NU Karangpucung Jadi Saksi, Bagian Sejarah Muktamar NU Ke-35 di Jombang

Jombang, NUCOM —– Sebanyak 15 peserta utusan MWCNU Karangpucung turut hadir, mengikuti, dan merasakan langsung momentum perhelatan akbar organisasi terbesar di Indonesia bahkan dunia. MWCNU Karangpucung menjadi saksi dan Bagian dari Sejarah Muktamar NU Ke-35 di Jombang
Bertolak dari titik kumpul di Masjid Baitul Mu’minin, Karangpucung, Cilacap, pada Rabu malam (26/8) pukul 20.30 WIB, 15 utusan MWCNU Karangpucung memulai perjalanan.
Satu mobil Hiace membawa jajaran Rais Syuriah dan Tanfidziyah MWCNU, PAC Muslimat NU, PAC GP Ansor, hingga PAC Fatayat NU. Tujuannya jelas ke Jombang, untuk menjadi saksi dan bagian dari sejarah Muktamar NU ke-35.
Meski berangkat secara mandiri dan berstatus penggembira, semangat mereka tidak kalah dengan peserta resmi. Jalur selatan, Pantura, hingga tol Slawi ditempuh sepanjang malam. Di dalam kendaraan, rasa lelah dibayar dengan obrolan, sholawat, dan doa. Karena yang dikejar bukan sekadar acara, tapi momentum bersejarah jam’iyah.
Fajar menyapa di sebuah rest area. Di sana, rombongan berjumpa pengurus PCNU Kabupaten Cilacap yang juga tengah menuju Jombang. Salat Subuh berjamaah, lalu duduk bersama menyeruput kopi. Tidak ada batas wilayah. Yang ada hanya sapaan “sedulur Nahdliyin”. Pertemuan singkat itu menjadi penguat langkah untuk melanjutkan perjalanan.
Tiba di Jombang, sambutan hangat kembali mereka terima. Singgah di MWCNU Perak Jombang, rombongan disuguhi air mineral, kopi, dan roti. Tawa dan foto bersama mengabadikan pertemuan dua daerah yang baru pertama kali bertatap muka.
“Alhamdulillah, di MWCNU Perak kita disambut dengan begitu hangat. Ini bukti nyata bahwa persaudaraan NU itu hidup, bahkan untuk tamu yang datang dari jauh,” ujar Kiai Kusnandar.
Ujian terakhir datang saat mendekati lokasi. Karena kepadatan, kendaraan harus diparkir jauh dari Lapangan Untung Suropati Tambakberas. Tanpa mengeluh, 15 orang ini berjalan kaki. Menyusuri jalan setapak di tepian persawahan di bawah terik matahari. Kiai, ibu-ibu Muslimat, pemuda Ansor dan Fatayat, melangkah bersama. Keringat dan debu tidak menyurutkan niat.
Sesampainya di sekitar arena, mereka menerima kenyataan tidak bisa masuk ke dalam karena keterbatasan akses. Namun itu tidak mengurangi makna kehadiran. Dari luar pagar, mereka menyaksikan lautan manusia, mendengar gema sholawat, dan mengikuti jalannya muktamar melalui media sosial.
Bagi MWCNU Karangpucung, menjadi bagian dari sejarah tidak harus duduk di kursi utama. Perjalanan panjang, kopi bersama sesama Nahdliyin, sambutan warga Perak, hingga langkah kaki di pematang sawah, semuanya adalah bentuk khidmah.
Sebagaimana pesan Gus Dur, “Orang tidak pandang apa agamamu, apa ideologimu, tapi kebaikanmu.” Dan sebagaimana gaung “Jas Hijau” dari Presiden Prabowo: “Jangan Sekali-kali Melupakan Jasa Ulama.”
15 langkah dari Karangpucung ke Jombang itu adalah bukti. NU besar karena ada orang-orang yang mau hadir dengan niat, cinta, dan dukungan.
Karena dalam Nahdlatul Ulama, menjadi bagian dari sejarah cukup dimulai dengan hadir.
Penulis: Nesy Faska Maulidia
Editor: IHA
Baca juga: Presiden Prabowo Resmi Buka Muktamar NU Ke-35 di Jombang, Gaungkan “Jas Hijau”





