Gus Shoiman: Puasa Membentuk Karakter Bertakwa, Bagaiman Caranya?

NU CILACAP ONLINE – Secara esensi, orang yang bertakwa adalah mereka yang memiliki rasa takut untuk bermaksiat kepada Allah SWT. Namun, muncul pertanyaan penting; ‘Bagaimana mekanisme puasa mampu membentuk karakter tersebut?’ Simak paparan Wakil ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap KH Shoiman Nawawi.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).
Ayat ini secara lugas menegaskan bahwa ibadah puasa bukan sekadar rutinitas tanpa makna, melainkan sebuah instrumen spiritual dengan tujuan akhir (maqasid) yang sangat spesifik, yakni mencetak pribadi yang bertakwa.
Secara esensi, orang yang bertakwa adalah mereka yang memiliki rasa takut untuk bermaksiat kepada Allah SWT. Namun, muncul pertanyaan penting: bagaimana mekanisme puasa mampu membentuk karakter tersebut?
Puasa sebagai Pemecah Syahwat
Dalam Kitab Tafsir Jalalain, karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi, dijelaskan bahwa puasa berfungsi sebagai metode untuk memutus atau memecah kekuatan syahwat. Baca juga KH Shoiman Nawawi; Amalan yang Bikin Puasa Makin Berkah
Logikanya sederhana. Keinginan atau nafsu manusia cenderung meluap-luap saat fisik dalam kondisi prima dan kenyang. Baca juga Hakekat Puasa
Sebaliknya, saat perut kosong karena berpuasa, tubuh menjadi lemas dan energi untuk melakukan kemaksiatan pun melemah. Baca juga khutbah Bahasa Sunda; Hakekat Puasa
Dengan menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, kita sebenarnya sedang mendidik fisik agar tidak lagi dominan dalam mengejar keinginan-keinginan negatif.
Di sinilah letak rahasianya, ketika syahwat yang berorientasi negatif itu “pecah” atau melemah, maka ruang dalam jiwa kita akan diisi oleh dorongan-dorongan yang positif.
Kejujuran dan Kemandirian Karakter
Bulan Ramadhan adalah masa di mana setan dibelenggu. Ini merupakan peluang emas bagi manusia untuk kembali pada kesucian.
Namun, ada satu pelajaran penting tentang karakter di sini. Jika seseorang masih melakukan maksiat di bulan Ramadhan saat setan sedang dibelenggu, maka itu adalah cerminan dari karakter aslinya yang telah terbentuk selama 11 bulan sebelumnya.
Puasa melatih kita untuk jujur pada diri sendiri dan Tuhan. Melalui puasa, kita diajak untuk menaklukkan ego dan nafsu kita sendiri tanpa pengaruh godaan luar yang masif, sehingga kita bisa benar-benar melihat kualitas ketakwaan kita yang sesungguhnya.
Ketika fisik melemah karena lapar, memang aktivitas fisik mungkin berkurang, namun hal ini tidak boleh menjadi penghalang untuk berbuat baik.
Justru, saat keinginan negatif sudah diredam, akan muncul gairah baru untuk melaksanakan ibadah, baik yang bersifat mahdhah (hubungan langsung dengan Allah) maupun ibadah sosial.
Seseorang yang puasanya berhasil akan merasakan dorongan kuat untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an, melaksanakan shalat tarawih, serta shalat sunnah lainnya.
Tidak hanya itu, kepekaan sosialnya pun meningkat. Karena syahwat diri sudah pecah, muncul keinginan untuk berbagi dan membantu sesama sebagai bentuk syukur dan solidaritas.
Agar puasa kita benar-benar mengantarkan pada derajat la’allakum tattaqun, kita harus memahami puasa sebagai sebuah metode pengendalian diri.
Tips utamanya adalah:
Hayati setiap rasa lapar sebagai cara untuk melemahkan keinginan buruk (syahwat negatif).
Gunakan momentum melemahnya syahwat tersebut untuk menguatkan orientasi positif dalam diri.
Jadikan kelemahan fisik sebagai kekuatan spiritual untuk lebih dekat kepada Allah dan lebih peduli pada sesama.
Dengan demikian, puasa tidak hanya menjadi ritual menahan lapar, tetapi menjadi proses pendidikan karakter yang melahirkan pribadi yang takut bermaksiat dan gemar menebar kebaikan.
Sumber: Tausiyah Ramadhan berjudul ‘Puasa Membentuk Karakter Bertakwa, Apa Tipsnya?





