Konflik Petinggi PBNU, Sikap Mengejutkan Kiai Sepuh

NU Cilacap Online –  Para ulama sepuh NU yang selama ini menjadi penyangga moral warga nahdliyin, dan kemaslahatan NU sebagai jami’iyah, menunjukkan sikap yang mengejutkan kepada para petinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang akhir-akhir ini lagi berkonflik.

Konfik para petinggi elite PBNU jelas mempengaruhi sikap dan pemikiran sesepuh NU seluruhnya, terutama ulama sepuh Jawa Timur.

Para kiai sepuh itu enggan menerima silaturahmi petinggi PBNU yang lagi berseteru, terlibat konflik.

Sikap dingin para kiai sepuh mulai terbaca ketika mereka, para kiai sepuh tahu bahwa para petinggi elite PBNU melakukan upaya sowan secara terencana, dan beruntun, keberbagai pesantren dan pengurus baik wilayah (PWNU) maupun cabang (PCNU).

Sebut saja Gus Ipul dan Gus Yahya ketika hendak melakukan upaya sowan beruntun ke berbagai pesantren di Jawa Timur, termasuk Pondok Pesantren Lirboyo dan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri.

Langkah keduanya jelasnya dinilai sebagai upaya mencari legitimasi di tengah perseteruan, kekisruhan para elite PBNU yang hingga kini belum menemukan solusi.

Diketahui, Selasa, 25 November 2025, Gus Ipul terlebih dulu sowan ke PCNU Kediri lalu Pesantren Lirboyo sebelum melanjutkan perjalanan ke Al-Falah Ploso untuk menemui KH Nurul Huda Djazuli (Mbah Dah), salah satu kiai sepuh yang dihormati dalam tradisi keulamaan NU.

Namun, kunjungannya itu tidak membuahkan hasil, karena ketidak berkenannya kiai, Mbah Dah tidak berkenan menemui.

Dua hari berselang, Kamis, 27 November 2025, giliran Gus Yahya juga menempuh langkah yang serupa.

Namun, hasilnya sama saja, identik, namun demikian, mereka hanya bisa diterima oleh Gus Kautsar, putra Mbah Dah, tanpa bisa bertemu langsung dengan sang kiai sepuh.

“Mbah yai tidak mau menemui, ketemunya sama Gus Kautsar,” kata narasumber yang tidak berkenan diketahui identitasnya, Senin (1/12).

Sikap serempak para kiai sepuh itu mulai terbaca, jadi penanda sebagai isyarat keras bahwa mereka tidak ingin terseret dalam politik perseteruan, konflik kubu-kubuan.

Di tengah kekisruhan para elite PBNU, sikap non-kooperatif para ulama sepuh NU itu justru muncul sebagai pesan paling lantang:

“Sudah saatnya petinggi PBNU Eling, balik ngumah, kembali melakukan pembenahan menyeluruh agar tidak terjebak dalam ‘politik bara tarik tambang’ yang berkepanjangan, dan menjauh dari ruh perjuangan para muassis.” (IHA).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button