Amaliyah & Ubudiyah

Semaan (Simaan) Al-Qu’ran: Amaliyah Berlipat Pahala dan Rahmat

Semaan (Simaan) Al-Qur’an adalah tradisi membaca, menyimak dan mendengarkan pembacaan ayat ayat Al-Qur’an; ada yang membaca dan ada yang menyimak; semaan Al-Qur’an telah menjadi tradisi amaliyah / amalan yang masyhur dilaksanakan, karena di dalamnya terkandung rahmat dan bernilai ibadah bagi yang menjalankannya.

Semaan sendiri kurang lebih berasal dari kata simak, menyimak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata menyimak adalah mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang.

Semaan (Simaan) adalah perbuatan menyimak, seperti halnya kata “Shalawatan” yang berarti melantunkan (perbuatan pembacaan) shalawat; Semaan menjadi kata yang khas. Mungkin sebagian lain menggunakan kata Simaan.

Al-Qur’an dan Rahmat

Mengapa tradisi Semaan (Simaan) Al-Qur’an sangat kental terutama di lingkungan Muslim Ahlussunnah Wal Jamaan (Aswaja)? Karena dalam Semaan (Simaan) terdapat kebaikan berlipat ganda; juga rahmat sebagaimana yang Allah SWT janjikan.

Semaan atau Simaan identik dengan kata dalam bahasa arab sami’a. istama’a, yastami’u (dalam beberapa varian kata). Dalam Al Qur’an dinyatakan;

وَاِذَا قُرِئَ الۡقُرۡاٰنُ فَاسۡتَمِعُوۡا لَهٗ وَاَنۡصِتُوۡا لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ

Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.

Dalam ayat tersebut ada perintah; dan sampaikan juga bahwa apabila dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an oleh siapa pun, maka dengarkanlah dengan penuh perhatian, dan diamlah sambil memperhatikan tuntunan-tuntunannya dengan tenang agar kamu mendapat rahmat dari Allah. Jika dibacakan Al-Qur’an, kita diperintahkan mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik di dalam salat maupun di luar salat.

Sementara itu, Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa mendengarkan (dengan sungguh-sungguh) ayat dari Al-Qur’an, dituliskan baginya kebaikan yang berlipat ganda dan barang siapa membacanya, adalah baginya cahaya pada hari Kiamat.” (Riwayat al-Bukhari dan Imam Ahmad dari Abu Hurairah).

Baca Juga >> Hukum, Syarat, Rukun, Sunah Khutbah Jumat dan Adab Khatib

Rasulullah Senang Mendengarkan Bacaan Al-Qur’an

Apakah pahala mendengarkanAl-Qur’an sama dengan pahala orang yang membaca Al-Qur’an? Allah berfirman,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka melakukan tadabbur terhadap ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS. Shad: 29)

Dua ayat ini dan ayat yang semisal, sudah cukup untuk membuktikan bahwa memperhatikan Al-Qur’an adalah amal besar. Karena di antara tujuan Al-Qur’an diturunkan adalah untuk direnungi ayat-ayatnya. Mereka yang melakukan tadabbur, akan mendapat janji akan dirahmati oleh Allah. Dan yang dimaksud mendengarkan di sini adalah memperhatikan dan mentadabburi Al-Qur’an.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga suka mendengarkan Al-Qur’an yang dibacakan oleh para sahabat. Seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu,

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh Ibnu Mas’ud; “Silahkan bacaAl-Qur’an”. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أقْرَأُ عَلَيْكَ، وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟!

“Ya Rasulullah, saya membaca Al-Qur’an di depan Anda, padahal Al-Qur’an diturunkan kepada Anda?!”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي

“Aku senang mendengarkan Al-Qur’an dari bacaan orang lain.”

Menyimak dan Membaca Al-Qur’an

Ada yang membaca dan ada yang menyimak (bacaan) Al-Qur’an; inilah praktik baik tradisi Semaan (Simaan) yang berkembang di masyarakat Muslim.

Dalam praktiknya, penyimak bacaan Al-Qur’an dalam Semaan (Simaan) mengambil sikap diam (tidak bergerak-gerak); cenderung khusyu dan mengedepankan pandangan mata tertuju pada rangkaian ayat ayat Al-Qur’an.

Meskipun tampak terdiam, namun sejatinya para penyimak bacaan Al-Qur’an cenderung ikut melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara sangat rendah. Bisa jadi bahkan dengan suara dalam hati. Sementara pendengarannya terjaga.

Antara pandangan mata dengan pendengaran yang terjaga, para penyimak Semaan (Simaan) Al-Qur’an dalam tempo tertentu; bisa “mengoreksi” bacaan ayat-ayat yang keliru dalam pembacaan oleh pembaca Al-Qur’an. Biasanya seorang yang hafal Al-Qur’an. Jadi, antara yang membaca dan yang menyimak (bacaan) Al-Qur’an terjadi interaksi saling memengaruhi. Setidaknya untuk kelancaraan jalannya Semaan (Simaan) Al-Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button