Dari Cilacap untuk Nusakambangan; Menyapa Kemanusiaan di Balik Jeruji

NU CILACAP ONLINE – Realitanya, dakwah tak selalu tentang mimbar dan dalil. Adakalanya, sentuhan kecil dan perhatian menjadi penggerak hati yang tersesat untuk kembali ke jalan kebenaran. Inilah yang dilakukan oleh LAZISNU Cilacap bersama beberapa LAZ Cilacap saat menyalurkan makanan tambahan untuk warga binaan lapas Karanganyar dan Lapas Pasir Putih Nusakambangan.
Di balik dingin dan kokohnya tembok Lapas Karanganyar serta Lapas Pasir Putih di Pulau Nusakambangan, ada kisah tentang manusia yang sedang berusaha menata ulang arah hidupnya. Di tempat ini, masa lalu diurai dan harapan baru perlahan dibangun.
Hari itu, Selasa (15/09/2026) hangatnya kepedulian masyarakat menyapa mereka dari balik sel jeruji saat Lembaga zakat se-Kabupaten Cilacap bergerak bersama membawa misi kemanusiaan. LAZISNU, LAZISMU, LAZ Al-Azhar, LAZ Al-Irsyad, dan UPZ Kementerian Agama Kabupaten Cilacap meleburkan perbedaan untuk satu tujuan yang sama, menyalurkan 500 paket extra fooding bagi para warga binaan.
Bagi lembaga yang terlibat, bungkusan makanan tambahan itu bukanlah sekadar pemuas lapar. Setiap paket yang berpindah tangan adalah simbol sentuhan kemanusiaan, penanda bahwa dunia di luar sana tidak lantas melupakan mereka. Kehadiran para pengelola zakat menjadi pengingat hangat bahwa pemenuhan hak dasar dan penguatan proses pembinaan warga binaan adalah tanggung jawab bersama.
Misi yang dibawa pun menembus batas bantuan materiil. Memasuki kawasan pemasyarakatan berarti membuka ruang dialog yang humanis dan penuh empati, menjadikan agama sebagai peneduh, bukan penghakiman.
“Niat awal kita masuk ke lapas adalah untuk berdakwah. Kita ingin mendampingi para warga binaan yang memiliki keinginan untuk bertaubat, dengan memberikan dukungan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam pembinaan keagamaan,” ungkap Kepala Cabang LAZISNU Cilacap Farahdiba kepada NU Cilacap Online. Baca juga Narapidana Terorisme Ikrar Setia Kepada Pancasila Dan NKRI
Bantuan materiil hanyalah pintu masuk untuk membangun komunikasi yang lebih dalam, mendampingi setiap langkah kecil warga binaan yang ingin berbenah dan merajut jalan kembali. “Dinamika kehidupan di dalam lapas memang membutuhkan pendekatan yang tak biasa. Oleh karena itu, pendampingan spiritual yang berkelanjutan menjadi fondasi utama,” sambung Farah.
Bantuan 500 paket makanan ini menjadi penyambung asa. Sebab bagaimanapun juga, di balik dinding tinggi pemasyarakatan, ada jiwa-jiwa yang sedang berproses. Ada penyesalan yang tulus, niat untuk memperbaiki kesalahan, dan kerinduan mendalam untuk kelak diterima kembali sebagai bagian dari masyarakat.
“Sinergi ini membuktikan betapa luasnya jangkauan keberkahan zakat. Zakat tidak hanya hadir sebagai penolong di saat darurat, tetapi juga bertindak sebagai jembatan perubahan menuntun mereka yang sedang menata hidup menuju masa depan yang lebih mandiri dan bermakna.” tandas Farah. Baca juga LAZISNU Cilacap Raih Penghargaan Sebagai LAZ Terbaik
Kontributor: Ahmad Fauzi
Editor: Naeli Rokhmah