perencanaan turba telah tersusun sesuai dengan tujuan organisasi (secara khusus)
  2. Pelaksanaan turba harus tepat sasaran dari sisi objek, materi dan waktu
  3. Pengurus sebagai petugas menjalankan fungsinya sebagai seorang kordinator
  4. Para anggota atau tim turba berada dalam satu koordinasi
  5. Tim Turba menjalankan fungsinya sesuai dengan perencanaan program atau kegiatan
  6. Harus mendorong dan memiliki nuansa peningkatan kualitas kerja pengurus dan organisasi
  7. Perencanaan Turba (Turun Ke Bawah) hendaknya berhasil membuat sebuah pelaksanaan kegiatan (lebih lanjut)
  8. Di dalam tim turba terdapat pembagian sub-sub koordinasi untuk menjalankan sebuah kegiatan
  9. Terbangunnya kesepahaman antara pengurus dengan anggota tim turba dalam membuat sebuah perencanaan itu sendiri.

Manfaat Turun ke Bawah

Lalu apa manfaat dari Turba atau Turun Ke Bawah ini? Yang utama adalah menjadi peluang sebagai ajang atau wadah silaturahmi. Dengan melaksanakan turba, pahala melaksanakan silaturahmi diperoleh, dan konsolidasi serta capaian terget organisasi didapatkan.

Manfaat selanjutnya dari turba adalah terkomunikasikan dan terkordinasikannya kinerja organisasi sekaligus peran dari masing-masing tim turba. Melalui turba, peluang tercapaianya tujuan organisasi secara umum; atau tujuan kegiatan secara khusus, akan semakin mudah tercapai. Karena kegiatan terkonsolidasi dengan baik; dalam perencanaan yang sama; kemudian ada kesepahaman langkah pencapaian; sampai waktu pelaksanaan yang sama yang telah ditetapkan.

Salah satu ciri organisasi yang baik adalah dinamis; dalam pengertian ada dalam kondisi yang bergerak secara terus menerus. Ritmenya mungkin berbeda beda. Namun, ia tidak statis, stagnan dan atau mandeg. Dan organisasi sebesar Nahdlatul Ulama (NU), mustahil bisa bekerja dan menjadi kuat tanpa menempuh salah satu metode seperti Turba (Turun Ke Bawah) ini.

Sebagai pengurus organisasi NU dan badan otonom NU, sudahkah merencanakan Turba (Turun Ke Bawah) ?

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

one × four =

Baca Artiikel Rekomendasi Lainnya
Close
Back to top button