Innalillahi, KH Abdul Halim Mahfudz, Wartawan, Cicit pendiri NU Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari, Wafat

NUCOM — Dunia pesantren dan jurnalistik Indonesia berduka. Pengasuh Pesantren Salafiyah Seblak, Diwek, Jombang. Wartawan, yang merupakan Cicit Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari tokoh pendiri NU, KH Abdul Halim Mahfudz (Gus Iim), wafat pada Rabu, 8 April 2026. Innalillahi wainnailaihi rajiun!
Kepergian Gus lim meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, serta masyarakat luas.
Almarhum wafat saat menjalani perawatan di RSUD dr. Soedono Madiun. Gus Bahar putra kedua, menuturkan ayahnya terakhir menghembuskan nafas pukul 10.15 WIB.
“Terima kasih atas perhatian, dan doa selama ayahnya dalam perawatan hingga wafatnya,” tuturnya.
Anak pertama almarhum, Aditya Rahman, menyampaikan bahwa sudah sekitar setahun, dan kali ini serangan jantung yang kedua.
“Tahun lalu sempat terjadi juga saat bulan puasa, namun kondisinya masih cukup kuat untuk pulih,” ucapnya.
Kesehatan beliau pun semakin menurun setelah adanya gangguan pada ginjal yang memperparah penyakit jantungnya.
“Saat akan ada tindakan pemasangan ring jantung, baru diketahui ginjalnya juga bermasalah, sehingga terjadi komplikasi,” katanya.
Almarhum dirawat sejak 24 Maret 2026 dan menjalani perawatan selama sekitar dua pekan sebelum akhirnya wafat.
Sosok yang dekat dengan santri dan masyarakat, tampak ratusan pelayat memadati area kediamannya. Jenazah disalatkan di Masjid Pesantren lalu menuju peristirahatan terakhirnya di pemakaman keluarga dekat pesantren.
Secara bergotong royong seraya berkumandang bacaan tahlil, langit pun gerimis. Turut bersedih akan kepergiannya.
Fenomena alam ini seringkali, dan lazim terjadi ketika seorang mukmin yang saleh wafat, pintu langit tempat yang dia biasa kunjungi beribadah, merasa kehilangan dan menangis.
Lahu Alfatihah.
Wartawan Flamboyan
Meskipun lahir dan dibesarkan oleh keluarga pesantren, Gus Iim yang flamboyan ini bisa bergaul dengan siapa saja.
Sikap sederhana tersebut terlihat ketika dalam kerjanya sebagai wartawan pada Harian Surya, Surabaya. Dan dunia (wartawan) telah mematri namanya.
Tetapi di akhir hidupnya, Gus Iim tidak lepas dari dunia pesantren. Jagat luar terus diperhatikan. Dari ruang dan sudut pesantren yang diasuhnya, pesantren yang penuh keberagaman.
Di sebuah sudut Jombang yang sarat sejarah, namanya tumbuh di tengah denyut pesantren dan semangat keilmuan seperti hujan yang menyiram tunas peradaban, dan tak kunjung padam.
Beliau Lahir pada 17 Juli 1954, Gus Iim bukan hanya pewaris darah biru pesantren, tetapi juga penjaga nilai dan pemikir masa depan tentang bagaimana keberkahan bisa hadir dalam dunia kewirausahaan modern.
Pewaris Nasab dan Tradisi Pesantren
Gus Iim dalah putra dari KH Mahfudz Anwar dan Nyai Abidah. Dari garis keturunan ibunya, Gus Im masih merupakan cicit dari pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari Tebuireng.
Ibundanya, Nyai Abidah, adalah putri dari KH Ma’shum Ali dan Nyai Choiriyah, yang tak lain adalah putri KH Hasyim Asy’ari.
Jejak darah ulama itu menjadikan Gus Iim tak sekadar pewaris nasab. Tetapi, juga penerus tradisi keilmuan dan tanggung jawab moral keluarga besar pesantren.
Ayahandanya, KH Mahfudz Anwar, dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang, dan menjadi pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Seblak, pesantren legendaris yang didirikan KH Ma’shum Ali, mertua sekaligus guru beliau.
Tak heran bila Gus Iim tumbuh dalam lingkungan yang menyatu antara ilmu, spiritualitas, dan pengabdian.
Jejak Langkah dari Seblak ke Cornell
Pendidikan Gus Iim bermula dari Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Parimono, Jombang (1966). Lalu berlanjut ke Pendidikan Guru Agama (PGA) empat tahun dan kemudian Sekolah Persiapan (SP) IAIN Jombang pada 1971.
Kisah pendidikannya pun berlanjut, Ayahnya mengirimnya untuk nyantri ke Lasem kepada KH Maksum, sahabat sang ayah.
Belajar bukan hanya ilmu agama, tapi juga kesahajaan seorang kiai, dari cara menyimak, melayani, hingga melinting tembakau untuk gurunya.
“Belajar bukan sekadar dari kitab, tapi dari tutur dan laku,” begitu ia pernah mengenang.
Selepas SP IAIN, Gus Iim melanjutkan ke Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya dan mulai mengajar Bahasa Inggris di Lembaga Bahasa IAIN.
Menjadi guru MAN Surabaya, dan MAN Sidoarjo. Tahun 1985, mengikuti program Southeast Asian Student Leaders di Amerika Serikat, pengalaman inilah yang membuka matanya tentang makna nilai-nilai Islam dalam konteks global.
Tiga tahun kemudian, berangkat ke Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat, untuk mempelajari Sejarah Asia Tenggara.
Dalam dunia kampus yang sarat intelektual itu, beliau memperdalam pandangannya tentang ilmu politik, sosial dan nilai etika lintas budaya, bekal penting yang kelak menjadi bekal ilmu saat pulang ke tanah air.
Membangun dan Mengembangkan Nilai
Sekembalinya ke Indonesia, Gus Iim sempat meniti karier pada dunia profesional. Bergabunglah jadi wartawan pada Harian Surya Surabaya, lalu hijrah ke Jakarta. Bekerja untuk lembaga-lembaga internasional seperti The Asia Foundation, Burson-Marsteller, Coca-Cola Indonesia, dan Standard Chartered Bank.
Namun, darah pesantren dalam dirinya memanggil kembali. Sejak 2017, mulai mengelola Yayasan Pendidikan dan Pesantren ROHMAH serta mengasuh Pesantren Seblak, tempat kakek buyutnya dulu mengabdi.
Gus Iim selain sebagai penggerak pendidikan halalpreneurship, sebuah konsep yang menjembatani nilai-nilai pesantren dengan semangat kewirausahaan modern.
“Di kelas saya, ada empat puluh mahasiswa dari beragam latar belakang. Menariknya, hanya dua belas orang yang beragama Islam. Tapi justru dari keberagaman itulah saya melihat sesuatu yang berharga, yakni toleransi yang tumbuh dengan alami. Tidak ada sekat keyakinan, yang ada hanyalah rasa saling menghargai,” ujarnya, sebagaimana mengutip ngopibareng.id dari beberapa sumber.
Almarhum yang wartawan ini, gemar bermain musik terutama gitar. Beliau meninggalkan seorang istri dan tiga anak.
Selamat Jalan Gus Iim, semoga Allah SWT menerima segala amal baik panjenengan.
Baca juga: Innalillahi, Budayawan Lesbumi NU KH Abdullah Wong Wafat
Innalillah, Sutak Wardiono, Seniman Serba Bisa Malang, Wafat
Innalillahi, Ketua PBNU 2010 – 2021, Tokoh Multikultural, KH Imam Aziz Wafat





