Pondok Pesantren

Pesantren Darussalam Klumprit, Harmonis dengan Banjir

Di antara banyaknya pemukiman warga yang terdampak banjir di Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap, Pesantren Darussalam Klumprit adalah salah satunya. Posisi pesantren yang memang berada di dataran yang cekung, menjadikan pesantren ini langganan terkena banjir. Wajarlah bila Pesantren Darussalam Klumprit harmonis dengan bencana banjir.

Banjir Nusawungu

Dalam misi aksi NU Cilacap Peduli menanggulangi bencana banjir di Nusawungu, saya berkesempatan singgah ke pesantren ini saat mengikuti relawan mengantar makanan untuk para santri. Hari itu, Selasa (22/03) sudah sepekan sejak banjir melanda pada Selasa (14/03) lalu.

Bersama dengan 2 orang relawan berseragam Banser saya menaiki tossa, kendaraan roda tiga dengan bak di belakang. Pukul 09.00 WIB kami bertolak dari posko NU Cilacap Peduli menuju pesantren Darussalam.

Melewati pasar Nusawungu, kami mulai menemui genangan air meskipun sudah tidak dalam karena air sudah mulai surut. Seruan seorang perempuan menghentikan laju kendaraan yang kami tumpangi. Rupanya seorang ibu yang hendak numpang.

Kami pun mempersilahkan dia untuk naik bersama dengan barang bawaan yang lumayan banyak. Ada beberapa kardus mie instan dan beberapa kantung kresek yang sepertinya berisi bahan makanan. Saat ditanya dia menjawab bahwa barang tersebut merupakan titipan bantuan untuk warga terdampak banjir di Dusun Krinding yang konon terendam banjir cukup dalam.

Memasuki jalan menuju Desa Klumprit, air tampak memenuhi seluruh badan jalan setinggi 30 cm. sementara di kiri-kanan terhampar sawah siap panen yang terendam air. Kami serasa berjalan di tengah-tengah lautan saja.

Seringkali kami menjerit kaget sembari berpegangan erat pada pinggiran bak saat tiba-tiba terjadi goncangan akibat melewati jalan berlubang. Akhirnya setelah melewati perjalanan yang mendebarkan kami pun tiba di tempat tujuan kami tepat pada pukul 09.30. Sepertinya sudah siang untuk ukuran makan pagi.

Tossa berhenti di depan sebuah rumah bercat hijau. Sebuah banner bertulisakan “Posko Bantuan NU Cilacap Peduli” tampak menempel di dinding. Sementara di bawahnya air menggenang setinggi 50 cm membuat kami harus hati-hati berjalan sembari membawa kantung kresek beisi nasi bungkus.

Pendiri Pesantren

Di seberang jalan tampak sebuah gerbang bertuliskan MTs Darussalam. Gedung sekolah tampak menjulang di belakangnya dengan pemandangan tak jauh beda bahkan lebih parah lagi. Air menggenang memenuhi halaman setinggi 50 cm. Namun pandangan saya beralih saat teman-teman relawan membawa kantong menuju belakang rumah di mana saat ini saya berdiri.

Tepat di belakang rumah tersebut, tampak bangunan rumah dengan teras di depannya. di sini masih ada sedikit genangan air. Ada sebuah perahu kayu di sana. Kantong-kantong berisi makanan telah ditaruh di teras. Rupanya inilah rumah pengasuh Pesantren Darussalam.

Sepi, tak terlihat ada aktifitas hanya satu orang santri tampak melintas di depan kami. Saya pun memanggilnya dan bertanya apakah bisa kami bertemu dengan Pak Kiai, ia pun mengangguk seraya pamit undur diri.

Tak lama pintu rumah terbuka dan muncul sosok perempuan sepuh di sebuah kursi roda. Saya menebak mungkin beliaulah ibu nyai. Dan saat kami memasuki rumah ternyata di dalam sudah ada sosok lelaki sepuh berpeci putih yang juga duduk di kursi roda. Beliaulah KH Miftahudin pengasuh Pesantren Darussalam.

KH Miftahudin bersama ibu nyai menyambut hangat kehadiran kami. Dari cerita belaiu kami jadi tahu perihal sepinya pondok. Ternyata para santri tengah mengikuti ziarah wali ke Kudus.

“Semuanya sudah dipersiapkan sejak lama, dan memang hari ini sudah jadwalnya berangkat tidak bisa ditunda lagi. Jadi mau tak mau tetap berangkat meskipun awalnya ragu-ragu karena situasi banjir seperti ini,” tutur beliau.

Awalnya sempat terjadi keraguan di antara para guru dan pengurus pondok. Karena banjir yang tinggi tidak memungkinkan bus masuk ke area pesantren. Sementara jadwal ziarah tidak bisa diundur lagi karena sudah diurus sejka jauh-jauh hari dengan pihak PO.

Di tengah-tengah kebingungan mereka KH Miftahudin mengarahkan agar bus tidak usah masuk ke area pesantren. Jadilah bus menunggu di Desa Danasri yanga aman dari banjir sementara para santri di antar perahu Akhirnya acara ziarohpun bisa tetap berjalan.

Harmonis dengan Banjir

Obrolan kami berlanjut. KH Miftahudin menceritakan bahwa pesantren Darussalam memang langganan banjir  Namun menurutnya banjir kali ini terasa mendadak jadi kurang persiapan.

“Biasanya kalau mau banjir kan ada tanda-tanda. Ada pengumunan dari BMKG, hujan yang turun intens dan terus menerus. Nah kali ini kan hujan semalam saja, tau- tau paginya banjir langsung gede,” tuturnya lagi.

Santri langsung disungsikan ke lantai atas bangungan pesantren mengingat lantai bawah tergenang air. Sebagian santri putri juga ada yang mengungsi di rumah beliau di lantai atas. Namun demikian, KH Miftahudin mengatakan bahwa aktifitas pondok tetap berjalan biasa. Hanya saja sekolah memang terpaksa harus libur.

Beruntung Pesantren Darussalam memiliki satu unit perahu kayu. Perahu ini menjadi alat transportasi yang sangat penting di saat kendaraan bermotor tidak bisa mengakses yang tergenang air dengan ketinggian hingga 1-1,5 meter.

“Alhamdulillah perahu pondok laris dipake warga,” katanya seraya terkekeh.

Masalah terjadi saat dapur pesantren terendam banjir. Akibatnya aktifitas memasak tidak bisa dilakukan. Untuk mengatasi hal tersebut pihaknya meminta bantuan kepada pemerintah desa untuk membantu kebutuhan makan santri.

Ternyata hanya satu kali kiriman makanan sudah berhenti. Beruntung ada dapur umum NU Cilacap Peduli yang rutin mengirim makanan sehingga kebutuhan makan santri bisa terpenuhi.

Penyaluran bantuan untuk Pesantren Darussalam
Penyaluran bantuan dari anggota Komisi E DPR RI Inna Hadia Nala untuk Pesantren Darussalam Klumprit

Selain bantuan makanan, bantuan logistik lainnya berupa bahan makanan, obat-obatan dan selimut juga mengalir. Bantuan datang dari NU Care LAZISNU Cilacap dan juga para donatur yang disalurkan melalui NU Cilacap Peduli.

Sekilas Pesantren Darussalam Klumprit

Pondok Pesantren Darussalam beralamat di Jalan Raya Nusawungu-Jetis RT 02 RW 02 Desa Klumprit Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Adalah pesantren di bawah asuhan KH Miftahudin yang berdiri sejak tahun 1991.

Cikal bakal berdirinya pesantren berawal dari kegiatan keagamaan di Masjid Baiturohman. Di sinilah anak-anak di sekitar Desa Klumprit datang untuk mengaji. Semakin hari semakin banyak bahkan tak sedikit pula yang menginap di masjid.

Atas dasar inilah muncul gagasan mendirikan sebuah pesantren. KH Miftahuddin bersama beberapa tokoh agama yaitu Mbah Kyai Musa, K.H. Zainuddin, K.H. Soim, K. Khotib akhirnya mendirikan pesantren yang bernama Darussalam.

Untuk memperkuat kelembagaan, Pondok Pesantren Darussalam membentuk yayasan yang bernama Darussalam. Dari yayasan inilah pesantren berkembang tidak hanya di bidang Pendidikan agama saja tapi juga Pendidikan umum. Maka berdirilah MTs Darussalam.

Selain itu juga ada jenjang pendidikan untuk anak-anak yaitu TPQ Darussalam. Bahkan belum lama ini juga tengah merintis Pendidikan jenjang menengan atas dengan mendirikan Madrasah Aliyah Darussalam.(Naeli Rokhmah).

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

seventeen − sixteen =

Baca Artiikel Rekomendasi Lainnya
Close
Back to top button