Lawan Tren Kecanduan Gawai, Ratusan Pelajar Pilih Healing Jalur Langit di Pesantren Roudlotul Abror

NU Cilacap Online – Di tengah derasnya arus digital yang membuat banyak anak menghabiskan masa liburan dengan gawai (Gadget), sekitar 200 pelajar dari berbagai daerah justru memilih mengisi liburan sekolah dengan memperdalam ilmu agama melalui Pesantren Kilat Liburan Sekolah ke-IV Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Modern Roudlotul Abror Maos di bawah naungan Yayasan Paguwarmas Maos.
Kegiatan yang berlangsung pada 23 Juni hingga 6 Juli 2026 tersebut dipusatkan di kompleks Pondok Pesantren Modern Roudlotul Abror, Jalan Dukuh RT 01 RW 04, Desa Maos Lor, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap.
Peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA hingga SMK. Mereka datang dari berbagai daerah, di antaranya Bekasi, Karawang, Semarang, Purbalingga, Purwokerto, Banyumas, Kebasen, Sampang, Maos, Adipala, Kroya, Kesugihan, Cilacap Tengah, Gandrungmangu, dan sejumlah wilayah lainnya.
Selama hampir dua pekan, para peserta mengikuti berbagai program unggulan yang dirancang untuk mengembangkan aspek spiritual, intelektual, dan karakter.
Kegiatan tersebut meliputi tahsin dan tahfiz Al-Qur’an, praktik ibadah, pelatihan akhlak dan karakter Islami, kajian keislaman interaktif, pembelajaran dasar Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, pelatihan public speaking dan dakwah, serta outbound, olahraga, dan permainan edukatif.

Ihtiyar Membentuk Generasi Muda Kuat secara Spiritual
Pengasuh Pondok Pesantren Modern Roudlotul Abror, Kiai Maftukhin, S.H., mengatakan bahwa pesantren kilat merupakan ikhtiar menghadirkan ruang pendidikan yang mampu membentuk generasi muda yang kuat secara spiritual dan siap menghadapi tantangan zaman.
“Kami ingin para peserta merasakan bahwa belajar agama itu menyenangkan, membangun semangat, dan memberi bekal hidup. Harapan kami, mereka pulang menjadi pribadi yang lebih mencintai Al-Qur’an, lebih disiplin, lebih hormat kepada orang tua dan guru, serta memiliki keberanian untuk menyampaikan kasih sayang di tengah masyarakat,” ujar Kiai Maftukhin.
Sementara itu, Nyai Laili Maftuhah menegaskan bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, seluruh rangkaian kegiatan dirancang tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga penanaman nilai-nilai Islam dalam keseharian peserta di lingkungan pesantren.
“Anak-anak adalah amanah yang harus dibimbing dengan kasih sayang. Selama mengikuti pesantren kilat, kami ingin mereka merasakan suasana keluarga pesantren yang penuh kedisiplinan, kebersamaan, dan kepedulian. Mereka dibiasakan salat berjamaah, menjaga kebersihan, menghormati guru, saling membantu, serta belajar bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Nilai-nilai sederhana seperti inilah yang kelak akan membentuk akhlak mereka,” tutur Nyai Laili.
Menurutnya, keberhasilan pesantren kilat tidak hanya diukur dari banyaknya hafalan atau materi yang diperoleh peserta, melainkan dari perubahan sikap dan perilaku setelah mereka kembali ke rumah.
“Kami berharap sepulang dari sini, anak-anak menjadi lebih dekat dengan Al-Qur’an, lebih santun kepada orang tua, lebih semangat belajar, dan mampu menjadi teladan di lingkungan keluarga maupun sekolah. Itulah cita-cita utama pendidikan di pesantren, yakni melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak mulia, serta bermanfaat bagi umat,” imbuhnya.
Dengan perpaduan pembelajaran agama, pembinaan karakter, serta kegiatan yang edukatif dan menyenangkan, Pesantren Kilat Liburan Sekolah ke-IV Tahun 2026 menjadi bukti bahwa masa liburan dapat dimanfaatkan sebagai momentum membangun generasi Qurani yang berilmu, berakhlakul karimah, serta memiliki semangat berkarya dan mengabdi bagi agama, bangsa, dan masyarakat.
Penulis: Rofik Khiarullah
Edtor: Khayaturrohman





