Hukum & Syariah

5 Keunikan Bahtsul Masail NU Menurut KH Suhud Mawardi

Ada 5 keunikan pada kegiatan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (NU), demikian ungkap Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kawunganten KH Suhud Mawardi, yang disampaikannya kepda NU Cilacap Online dalam forum Bahtsul Masail LBMNU Cilacap, yang digelar pada hari Ahad (22/08).

Bahtsul Masail yang digelar di Masjid Sayyidatul Khotijah Tanjungsari Desa Mentasan Kawunganten ini menjadi kegiatan rutin MWCNU Kawunganten setiap Ahad Kliwon. Kegiatan tersebut diikuti oleh kalangan kiai NU di wilayah Kecamatan Kawunganten.

Bahtsul Masail sebagai forum diskusi ilmiah tradisi di kalangan pesantren dan kiai NU memiliki keunikan tersendiri. KH Suhud Mawardi mengungkapkan bahwa Bahtsul Masail merupakan sebuah forum diskusi antar ahli keilmuan Islam. Utamanya fikih di lingkungan pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Di forum Bahtsul Masail ini, berbagai macam persoalan keagamaan yang belum ada hukumnya atau belum dibahas oleh ulama terdahulu, dibahas secara mendalam.

“Bahtsul Masail menurut Kiai Sahal Mahfudh adalah ganti dari istilah istinbath dan ijtihad di lingkungan NU,” kata KH Suhud Mawardi.

Mengutip pendapat KH Sahal Mahfudh, KH Suhud Mawardi menyebutkan bahwa Bahtsul Masail tidak berbeda dengan istinbath (pengambilan hukum) atau ijtihad. Karena kedua istilah tersebut cenderung “wah” di lingkungan pesantren NU, maka kemudian digunakan istilah Bahstul Masail.

“Di lingkungan organisasi NU tidak berani memakai istilah itu (istinbath atau ijtihad, red.), maka dibuatlah istilah Bahtsul Masail,” jelasnya.

5 keunikan atau kekhasan bahtsul masail NU apa saja

Selanjutnya, KH Suhud Mawardi mengungkapkan 5 keunikan atau kekhasan Bahtsul Masail NU, apa saja, berikut ini penjelasannya;

  1. Konsep bersama-sama (jama’i). Forum Bahtsul Masail yang diselenggarakan di lingkungan NU pasti melibatkan banyak orang dari berbagai macam disiplin ilmu seperti fiqih, ushul fiqih, hadist, dan lainnya. Di sini, sebuah persoalan dilihat dan ditinjau secara komprehensif. “Di Kalangan NU, penetapan hukum Islam tidak ditentukan pribadi, tapi bareng-bareng,” jelasnya.
  2. Bahtsul Masail NU Tidak mengutip langsung Al-Qur’an dan hadist. KH Suhud Mawardi mengatakan, adalah sesuatu yang berbahaya kalau merujuk langsung kepada Al-Qur’an. Mengapa? Al-Qur’an itu memiliki makna dan tafsiran yang banyak sekali. Kalau langsung mengutip Al-Qur’an, maka dikhawatirkan akan merujuk arti yang satu yaitu arti terjemahan.
  3. Bahtsul Masail NU Mengutip pendapat ulama secara qouliyah. Di forum-forum bahtsul masail, para peserta seringkali merujuk kepada pendapat ulama terdahulu dalam menyikapi sebuah masalah. Biasanya mereka ‘menarik pendapat terdahulu dengan persoalan yang sedang terjadi saat ini. Bagi kelompok nyinyir. Mereka dianggap tidak kreatif karena hanya mengutip ulama terdahulu. Sebetulnya bahtsul masail itu ilmiah. Di kajian-kajian akademik, ada kajian studi terdahulu. Begitu pun bahtsul masail. Itu sah dan ilmiah dalam dunia akademis.
  4. Bahtsul Masail NU selalu mengutip teks-teks berbahasa Arab. Bagi KH Suhud Mawardi, ini adalah sesuatu yang problematis karena yang dikutip dalam bahtsul masail hanya kitab-kitab yang berbahasa Arab. Sedangkan, banyak kiai dan ulama NU yang menulis dalam bahasa Indonesia dan pegon. Namun karena karya tersebut ditulis di luar bahasa Arab, maka tidak dikutip. Padahal isinya tidak kalah dengan yang berbahasa Arab. Bahkan bisa saja lebih berisi. Tulisan-tulisan Kiai Sahal Mahfudh dan Gus Mus yang berbahasa Indonesia tidak akan ditulis di bahtsul masail, ujar KH Suhud Mawardi mencontohkan
  5. Anggotanya atau peserta Bahtsul Masail tidak tetap. Para anggota yang bersidang di sebuah forum bahtsul masail tidak lah tetap. Biasanya mereka berganti-ganti. Namun yang pasti, anggota yang ikut bersidang dalam bahtsul masail memiliki kecakapan dalam bidang keilmuan Islam. KH Suhud Mawardi mencontohkan, di Majelis Wakil Cabang Nadlatul Ulama (MWCNU) Kawunganten ada Lembaga Bahtsul Masail, namun mereka hanya bertugas sebagai panitia penyelenggara. Sedangkan pesertanya terdiri dari kiai-kiai di seluruh pesantren NU di wilayah MWCNU Kawunganten.

Demikian 5 Keunikan Bahtsul Masail NU, semoga bermanfaat dan mendatangkan wawasan baru bagi pembaca semuanya.

Kontributor: Sohibul Faih

Artikel Terkait

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button