Antologi NU

Tulisan Nahdlatul Ulama yang Benar, Ikhtiar Mengulik Kata

Tulisan Nahdlatul Ulama kadang ada yang belum tepat, masih keliru atau belum benar; lalu bagaimana dan apakah ada ketentuan tentang tulisan kata penulisan Nahdlatul Ulama yang benar?

Artikel ke-NU-an kali ini membahas sepinta tentang tulisan Nahdlatul Ulama, dengan tujuan untuk memberikan pemahaman yang benar; dan membiasakan penggunaan tulisan yang benar pula.

Kata Nahdlatul Ulama

Kosakata dalam bahasa Indonesia memang diketahui memiliki sejumlah banyak kata yang merupakan serapan dan pemungutan kata dari bahasa Arab. Pengaruh bahasa Arab juga sangat terasa dalam kosakata bahasa Indonesia. Ini antara Iain terlihat dalam kamus-kamus ekabahasa, seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Ada sebuah buku, berjudul Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia: di dalamnya berisi kajian tentang Pemungutan Bahasa dan mencoba meneropong bagaimana pemungutan bahasa Arab terjadi dalam bahasa Indonesia. Buku tersebut dituiis oleh Abdul Gaffar Ruskhan.

Kata Nahdlatul Ulama berasal dari bahasa Arab;  نَهْضَةُ الْعُلَمَاءْ Nahdlat Al-Ulama; ini seperti kata Masjidil Haram yang asal kata dalam bahasa Arabnya Masjid Al Haram. Dari kata Nahdlat Al-Ulama menjadi Nahdlatul Ulama ada porses serapan ke dalam penulisan ke dalam bahasa Indonesia.

Struktur kata “Nahdlat” merupakan gabungan dari huruf Nun, Ha, Dlod dan Ta (Marbutoh); sedang Al-Ulama terdiri dari gabungan huruf Alif-Lam (Al Ma’rifat), huruf ‘Ain (ain), Lam, Mim dengan Alif dan huruf Hamzah. Kata Ulama kadang ditulis dengan Ulama atau ‘Ulama (dengan tanda petik di depannya).

Penelusuran yang demikian itulah kiranya, yang bisa menjadi pembenar (berdasarkan dokumen resmi organisasi NU); tentang tulisan Nahdlatul Ulama yang benar dalam Bahasa Indonesia, hingga saat ini

Transliterasi Naḥḍatul ‘Ulama

Tulisan Nahdlatul Ulama yang benar kurang lebih mengikuti ketentuan seperti tersebut di atas, dari sisi tinjauan struktur huruf dan kata yang membentuknya. Bisa saja ada hasil berbeda saat menggunakan ketentuan dan pedoman transliterasi (alih aksara) dari bahasa Arab ke Bahasa Indonesia.

Baca juga : Penulisan Singkatan Tingkatan Organisasi NU Yang Benar

Misalnya, kata “Nahdlat” di dalamnya ada huruf “Ha” dan huruf “Dad”. Jika mengikuti pedoman transliterasi, maka huruf “Dad” ditulis dengan hurud “d” dengan “titik di bawah”nya, juga “ha” dengan titik di bawahnya. Sehingga tulisan Nahdlatul Ulama menjadi “Naḥḍatul Ulamā“.

Jika memenuhi ketentuan penulisan lewat pedoman Transliterasi di atas, maka tulisan Nahdlatul Ulama yang benar adalah Naḥḍatul ‘Ulamā; di mana huruf ‘ain pada kata Ulama disematkan koma terbalik (di atas) menempel pada huruf “U”.

Yang menarik pada kata Nahdlatul Ulama dalam bahasa Indonesia antara lain penggunaan dua huruf D dan L (DL/dl) sebagai pengganti huruf “Ḍad” dalam bahasa Arab; sementara dalam transliterasi, huruf “Ḍad” tidak ditulis dengan huruf “DL” di dalamnya, melainkan dengan “huruf D dengan titik di bawahnya”.

Nahdlatoel Oelama

Admin NU Cilacap Online mencoba menelusuri asal muasal penggunaan dua huruf D dan L dalam kata “Nahdlatul”; dan sejauh ini hanya satu dokumen pokok, resmi yang bisa menjadi sumber eferensi atau rujukan; yaitu Statuten Perkoempoelan Nahdlatoel Oelama 1926.

Kalimat Statuten Perkoempoelan Nahdlatoel Oelama 1926 menunjukkan dengan jelas penggunaan huru “DL” pada kata “Nahdlatoel” dengan huruf U menggunakan ejaan yang berlaku saat itu; juga pada kata “Oelama” yang kemudian menjadi “Ulama”.

Sejarah saat berdirinya organisasi NU belum mengenal apa itu ejaan lama maupun ejaan yang disempurnakan. Yang ada adalah “ejaan dalam bayang-bayang kolonial Netherlands”. Sementara itu, kita tahu bahwa ejaan yang berlaku di Indonesia adalah Ophuijsen, atau Ophuysen, hingga Indonesia tidak lagi dibayang-bayangi Belanda (1947).

Berikutnya, terdapat tiga ejaan yang kurang beken yang menjadi tahapan hingga ke Ejaan yang Disempurnakan (EyD), yaitu ejaan Pembaruan (1957), ejaan Melindo (1959) dan ejaan Baru (1966). Setelah melalui masa-masa kegalauan perencanaan bahasa di era Soekarno, masalah-masalah ini dirampungkan hingga akhirnya Soeharto meresmikan EyD pada perayaan kemerdekaan Indonesia, tahun 1972.

Kata Nahdlatoel Oelama dalam statuten NOE 1926 dengan demikian telah mengalami transformasi ejaan sehingga menjadi Nahdlatul Ulama seperti sekarang ini. Huruf Oe kedua duanya sudah mengalami perubahan; Yang tetap adalah huruf D dan L pada kata “Nahdlatul“.

Penelusuran yang demikian itulah kiranya, yang bisa menjadi pembenar (berdasarkan dokumen resmi organisasi NU); tentang tulisan Nahdlatul Ulama yang benar dalam Bahasa Indonesia, hingga saat ini. Artinya, tulisan Nahdlatul Ulama yang benar tidak lagi menggunakan kata Nahdlatoel Oelama.

Vokal a, i, u dan Nahdlatul Ulama

Sementara itu, kata Nahdlatul Ulama kadang ditemui dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk ucapapan; misalnya, Nahdlotul Ulama, Nahdlatil Ulama dan bahkan ada kata dengan tulisan Nahdlatal Ulama. Semua memiliki dasar mengapa ada perbedaan dalam penulisannya.

Kata “Nahdlotul Ulama” sejatinya merupakan model pengucapan pada lisan yang kental dengan bahasa Arab; sementara dalam tulisannya jelas tertulis Nahdlatul Ulama. Jadi ia merupakan bahasa ucapan, bukan bahasa tulisan; sebagai ucapan “Warahmatullohi Wabarokatuh” pada tulisan “Warahmatullahi Wabarakatuh”.

Ini berhubungan dengan posisi Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat; yaitu vokal a, i, u dengan kata Nahdlatul Ulama. Misalnya, Nahdlatul Ulama kadang ditulis dengan Nahdlatal Ulama, dengan Ta Marbutah menggunakan harakat Fathah. Atau Ta Marbutah dengan harakat Kasrah sehingga menjadi Nahdlatil Ulama.

Dalam gramatika khas pesantren ada istilah tarkib idhafah, yang berhubungan dengan pola penyusunan kata atau kalimat. Kata Nahdlatul dalam Taerkib Idhafah setidaknya terlihat dalam 3 kata berikut ini;

Penulisan kata Nahdlatul Ulama dengan Rafa’, dengan ciri bacaan dhomah (vokal u) pada huruf ta marbutoh, sebagai contoh;

نهضةُ العلماء هي جمعية مشهورة فى العالم

Penulisan kata Nahdlatil Ulama, dengan jer/khafadl, dengan ciri bacaan khafadl (vokal i) pada huruf ta marbutoh dalam contoh antara lain;

الجهاد في سبيل نهضةِ العلماء

Sedangkan kata Nahdlatal Ulama dengan Nashab, dengan ciri bacaan Fathah (vokal a) pada huruf ta marbutoh sebagaimana contoh berikut ini ;

يا نهضةَ العلماء أنت محبتي

Demikian semoga bisa menambah perbendaharan artikel ke-NU-an, dan menambah wawasan tentunya.

Baca juga : Struktur Organisasi NU, Dari PBNU Sampai Anak Ranting NU

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button