Amaliyah & Ubudiyah

Makna “Setiap Amal Manusia adalah Untuknya, Kecuali Puasa”

“Setiap amal manusia adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya”. Kalimat tersebut kurang-lebihnya merupakan terjemah dari satu hadits qudsi yang cukup populer, satu dhawuh Rasūlullãh SAW menceritakan apa yang difirmankan oleh  Allâh Subhanahu Wa Ta’ala.

Mengapa ibadah puasa berbeda dari ibadah yang lain? Bukankah semua ibadah itu dalam rangka “taqarrub” atau mendekatkan diri kepada Allãh SWT? Jawaban singkatnya adalah karena dari sisi pelaksanaan ibadah itu memang berbeda. Dalam bahasa saya sebagaimana pernah saya sampaikan bahwa ada ibadah yang sifatnya aktif dan ada pula yang sifatnya pasif.

Shalat itu ibadah aktif, seseorang ketika shalat maka ia mesti membaca fatihah, ruku’, sujud dan sebagainya. Zakat itu ibadah aktif, Anda bisa dikategorikan orang yang menunaikan ibadah zakat ketika Anda menyerahkan harta zakat kepada yang berhak menerima. Demikian juga haji maupun ibadah-ibadah aktif lainnya.

Berbeda dengan puasa yang justru bentuk ibadahnya adalah “menahan” atau “imsak”. Seseorang dianggap sah berpuasa justru saat ia “tidak melakukan” hal-hal yang membatalkan puasa semisal makan dan minum, tentu dengan memenuhi syarat dan rukun puasa itu.

Karena sifatnya pasif dan tidak ada bentuk aktifitas yang terlihat maka ketika ibadah ini dilakukan tentu lebih minim atau bahkan sama sekali tidak diketahui orang lain. Hanya pelaku puasa dan Allãh SWT saja yang mengetahui seseorang benar-benar berpuasa atau tidak.

Sedangkan untuk kategori ibadah aktif maka potensi riya tentu lebih besar dan sangat mudah karena memang aktifitas ibadahnya terlihat secara kasat mata. Siapapun sangat mudah membelokkan ibadah model ini menjadi sebuah aktifitas yang bermotif “kepentingan” atau sebut saja “modus” ibadah.

Sementara puasa, pilihannya hanya mau jujur atau tidak. Saat seseorang jujur dengan tidak makan dan minum maupun hal lain yang membatalkan puasa artinya ia sedang berkomitmen kepada Allãh SWT bahwa ia “tidak melakukan” sesuatu (yang membatalkan puasa) hanya karena Allãh, murni sebagai bentuk kepatuhan kepada Allãh SWT.

Pada saat yang sama orang ini juga lebih banyak ingat (berdzikir) kepada Allãh SWT karena sepanjang siang ia tidak berani melakukan hal yang membatalkan puasa karena ingat komitmennya dengan  Allãh SWT, dan itu artinya ia selalu ingat atau berdzikir kepada Allãh Subhanahu Wa Ta’ala. Itulah salah satu alasan mengapa puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya; dan itulah makna Makna “Setiap Amal Manusia adalah Untuknya, Kecuali Puasa”

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan (untuk yang sudah mulai puasa). Buat semuanya, semoga kita senantiasa diberi pertolongan oleh Allãh Subhanahu Wa Ta’ala untuk selalu berdzikir, bersyukur dan mampu melaksanakan aneka bentuk ibadah. (Abdal Malik)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button