Abit-abitan Bola Api: Ketika Muharam Menyala, Anak Jawa Disunat Sebelum Dewasa

NUCOM – Muharam tiba. Kalender Hijriah berganti lembaran, tapi di tanah Jawa suasananya lebih dari sekadar refleksi tahunan. Abit-abitan Bola Api, Muharam pun Menyala, Anak Jawa Disunat Sebelum Dewasa. Islam dan budaya Jawa berjalan beriringan; iman dijaga, seni dirawat, anak dimuliakan.

Bagi masyarakat Islam Jawa, Muharam termasuk Asyhurul Hurum – empat bulan mulia yang dimuliakan Allah SWT bersama Zulkaidah, Zulhijah, dan Rajab. Di bulan-bulan ini amal dilipatgandakan, larangan berbuat zalim ditegaskan, dan syukur dirayakan dengan cara yang paling membumi: syukuran.

Tahun ini, Warga Cigaru, Salebu dan sekitar Majenang Raya Cilacap kembali menghidupkan salah satu warisan paling indah: tradisi abit-abitan. Jelang anak-anak disunat, orang tua menggelar pesta kebahagiaan. Ada bola api yang berpendar, ada kuda yang berderap, ada sholawat yang menggema sepanjang 2-3 kilometer. Tujuannya satu: membahagiakan anak dulu, baru kemudian dia siap menjalani sunnah khitan.

Seni Keberanian: Bola Api dan Pencak Silat

Abit-abitan bukan tradisi baru. Ia sudah turun-temurun, lahir dari kearifan Jawa yang percaya: anak manut bukan karena takut, tapi karena bahagia.

Puncaknya adalah atraksi bola api. Para pesilat memainkan bola api – dilempar, diputar, dipencak – diiringi sorak dan gendang warga. Api menari di malam Muharam, menjadi tontonan meriah sekaligus simbol: keberanian itu bisa dilatih lewat suka cita.

“Ini cara kami membahagiakan anak sebelum dikhitani. Anak itu biar bahagia dulu sebelum merasakan sakitnya dikhitani,” ujar Imam Wahyudi, sohibul hajat warga Cigaru, Cibeunying, Majenang.

Arak-arakan Kuda: Anak Jadi Raja Sehari

Usai puas menonton bola api, giliran si calon khitan naik tahta. Anak dinaikkan ke punggung kuda yang dihias indah. Ia diarak warga dari titik kumpul Balai Desa Salebu, menyusuri jalan sejauh 2-3 kilometer hingga kediaman sohibul hajat di Cigaru.

Sepanjang rute, drumband, gendang, dan sholawat mengiringi. Anak di atas kuda tersenyum, melambaikan tangan kepada tetangga. Bagi orang Jawa, ini bukan sekadar pawai. Ini pelajaran hidup: sunat bukan hukuman, tapi gerbang menuju kedewasaan yang dirayakan bersama keluarga dan masyarakat.

Pengetahuan dan Nilai Agama di Balik Tradisi

Secara fikih, khitan adalah sunnah muakkadah bagi laki-laki, tanda kesucian dan pembeda umat Islam. Secara budaya Jawa, momen itu dibungkus dengan seni. Asyhurul Hurum dipilih karena bulan-bulan mulia adalah waktu terbaik menanam kebaikan. Maka syukuran khitanan di Muharam menjadi doa: semoga anak tumbuh suci lahir batin, berani dalam kebenaran, dan taat kepada orang tua.

Abit-abitan dengan bola api menyimpan pesan psikologis yang dalam. Anak diajari bahwa hal besar bisa dihadapi dengan hati lapang. Tawa mendahului air mata. Keberanian lahir dari rasa aman, bukan dari intimidasi.

“Ini tradisi lokal masyarakat, sudah lama berlangsung. Tujuannya meriahkan dan bahagiakan anak,” kata salah satu tokoh adat setempat.

Menjaga Warisan, Menguatkan Iman

Di tengah gempuran hiburan digital, Warga Cigaru, Salebu, Majenang memilih cara leluhur: api, kuda, dan kebersamaan. Tanpa mengurangi esensi syariat, tradisi ini justru memperkaya. Ia membuktikan Islam dan budaya Jawa bisa berjalan beriringan – iman dijaga, seni dirawat, anak dimuliakan.

Dan Muharam pun menjadi lebih dari sekadar pergantian angka. Ia jadi saksi bahwa cinta orang tua, doa masyarakat, dan kearifan lokal bisa menyatu dalam kobaran bola api yang menghangatkan, bukan membakar.

Karena pada akhirnya, anak yang disambut dengan tawa dan doa, insyaAllah akan melangkah ke masa depan dengan hati yang lebih berani dan lebih taat. (IHA)

Baca juga: Lesbumi, Kebudayaan, dan Jalan Perjuangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button