Butterfly Hug, Teknik Menenangkan Diri untuk Keluarga Pekerja Migran

NU CILACAP ONLINE – Peserta pelatihan di Desa Bojongsari, Kecamatan Kedungreja, Cilacap, tampak khusyuk mempraktikkan teknik menenangkan diri yang diajarkan fasilitator.

Dengan tangan menyilang di dada dan mata terpejam, mereka memberikan tepukan lembut secara bergantian di bahu kiri dan kanan. Gerakan sederhana ini dikenal sebagai Butterfly Hug, sebuah metode self-soothing yang diperkenalkan dalam Pelatihan Psikososial Lakpesdam NU.

Apa Itu Butterfly Hug dan Manfaatnya?

Butterfly Hug merupakan teknik mengelola stres dan kecemasan yang berasal dari pendekatan terapi Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR). Teknik ini efektif untuk meredakan gejolak emosi, rasa cemas berlebihan, dan dampak trauma ringan.

“Caranya mudah, diawali dengan memejamkan mata dan menyilangkan tangan di dada. Kemudian, berikan tepukan lembut dan bergantian di area bahu atau lengan atas, kiri dan kanan, seperti sayap kupu-kupu. Lakukan sambil mengatur napas dan mengucapkan afirmasi positif dalam hati,” jelas Imas Kurniawati, fasilitator pelatihan dari Lakpesdam NU.

Praktik ini, lanjutnya, dapat membantu menenangkan pikiran dengan cepat kapan saja dan di mana saja.

Baca juga : Tiga Hal Krusial dalam Sistem Perlindungan Pekerja Migran

Pelatihan Psikososial untuk Komunitas Rentan di Cilacap

Pelatihan yang mengajarkan teknik Butterfly Hug ini merupakan bagian dari Program Penguatan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Berbasis Komunitas (P2MI-BK). Program ini merupakan kolaborasi antara Lakpesdam PBNU, GIZ, dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI).

Di Kabupaten Cilacap, kegiatan dilaksanakan di tiga lokasi, yakni Desa Glempangpasir (Adipala), Desa Sidaurip (Binangun), dan Desa Bojongsari (Kedungreja). Sebanyak 25 peserta per desa diajak untuk langsung mempraktikkan berbagai metode kesehatan mental berbasis komunitas.

Bekal Ketangguhan Mental bagi Keluarga Pekerja Migran

Menurut Ketua Lakpesdam PCNU Cilacap, Ismah, pelatihan semacam ini sangat penting sebagai bekal ketahanan mental.

“Keluarga pekerja migran Indonesia (PMI) termasuk kelompok yang rentan menghadapi tekanan, baik yang berangkat maupun yang ditinggalkan. Tantangan muncul mulai dari masa pra-penempatan, selama bekerja, hingga pasca-pulang ke tanah air. Di rumah, keluarga juga menghadapi persoalan pola asuh anak, dinamika hubungan keluarga, dan beban psikologis,” ujarnya.

Melalui pendampingan berbasis komunitas, Lakpesdam NU berupaya memberikan alat yang mudah dan terjangkau untuk menjaga kesehatan mental. Butterfly Hug dipilih karena kesederhanaannya, sehingga dapat dipraktikkan siapa saja sebagai pertolongan pertama psikologis dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button