Hukum & Syariah

Membayar Zakat Fitrah Dengan Uang Menurut LBM PBNU

Bagaimana hukum Membayar Zakat Fitrah Dengan Uang Menurut Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU), berikut kutipan rumusan pembayaran zakat fitrah dengan uang selengkapnya.

Zakat Fitrah adalah zakat yang harus dikeluarkan oleh setiap orang Islam pada saat menjelang hari raya ldul Fitri. Menurut pendapat arus utama (mainstream) mazhab Syafi’i-yang dianut mayoritas muslimin Indonesia mengharuskan pembayaran zakat fitrah dengan qutul balad (makanan pokok) yang berupa biji-bijian dan tahan lama.

Di Indonesia serealia pangan utama adalah beras. Bila kita mengikuti pendapat mainstream tersebut, maka kewajiban zakat fitrah dibayar dengan beras yang merupakan bagian dari bahan makanan (min tho’amin). Hal ini sesuai dengan hadits berikut yang artinya: “Dari Abu Said al-Khudri RA berkata: Dulu pada zaman Rasulullah SAW kami menunaikan zakat fitri dengan satu sha’ bahan makanan. Dan Abu Said menyampaikan bahwa bahan makanan kami (pada saat itu adalah gandum, anggur, keju, dan kurma).” (HR. al-Bukhari)

Dalam hadits lain disebutkan yang artinya: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah (bagi manusia) yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan berupa satu sha’ kurma atau satu sha gandum bagi setiap orang merdeka, budak, laki-laki, perempuan, kecil dan dewasa dari segenap muslimin.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dinamika di masyarakat sering kali terjadi kesulitan teknis pembayaran zakat fitrah dengan beras, baik karena masyarakat tidak lagi selalu menempatkan beras sebagai satu-satunya kebutuhan utama penopang hidup layak ataupun karena masyarakat merasa lebih mudah membayarnya dengan uang. Masalah ini sering menjadi pertanyanan masyarakat, terutama soal keabsahan zakat fitrahnya tersebut. Oleh karena itu diperlukan rumusan pembayaran zakat fitrah dengan uang untuk menjawab perubahan kebutuhan umat.

Baca Juga Artikel Terkait Berikut ini

  1. Konsep Amil Zakat Dalam Negara Modern (Hasil Munas NU 2017)
  2. Syarat Amil Zakat (Munas NU 2017 Dan UU Pengelolaan Zakat)
  3. NU Care LAZISNU, Lembaga Amil Zakat Yang Sah Secara Hukum
  4. Prosedur Pengangkatan Amil Zakat Hasil Munas NU 2017
  5. JPZIS, Jaringan Pengelola Zakat Infak Shodaqoh LAZISNU
  6. Pengangkatan JPZIS (Amil Zakat) Oleh NU Care LAZISNU
  7. Panitia Zakat Prakarsa Masyarakat, Sebuah Tinjauan Ulang
  • Argumentasi atas kebolehan pelaksanaan kewajiban zakat fitrah dengan uang sebesar nominal harga beras 2,7 kg/2.5 kg dibangun atas pertimbangan sebagai berikut:

Sebagian ulama menilai tujuan di balik kewajiban zakat sebagai hikmah saja yang tidak mengandung muatan hukum. Meski demikian, sebagian ulama lain yang membolehkan konversi zakat fitrah dari serealia ke bentuk uang menilai hadits Rasulullah SAW berikut ini menjelaskan tentang tujuan di balik diberlakukannya kewajiban zakat fitrah, yakni agar pada hari itu para penerima zakat dapat menikmati hidup selayaknya orang yang mampu. Tentu saja uang akan lebih efektif untuk mewujudkan tujuan zakat tersebut daripada serealia:

Artinya: “Dari Ibnu Umar RA. Rasulullah SAW bersabda, ‘Cukupilah mereka di hari ini, (HR Ad Daruquthni). Di dalam redaksi riwayat imam Al-Baihaqi disebutkan, “Cukupilah mereka sehingga mereka tidak perlu berkeliling (meminta minta) pada hari ini.”

Atas dasar tujuan zakat yang tertuang pada hadits di atas, Imam Abu Hanifah RA mengatakan yang artinya: Andaikan seseorang dalam menunaikan zakat fitrahnya) dengan menyerahkan uang senilai harga gandum, maka hukumnya boleh menurut kami karena sungguh yang menjadi pertimbangan adalah terciptanya kehidupan yang layak (Tujuan) tersebut dapat terwujud dengan penyaluran uang sebagaimana juga dapat terwujud dengan menyerahkan gandum.” (As-Sarakhshi, Al-Mabsuth, Bairut-Dar al-Fikr, cet ke-1, 1421 H/2004 M, juz III, hal. 99).

Pada kitab yang sama, Syekh Abu Ja’far RA menyatakan yang artinya: “Pembayaran zakat fitrah dengan uang adalah pembayaran yang paling baik karena uang paling efektif untuk memberi manfaat kepada faqir. Pasalnya, uang dapat dipakai untuk membeli berbagai barang yang dibutuhkannya.” (As-Sarakhshi, Al-Mabsuth, Bairut-Dar al-Fikr, cet ke-1, 1421 H/2004 M, juz III, hal. 99-100).

Menurut mazhab Hanafi, kadar uang yang dibayarkan harus sesuai dengan harga bahan-bahan makanan yang manshush (disebut dalam teks hadits) sebagai zakat fitrah, yaitu 1 sha’ kurma kering, 1 sha’ sya’ir (jelai-hordeum vulgare), 0,5 sha’ anggur kering dan 0,5 sha’ hinthah (gandum-triticum spelta).

Masyarakat Indonesia-mayoritas pengikut mazhab Syafi’i-diperkenankan untuk melakukan intiqalul mazhab (merangkai pelaksanaaan ibadah dengan cara melompat dari pendapat satu ke lain mazhab) Cara ini dibenarkan oleh sebagian ulama

Dengan demikian, rumusan hukum yang dihasilkan dari konsep intiqalul mazhab berujung pada kebolehan pembayaran zakat fitrah dengan uang karena mengikuti pendapat mazhab Hanafi. Sedangkan nominalnya disesuaikan dengan harga beras 2.5 kg atau 2,7 kg (takaran zakat fitrah dalam mazhab Syafi’i).

Artinya: “Soal perpindahan dari satu ke lain mazhab-meski tidak secara keseluruhan satu rangkaian ibadah-, ulama memiliki tiga pendapat mengenai hukumnya. Sebagian ulama melarang secara mutlak. Sebagian ulama lagi membolehkan secara mutlak Sebagian ulama lain lagi membolehkannya selama tidak menghasilkan formulasi hukum yang bertentangan dengan mak. Apabila bertentangan dengan ijmak, maka perpaduan, mazhab dilarang seperti perkawinan tanpa mas kawin, tanpa wali, dan tanpa saksi. Sungguh perpaduan semacam itu tidak diperbolehkan oleh seorang pun dari kalangan ulama. (Syaikh Nawawi Banten, ats-Tsimar al-Yani’ah, Mesir-Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, tt, h. 13).

  • Seorang ulama dari mazhab Maliki, bernama Syekh Ibnu Qasim memperbolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang. Di dalam mazhab Maliki, timbangan sha’nya memiliki bobot yang sama dengan mazhab Syafi’i. Dengan demikian, masyarakat boleh membayar zakat fitrah dengan uang seharga beras 2,5 kg atau 2,7 kg.

Artinya: “Di dalam kitab al-Mudawwanah, Imam Malik berkata: Tidaklah cukup bagi seseorang yang membayar zakat fitrahnya dalam bentuk uang Syekh Isa meriwayatkan dari imam Ibnu Qasim yang berkata: “Jika seseorang membayar zakat fitrah dengan uang, maka hal itu sudah dianggap cukup (sah) (Muhammad bin Yusuf al-Abdari, al-Taj wa al-Iklil li Mukhtashar Khalil, Bairut- H. juz II, hal 366) Dar al-Fikr, 1398

Dalam hal ini pengikut mazhab Syafi’i diperkenankan untuk mengikuti pendapat ulama dan mazhab Maliki yang membolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang senilai beras 25 kg atau 2.7 kg. Hal ini sesuai dengan keterangan berikut yang artinya: “Di dalam mazhab Imam As-Syafi’i RA tidak diperbolehkan membayar zakat dengan barang lain atas nama harga barter (dari benda yang ditentukan dalam teknik pembayaran zakat). Siapa saja yang ingin menunaikan zakat dengan cara yang tidak dibenarkan dalam pandangan mazhab Syafi’i RA ini dipersilakan untuk bertaqlid kepada ulama dari mazhab lain yang membolehkannya sebagaimana yang difatwakan oleh Syekh Ibnu Hajar dan imam lainnya tentang kebolehan bertaqlid dalam persoalan tersebut.” (as-Sayyid ‘Alawi Ibn as-Sayyid Ahmad as-Saqqaf, Tarsyih al-Mustafidin, Mesir-Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, hal. 154).

Berdasarkan dua argumentasi tersebut, Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) mengeluarkan rekomendasi sebagai berikut;

  1. Yang terbaik dalam menunaikan zakat fitrah adalah pembayaran dengan beras. Adapun satu sha’ versi Imam Nawawi adalah bobot seberat 2,7 kg atau 3,5 liter. Sedangkan ulama lain mengatakan, satu sha’ seberat 2,5 kg.
  2. Masyarakat diperbolehkan pula membayar zakat fitrah dengan menggunakan uang sesuai harga beras 2,7 kg atau 3,5 liter atau 2.5 kg sesuai kualitas beras layak konsumsi oleh masyarakat setempat.
  3. Segenap panitia zakat yang ada di masyarakat baik di mushalla maupun di masjid dianjurkan untuk berkoordinasi dengan LAZISNU terdekat.

Demikian hasil bahtsul masail tentang Pembayaran Zakat Fitrah dengan Uang (Membayar Zakat Fitrah Dengan Uang Menurut LBM PBNU) ini disampaikan untuk menjadi pegangan warga NU khususnya dan umat Islam Indonesia umumnya.

Hukum Zakat Fitrah Dengan Uang

Jakarta 18 Mei 2020
LEMBAGA BAHTSUL MASAIL PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA.
M. Nadjiib Hassan (Ketua)
Sarmidi Husna, MA (Sekretaris)

Tim Perumus:

  1. KH. Afifuddin Muhajir
  2. KH. Ahmad Ishomuddin
  3. KH. Miftah Faqih
  4. KH. Abdul Ghafur Maimun
  5. KH. M. Najib Hassan
  6. KH. Azizi Hasbullah
  7. KH. Abdul Moqsith Ghazali
  8. KH Mahbub Ma’afi
  9. KH Asnawi Ridwan
  10. KH Najb Bukhari
  11. KH Darul Azka
  12. KH. Asyhar Shofwan
  13. KH. Fajar Abdul Basyir
  14. KH. Zaenal Amin
  15. KH. Anis Masduqi
  16. KH. Ahmad Muntaha
  17. H. Sarmidi Husna

Demikian artikel tentang hukum Membayar Zakat Fitrah Dengan Uang Menurut Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU). Naskah lengkap Hasil Bahtsul Masail LBMPBNU tentang Membayar Zakat Fitrah Dengan Uang bisa didownload Di SINI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

one × one =

Back to top button