Waduk Gajah Mungkur Surut, Nisan-nisan Tua Menyapa. Inilah Jejak 51 Desa yang Ditenggelamkan Demi Air Kehidupan

WONOGIRI, NUCOM — Kemarau selalu punya cara untuk mengingatkan. Puluhan makam kuno yang puluhan tahun tidur di dasar waduk, kini kembali menampakkan dirinya. Waduk Gajah Mungkur Surut, Nisan-nisan Tua Menyapa. Inilah Jejak 51 Desa yang Ditenggelamkan Demi Air Kehidupan
Membuka Pintu Masa Lalu
Di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah, air yang perlahan surut bukan sekadar meninggalkan tanah retak. Dia membuka kembali pintu masa lalu yang telah lama terkunci.
Belum semuanya bangkit. Sebagian masih setengah terendam, sebagian lagi sudah berdiri jelas. Nisan-nisan tua yang kesepian di hamparan lumpur yang baru ditinggalkan air.
“Sudah beberapa hari ini kelihatan, karena airnya surut. Tapi ini belum terlihat semua, baru sebagian saja, masih banyak yang di dalam air,” tutur Yogi, warga Wuryantoro.
Dari dekat, pemandangan itu menyayat sekaligus mengagumkan. Nisan-nisan itu berserakan. Ada yang miring, ada yang patah dan terkikis gerusan air selama empat dekade. Namun ajaibnya, masih banyak pula yang bertahan utuh, tegak menantang waktu, meski telah terendam sejak Waduk Gajah Mungkur dibangun.
Pada beberapa nisan, tulisan masih terbaca jelas. Nama-nama yang dulu dipanggil dengan kasih, tahun kepergian yang dicatat dengan duka. Bahkan, salah satu nisan yang dijumpai masih memahat aksara Jawa dengan tahun 1957, sebuah penanda bahwa jauh sebelum waduk ini ada, di sinilah denyut kehidupan desa itu berdetak.
Ada yang hanya setengah meter, ada yang memanjang dua meter. Bukan sekadar ukuran, tapi mungkin cara para leluhur membedakan cinta untuk tiap yang pergi.
Ini Bukan Pertama Kali Niasan Tua itu Menyapa
Camat Wuryantoro, Soemardjono Fadjari, menyebut fenomena ini adalah langganan tiap kemarau.
“Setiap kemarau biasanya makam-makam itu mulai terlihat, tapi ini baru sebagian, karena airnya masih cukup tinggi. Tahun ini surutnya agak lambat, sehingga belum semuanya muncul,” katanya.
Tak banyak yang datang dengan niatan khusus. Hanya satu dua orang berhenti untuk memotret. Selebihnya adalah pemancing dan petani yang melintas.
Jalan menuju ke sana pun tidak mudah, harus menapaki dasar waduk yang becek, licin, dan lengket di kaki.
Namun di balik sepinya peziarah, di sanalah makna sesungguhnya berdiam.
Jejak 51 Desa dan 7 Kecamatan
Sebab makam-makam itu adalah jejak dari 51 desa di 7 kecamatan yang harus ditenggelamkan demi lahirnya waduk ini.
Waduk Gajah Mungkur dibangun 1977 hingga 1981. Setelah itu, rumah-rumah ditinggalkan, surau dikosongkan, sawah ditenggelamkan, dan pemakaman umum itu dibiarkan menjadi saksi bisu di bawah air.
Mereka mengikhlaskan kampung halamannya tenggelam, agar air bisa mengalir ke tempat yang lebih jauh. Agar sawah yang lebih luas bisa diairi, agar lampu-lampu bisa menyala.
Kini, setiap kemarau, para leluhur itu kembali muncul. Tidak untuk menuntut. Mereka hanya ingin mengingatkan, bahwa di bawah birunya air yang kita lihat hari ini, ada 51 desa, 7 Kecamatan, ada nama, ada aksara Jawa tahun 1957, ada doa yang tidak pernah benar-benar tenggelam.
Gajah Mungkur Berbisik
Nisan-nisan itu bukan sekadar batu kapur yang rusak. Dia adalah surat cinta dari masa lalu. Surat tentang keikhlasan yang begitu besar, tentang pengorbanan yang begitu sunyi.
Dari dasar Gajah Mungkur, mereka berbisik pelan kepada kita yang hidup di atas air:
Rawatlah waduk ini. Sebab di dalam setiap tetesnya, ada air mata, dan keikhlasan dari orang-orang yang merelakan segalanya untukmu.***(IHA)





