Khutbah Jumat, Hikmah Maulid – Jangan Biarkan Cinta Kepada Rasul Hanya Hidup Semusim

NUCOM — Umat Islam seluruh dunia baru saja melewati bulan penuh cinta, bulan Rabiul Awwal, bulan kelahiran Rasulullah SAW. Gema sholawat masih terasa, umbul-umbul Maulid masih terlihat, dan cerita tentang akhlak mulia Rasul masih hangat di telinga kita. Namun, ada satu pertanyaan besar yakni Sudahkah cinta itu menetap, atau hanya singgah semusim? Kali ini Redaksi NUCOM ketengahkan khutbah dengan judul: Hikmah Maulid – Jangan Biarkan Cinta Kepada Rasul Hanya Hidup Semusim
Sebuah khutbah yang akan mengajak kita merenung, apakah sholawat kita hanya ramai saat perayaan, dan apakah akhlak Rasul hanya indah didengar di atas mimbar, namun hilang di rumah, di pasar, dan di media sosial kita.
Inilah Hikmah Maulid – Jangan Biarkan Cinta Kepada Rasul Hanya Hidup Semusim
KHUTBAH I
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِاالْهُدى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَّاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِاْلاَمِيْنُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَابَعْدُ: فَيَاعِبَادَاللهِ,اِتَّقُواللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ, فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِى كِتَبِهِ الْكَرِيْمِ: اَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ.
Hadirin Jamaah Jumat Rohimakumullah,
Kita baru saja melewati musim yang penuh bahagia. Di bulan Rabiul Awwal, di setiap kampung, di setiap sudut, umat Islam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sholawat menggema. Barzanji dan Diba’ dibaca. Pengajian digelar. Sedekah dibagi. Silaturahmi dirajut. Semua itu adalah bukti mahabbah, bukti cinta kita kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Tapi ada pertanyaan yang harus kita simpan di dalam dada:
Apakah cinta kita hanya hidup saat Maulid?
Apakah sholawat hanya ramai saat perayaan?
Apakah kisah akhlak Rasul hanya enak didengar di atas mimbar, lalu hilang di pasar, di rumah, di media sosial kita?
Jamaah Rohimakumullah,
Seharusnya, Maulid bukanlah garis akhir. Ia adalah titik awal.
Allah SWT telah berfirman, Rasulullah itu bukan sekadar tokoh sejarah untuk diceritakan, tapi suri tauladan untuk diikuti:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Jika kita mengaku cinta, maka cinta itu harus ada buktinya. Allah menegaskan:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
“Katakanlah Muhammad: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran: 31)
Maka tanda cinta kepada Rasul adalah mengikuti sunnahnya. Belajar bagaimana Nabi sholat, bagaimana Nabi memperlakukan keluarga, bagaimana Nabi memuliakan tetangga, bagaimana Nabi berdagang dengan jujur, bagaimana Nabi menghadapi orang yang berbeda pendapat.
Bukankah Rasul sendiri bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Oleh karena itu, buah paling penting dari Maulid adalah berubahnya akhlak kita.
Jika sebelum Maulid kita mudah marah, setelah Maulid harus lebih sabar.
Jika sebelumnya lisan kita kasar, setelah Maulid harus lebih lembut.
Jika sebelumnya gemar menghina orang lain, setelah Maulid harus belajar menghargai.
Jika sebelumnya susah memaafkan, setelah Maulid harus belajar memaafkan.
Jika sebelumnya malas sholat, setelah Maulid harus lebih rajin sholat awal waktu berjamaah di masjid.
Rasul bersabda:
صَلُّوا كَمَا رَاَيْتُمُونِي اُصَلِّى
“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.” (HR. Bukhari)
Jamaah Jumat Rohimakumullah,
Rasulullah juga mengajarkan ukuran keberislaman kita bukan hanya dari ibadah pribadi, tapi dari keselamatan orang lain dari lisan dan tangan kita.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
Maka jangan sampai kita rajin sholat, tapi rajin menggunjing.
Jangan sampai kita rajin hadir majelis Maulid, tapi masih gemar menyebar fitnah.
Jangan sampai lisan kita fasih bersholawat, tapi hati kita sulit memaafkan sesama.
Jangan sampai kita memuji akhlak Nabi, tapi akhlak kita sendiri jauh dari ajaran Nabi.
Biarlah Maulid ini menjadi jalan untuk menghidupkan kembali akhlak Rasulullah di dalam diri kita. Bukan hanya di mimbar, tapi di rumah, di jalan, di tempat kerja.
Marilah kita tutup dengan doa, semoga cinta yang kita ucapkan di bulan Maulid, tidak layu di bulan-bulan setelahnya.
Dan Semoga dengan mengikuti sunnahnya, Allah SWT menganugerahkan kepada kita semua syafaat Rasulullah, dari dunia hingga akhirat.
Aamiin Ya Rabbal Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ اَمَرَنَابِكَثْرَةِ ذِكْرِاللهِ وَامْتِثَالِ اَوَامِرِاللهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَّاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصَحَابِهِ.اَمَّابَعْدُ: فَيَاعِبَادَاللهِ, اِتَّقُواللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ وَاَحُثُّكُمْ وَاِيَّايَ عَلَى طَعَةِاللهِ وَطَعَةِرَسُوْلِهِ فِىْ كُلِّ وَقْتٍ لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. رَبَّنَاتَقَبَّلْ مِنَّااِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنيَا حَسَنَةً وَّفىِ اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَالنَّارِ.بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعلَمِيْنَ
Baca juga: Tradisi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW





