Membaca Seabad NU MelaIui Lagu-Lagu Slank

NU CILACAP ONLINE – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, bersama Ketua Steering Commitee Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) Erick Tohir, menjelaskan bahwa gelar Puncak Resepsi Satu Abad NU yang dipusatkan di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur pada hari Selasa (7/2/2023), akan diisi berbagai acara mulai dari ritual keagamaan, kuliner, bazaar UMKM hingga hiburan rakyat yang diisi sejumlah artis dalam dan luar negeri. Di antara artis yang akan meramaikan hajatan akbar NU seabad itu adalah Slank.

Sekilas Tentang Grup Musik Slank

Bagi penikmat musik tanah air, nama Slank tentu tak asing. Sebuah grup musik di Indonesia yang dibentuk oleh Bimbim pada 26 Desember 1983. Sebelumnya, Slank berasal dari sebuah grup musik Cikini Stones Complex (CSC), terdiri dari siswa SMA Perguruan Cikini, Jakarta yang lahir pada 25 Desember 1981.

Bila merujuk kepada kelahiran Slank, grup musik ini sudah mencapai usia dewasa 40 tahun. Sementara NU yang berdiri pada 31 Januari 1926 atau bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H memasukI usia 100 tahun. Di sini, NU dan Slank terpaut 60 tahun.

Betapa NU telah menyejarah. NU bukan sekadar bagian dari Indonesia, tapi Indonesia adalah bagian penting dari NU. Tak heran jika Prof Emeritus Mitsuo Nakamura, seorang antropolog Jepang pernah berkata, “Sebagai sebuah organisasi besar, NU yang sudah saya kenal sejak puluhan tahun lalu, rupanya sangat cocok untuk dijadikan model bagi pengembangan organisasi Islam di belahan dunia lain. Dunia Islam dapat mencontoh NU dalam merumuskan hubungan sosial di negaranya.”

Nakamura adalah antropolog yang meneliti NU dan Islam di Indonesia sejak tahun 1970-an. Sederet bukunya diterbitkan dan menjadi rujukan para pakar yang ingin meneropong NU. Artinya, jejak Nakamura dalam melihat NU lebih sepuh dari kelahiran dan sepak terjang Slank.

Baca artikel terkait

Slank juga bukan grup musik kemarin sore di Indonesia. Slank pernah dinobatkan sebagai Tokoh Perubahan Republika di tahun 2015. Tercatat, Slank telah melahirkan lebih dari 20 album, empat album live, enam album the best, beberapa lagu independen, hingga album bertaraf internasional.

Slank adalah grup musik yang bicara tentang apa saja dengan gaya apa saja. Mulai dari membaca dan berdialog dengan diri, sikap, lingkungan, kehidupan berbangsa dan bernegara, hingga menyoal dunia keseharian yang remeh-temeh.

Mungkin terlalu jauh jika membaca Slank dengan menggunakan teori dialektika fundamental Peter L. Berger, mengenai momentum eksternalisasi, internalisasi, dan obyektivasi.

Tapi satu hal, Slank sangat jujur membaca diri, lingkungan, masyarakat, hingga bangsa berikut kebudayaan yang berlangsung di dalamnya. Singkat kata, realitas meskipun pahit, Slank tetap menyanyikannya.

Memaknai Lagu lagu dan Lirik Slank

Bagi para Slanker (penggemar Slank), lirik-lirik Slank tak semata memiliki satu makna. Sejumlah lirik Slank kadang bermakna dua atau tiga hal yang berbeda.

Slank agaknya cukup cerdas membaca ragam realitas yang memiliki premis yang sama namun dalam bentuk peristiwa yang berbeda. Untuk itu, Slank kemudian menyajikan pilihan lirik yang seakan merangkul sejumlah realitas itu dalam satu pilihan diksi dalam lirik-liriknya.

Lagu “Balikin” misalnya. Sebuah lagu yang terdengar seperti hubungan asmara itu ternyata menjadi satu lagu yang menjadi titik awal bagi Bimbim dan Kaka saat ingin kembali sehat dan terlepas dari ketergantungan narkoba.

Mencintai kamu, bisa-bisa membunuh diriku
bikin patah hati terus langsung dicuekkin

Mencintai kamu, sama saja menggantung leherku
bikin sakit hati terus langsung ditinggalin
Balikin oh balikin hati gue kayak dulu

elo harus tanggung jawab kalau gue nanti, nanti mati
Balikin oh oh balikin kehidupanku yang seperti dulu lagi
Balikin oh oh balikin kebebasanku yang seperti dulu lagi

Dalam lirik lagu tersebut terdapat dialog dan ketegangan hingga resistensi. Sebagai teks yang lahir dari grup musik, maka keberadaan aktor tak bisa dilepaskan dari teks-teks yang ada. Ketika Slank menginginkan dirinya kembali seperti dulu, maka NU sejak lama telah menyerukan khittah bagi tubuh NU sendiri.

Saat itu, tahun 1984, NU menyelenggarakan Muktamar ke-27 di Situbondo. Muktamarin berhasil memformulasikan garis-garis perjuangan NU yang sudah lama ada ke dalam formulasi yang disebut sebagai Khittah NU. Kata khittah sendiri berasal dari akar kata khaththa, yang bermakna menulis dan merencanakan. Kata khiththah kemudian bermakna garis dan thariqah atau jalan.

Jika lirik Slank yang berjudul “Balikin” dalam Album Tujuh (1998) itu diselaraskan dengan dinamika NU, dengan meminjam khazanah Syekh Ibn Athaillah dalam Kitab Hikamnya, maka lirik-lirik Slank itu akan berubah sebagai berikut:

Mencintai dunia, bisa-bisa membunuh NU
bikin patah hati trus langsung dicuekkin

Mencintai dunia, sama saja menggantung leherNU
bikin sakit hati trus langsung ditinggalin
Balikin oh balikin NU gue kayak dulu

elo harus tanggung jawab kalau NU nanti, nanti mati

Balikin oh oh balikin NU-ku yang seperti dulu lagi
Balikin oh oh balikin NU-ku yang seperti dulu lagi

Cinta Dunia Menurut KH Agus Sunyoto

Kenapa dengan mencintai dunia? Merujuk kepada penjelasan K. Ng. H. Agus Sunyoto, bahwa pada zaman Walisongo terdapat tujuh struktur atau golongan masyarakat. Golongan tersebut diukur dari keterikatan seseorang dengan kecintaan kepada duniawi (hubbud dunya).

Makin kuat keterikatan dan kemelakatan dengan materi duniawi, posisi mereka menjadi paling rendah. Sementara pribadi yang tak memiliki keterikatan dengan duniawi, posisinya menjadi paling mulia.

Pertama golongan Brahmana. Mereka tinggal di hutan, di pertapaan, tidak punya kekayaan pribadi. Mereka menempati posisi paling tinggi. Yang kedua, golongan Ksatria. Golongan ini tidak diperbolehkan memiliki kekayaan pribadi tapi kehidupan mereka dijamin oleh negara.

Saat itu, jika ada ksatria yang punya kekayaan pribadi disebut ksatria panten, artinya satria yang jatuh martabatnya. Dia tidak boleh dilayani, bahkan bila perlu dikucilkan. Karena sebagai abdi tidak punya hak untuk memiliki kekayaan pribadi.

Lapisan ketiga adalah Waisya. Mereka ini golongan petani. Mereka punya memiliki tugas menumbuhkan tanaman dan menyiapkan makanan untuk manusia. Mereka memiliki derajat rendah karena sudah memiliki rumah, sawah, ternak dan lain-lain.

Keempat adalah golongan Sudra. Menurut Kitab Salokantara dan Nawanadya, yang dimaksud kaum Sudra itu terbagi dalam beberapa kalangan, yaitu saudagar; yakni orang yang memiliki kekayaan lebih.

Pikirannya hanya selalu tentang keuntungan. Kemudian rentenir, yakni orang yang membungakan uang; kemudian orang yang meminjamkan perhiasan, pakaian, termasuk juga tuan tanah dan pemilik aneka kekayaan lain.

Kelima adalah golongan Candala. Yakni orang yang hidup dari membunuh makhluk lain. Mereka terdiri dari tukang Jagal dan pemburu. Bahkan aparat negara yang bergelar Singanegara dan Singamenggala adalah para algojo yang membunuh pelanggar aturan termasuk dalam golongan ini.

Urutan keenam adalah Mleca. Mereka adalah orang asing yang bukan pribumi dan saudagar. Hal ini mengapa Islam tidak mudah diterima masyarakat waktu itu.

Pihak yang membawa Islam ke Nusantara itu orang asing sekaligus sudra karena mereka para saudagar. Golongan yang paling rendah adalah Tuja. Mereka adalah yang hidupnya selalu merugikan masyarakat. Golongan ini terdiri dari penipu, pencuri, perampok, begal, dan sejenisnya.

Khittah NU

Dalam hal ini, jika NU berdiri bukan semata momentum Komite Hijaz sebagai reaksi terhadap keberadaan Wahabi, tapi lebih jauh lagi adalah kelanjutan dari tugas para Walisanga hingga gerakan strategis mengenai penyebaran prinsip tauhid yang mengusung nilai-nilai kemanusiaan.

Bagi Kiai Agus Sunyoto, para Walisongo adalah para Brahmana. Para sunan saat itu tersebut dianggap masyarakat sebagai orang suci karena jauh dan tidak melekat dengan dunia.

Selanjutnya, kita juga dapat membaca NU kembali lewat lirik Slank yang berjudul “Kamu Harus Pulang”. NU sebagai jam’iyyah yang berisi para ulama—kemudian disebut Kiai —seakan berisi ajakan dari para jama’ah NU secara kultural untuk mengajak para Kiainya untuk segera pulang kembali kepada pesantren sebagai basis utama NU.

Kiai ku ayo kita pulang
Waktu hampir jam dua belas malam
NU nggak bisa kemana mana lagi
Karena NU sudah berjanji ho yeah (dalam khittah 1926)

Kiai ku kita harus pulang (khittah)
NU nggak mau nanti disalahkan
Dicap jelek sama negaramu
Dimusuhi sama nasabmu … ho

Kamu harus cepat pulang
Jangan terlambat sampai di pesantren
Kamu harus cepat pulang
Walau sedang nikmati malam ini

Mereka nggak pernah mengerti
Mereka nggak mau mengerti
Mereka nggak akan mengerti
Itu pasti

Kiai ku lupakan saja
Rencana ke tempat hiburan malam
Oh Kiai ku tunggu apa lagi
Jangan tunggu ayam jantan berbunyi

Di kesempatan lain, para ulama NU juga dapat menyampaikan kepada umatnya para nahdliyin dengan meminjam lirik lagu Slank yang berjudul “Virus”. Kita dapat membayangkan bagaimana para ulama di NU menyampaikan hal berikut ini kepada umat:

Aku nggak mau menjadi setan
yang menakutimu

Aku nggak mau menjadi iblis
yang menyesatkanmu

Yang aku mau kau mencoba ‘tuk mengenal aku
Yang aku mau kau belajar ‘tuk mencintai aku (tulus)
dan apa adanya

Aku nggak ingin seperti api
membakar hatimu
Aku nggak ingin seperti duri
yang melukaimu, woo!

Yang aku tahu ku mencoba terbuka
Yang aku tahu ku sengaja ‘tuk s’lalu bicara, jujur
dan apa adanya, oh-oh-oh, yeah, u-woo, yeah

Aku bisa saja menjadi virus yang melumpuhkanmu

Potret Satu Abad NU

Sebenarnya, masih banyak lirik lagu dari Slank yang dapat digunakan untuk membaca sekaligus memotret NU yang kini berusia seabad itu. Ketika Slank didapuk untuk menjadi salah satu penampil dalam perhelatan akbar

Se abad NU, tentu pihak PBNU telah memiliki sejumlah alasan dan pertimbangan yang sangat matang. Semoga pilihan menghadirkan sejumlah artis dalam perhelatan sakral NU bukan dalam konteks kegenitan dan glamor hingga dapat mencerabut akar kultural NU yang berbasis pesantren dan keumatan.

Baca juga Jhon Lennon dan Pesan Kemanusiaan di R20 NU

Artinya, jangan sampai ragam gemerlap dengan segala pernak-pernik yang ditampilkan dalam perhelatan akbar NU malah membuat nahdliyin gelagapan. Sehingga kaum nahdliyin tidak terjebak pada kesadaran bahwa pencapaian suatu keberhasilan itu bukan diukur dari kehidupan yang serba gemerlap dan penuh gebyar.

Bukankah belakangan ini kita sering menyaksikan majelis-majelis pengajian di lingkungan NU makin akrab dengan sorot lampu-lampu panggung seperti Par LED, Moving Beam, Smoke Gun, Freshnell Led hingga Follow Spotlight?

Bisa jadi PBNU tengah mengajak kepada para jamaah NU yang mayoritas Slanker itu untuk dapat membaca NU sebagaimana Slank hadir dan membaca tanah air melalui sejumlah lirik-lirik lagunya.

Sementara ini kita membaca NU Slank, mungkin ke depan kita dapat membaca NU lewat Dewa 19, God Bless, Rhoma Irama, Iwan Fals hingga Didi Kempot. Dan semoga kita bukan hanya membaca NU tapi dapat menghidupi NU sebagai wasilah pengabdian kita kepada Yang Esa dan pengikut setia Baginda Muhammad, Sang Rasul-Nya

Kontributor : KH Abdullah Wong
Editor : Imam Hamidi Antassalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button