Hari Santri, dan Romantisme Sejarah

NU CILACAP ONLINE – Ada peribahasa,, atau kata-kata bijak. Tak ada orang yang bisa membeli masa lalu. Artinya, bahwa untuk membeli masa lalu, energi yang harus dikeluarkan itu sangat besar. Misalkan, tradisi-ritual dan prosesi yang sekarang sering kita lakukan, demi menuruti kebiasaan atau untuk mengenang kejadian dan peristiwa masa lalu. Sungguh sangat menguras energi kita bukan?.

Tradisi turun temurun dari masa lalu itu, yang oleh Peter L Berger, disebutnya sebagai sesuatu yang predefined pattern of conduct. Jika kita tidak melakukannya, maka akan merasa berdosa, dan bisa jadi, menyalahi hukum adat yang akan dipersalahkan oleh masyarakat.

Tetapi Bung Karno, tokoh harismatik yang menjadi simbol sejarah dan legenda budaya berkata, jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Pernyataan Bung Karno mengandung arti pentingnya sejarah bagi perjalanan sejarah ke depan. Namun cara pandang yang salah terhadap sejarah, maka justru akan menjadi beban berat perjalanan bangsa.

Jangan sampai sejarah itu kita beli. Karena tak seorang pun mampu membeli masa lalu. Kita harus melihat sejarah, bukan kaca benggala yang bisa meramal masa depan. Sejarah harus kita lihat melalui kaca spion yang sepintas selalu, dan kadang-kadang saja kita lihat, agar arah perjalanan kita tidak menimbulkan gesekan dengan berbagai hal.

Hari Santri, ditentukan berdasarkan sejarah masa pergerakan perjuangan bangsa yang melibatkan kaum santri dalam berjuang melawan Nica, Gurkha, dan Sekutu yang hendak menjajah kembali Indonesia. Pertempuran 10 November 1945, di Surabaya, yang kemudian kita ingat sebagai hari pahlawan, tidak terlepas dari gelora semangat kaum santri di dalam mempertahankan kemerdekaan.

KH. Hasyim Asy’ari, kyai paling berpengaruh di masa itu mengeluarkan resolusi jihad untuk membakar semangat para pejuang, khususnya santri, dalam mempertahankan kemerdekaan. Teriakan takbir dan semboyan ist kariman au mujtahidan bergemuruh dalam setiap dada kaum muslimin, para santri, kyai.

Doktrin hubbul wathon minal iman bergejolak menjadi bara pertempuran yang memukul mundur pasukan Nica, mendesak mereka hingga pergi dari Indonesia, dengan meninggalkan mayat-mayat bergelimpangan, termasuk mayat Jenderal Mallaby. Jenderal Mallaby terbunuh di jembatan merah. Jembatan merah ini kemudian diabadikan oleh Maestro lagu keroncong, Gesang, sebagai lagu yang legendaris. Baca juga Napak Tilas Tongkat Amanah Syaikhona Kholil…

Itulah kenangan sejarah hari santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Semua bersumber dari resolusi Jihad Kyai Hasyim Asy’ari. Kita mengingatnya, sebagai monumen yang kekal dalam diri para santri, dan mengadopsi nilai-nilai kesederhanaan, semangat juang, kebenaran, cinta tanah air, dan semangat pantang menyerah.

Kita tidak boleh hanya terjebak kepada seromonial belaka dalam upacara-upacara, dan kegiatan lainnya yang kurang bermanfaat. Bagi NU, penting juga mengadopsi nilai-nilai loyalitas dan ketaatan satu komando tegak lurus sami’na wa atho’na kepada pimpinan dalam mencapai tujuan utama. Lupakan basis perbedaan dan hilangkan faksi-faksi yang ada.

Semua melebur jadi satu dalam barisan, bukan gerombolan. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Tanpa satu komando, perang Surabaya tidak akan memperoleh kemenangan. Tanpa satu komando, NU tidak akan bisa mencapai tujuan-tujuan besar. Dari sini kita belajar, bahwa pengorganisasian yang baik, akan menghasilkan cita dan tujuan yang ingin dicapai.

Penulis : Toufik Imtikhani (NU marginal Cilacap)
Editor: Naeli Rokhmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button