Jejak Sejarah PCNU CILACAP: Dari Kiai Ke Kiai, Dari Kroya, Kesugihan, Hingga Majenang

NUCOM —- Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Cilacap menyimpan sejarah, kisah panjang penuh dedikasi dan khidmah. Berikut ini jejak langkah yang diwariskan: Dari Kiai ke Kiai, Dari Kroya, Kesugihan, Hingga Majenang.
Perjuangan ini tak lepas dari peran salafuna Shalih, para Kiai Pesantren yang merintis NU di Tjilatjap, ujung selatan Jawa Tengah. Dari kesederhanaan surau, langgar, pesantren dan kini NU Cilacap menjelma menjadi jam’iyah besar yang menaungi jutaan Nahdliyin.
Kendati tahun pasti berdirinya, dan/atau berlakunya sebagai Organisasi Pengurus Cabang (PCNU) masih menjadi misteri, berbagai dokumen, dan kesaksian para tokoh menunjukkan NU sudah hadir di Bumi Wijayakusuma ini sejak awal. Indikasinya menguat sejak NU lahir tahun 1926 hingga dekade 1930-an.
Bukti Tertua: “Tjilatjap” di Arsip NU dan Negara
Bukti tertulis tertua menyebut “Tjilatjap” sebagai bagian dari Tjabang Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO) sekitar tahun 1936. Penguatan lain datang dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) berupa surat dari PCNU Cilacap kepada PBNU pada tahun 1955.
Artinya, eksistensi NU di Cilacap sudah berlangsung lama, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka.
Awal Mula Dari Kiai Kroya KH. Minhajul Adzkiya
Tokoh sentral perintis NU Cilacap tak lepas dari nama KH. Minhajul Adzkiya dari Kroya. Nama beliau sudah tercatat dalam daftar hadir Muktamar NU ke-8 di Semarang tahun 1929, bersama Kiai Asy’ari dari Cilacap.
Pada Muktamar ke-10 di Surakarta 1935, NU Tjabang Cilacap diwakili utusan Ibnu Minhajul Adzkiya. Saat itu dilaporkan NU Cilacap sudah memiliki 900 anggota, terbagi 19 Kring, mendirikan 7 madrasah, 3 pondok, mengurus 7 masjid dan 10 langgar.
Dari dua dokumen Muktamar 1933 dan 1935 inilah muncul asumsi kuat bahwa PCNU Cilacap pertama kali terbentuk di Kroya sekitar tahun 1933. Baru pada 1935, penyebutan berubah dari “Kroya” menjadi “Cilacap” secara kelembagaan.
KH. Su’ada Adzkiya, putra KH. Minhajul Adzkiya dan kini Rais Syuriyah PCNU Cilacap, mengenang masa kecilnya ikut ayah menghadiri Konferensi Cabang PCNU Cilacap tahun 1955 di Gedung Tjunghua Tjunghui, depan Rita Cilacap.
“Pertama ngerti ada NU tahun 55 di gedung Tjunghua Tjunghui acara Konferensi Cabang PCNU Cilacap. Sekarang di depan Rita Cilacap. Dari kabupaten ke arah selatan jurusan taman makam pahlawan,” tuturnya dalam wawancara di kediamannya, Jumat 28 Februari 2025.
“Saat itu saya membaca catatan bahwa NU di Cilacap berdiri tahun 1931,” tambahnya.
Baca juga: Menilik Sejarah Awal Lahirnya NU Di Cilacap
TIGA TITIK PIONIR PERGERAKAN NU DI CILACAP
Pergerakan NU di Cilacap tidak tumbuh dari satu titik saja. Ada 3 wilayah yang menjadi tonggak penting di masa awal:
1. Majenang
Diinisiasi oleh KH. Hasan Bisri, santri Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari. Tiga tahun setelah NU berdiri 1926, beliau diamanati membawa risalah NU ke tanah kelahirannya Majenang tahun 1930.
Selanjutnya almagfurlah KH. Amin Jakfar (1963-1970,) menyatakan bahwa NU Majenang berkembang pesat.
“NU Majenang di tahun 1940-an berkembang pesat dan mendaki sebagai organisasi Islam terbesar di tlatah Kawedanan Majenang bahkan tanah air,” kenang almagfurlah KH. Amin Jakfar.
Baca juga: Profil MWCNU Majenang, Selayang Pandang Sejarah
2. Kesugihan
Dikenal sebagai “kota santri”. Di sinilah lahir pesantren tertua dan terbesar di Cilacap, Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin (PPAI), yang dirintis KH. Badawi sejak 1923 di Langgar Dhuwur.
KH. Badawi juga menjadi tim formatur saat Konferensi NU Cabang Cilacap 1955 bersama KH. Mu’awam dan KH. Minhajul Adzkiya.
Baca juga: KH Mungawam Bisri Wafat, Warga NU Majenang Cilacap Berduk
Pesantren PPAI ini bahkan pernah menjadi tuan rumah Munas Alim-Ulama NU tahun 1987 saat PCNU dipimpin KH. Su’ada Adzkiya. Estafet perjuangan dilanjutkan putra-putranya: KH. Mustolih Badawi dan KH. Chasbullah Badawi.
3. Kroya
Menjadi pusat kegiatan NU Cilacap era 60-70an. Di sinilah Pondok Pesantren Miftahul Huda Kroya dirintis KH. Minhajul Adzkiya. Berawal dari 2 asrama dan mushola kecil di selatan Stasiun Kroya dengan 200 santri.
Sempat hancur saat Agresi Militer Belanda II, lalu bangkit kembali di Kauman Kroya. Hingga kini pesantren ini mengasuh sekitar 350 santri putra dan putri, diasuh oleh KH. Hamam Adzkiya, KH. Su’ada Adzkiya, Hj. Mas’adah Machali, dan KH. Mudatsir Mughni.
Kapasitas keilmuan KH. Adzkiya bahkan diakui tingkat nasional. Dalam buku Selama Era Lengser, Gus Dur menulis bahwa kakeknya KH. M. Bisri Syansuri sering “uji coba” pendapat fiqih dulu ke rumah KH. Adzkiya di Kroya sebelum dibawa ke forum PBNU dan berdebat dengan tokoh Muhammadiyah.
Baca juga: Menelisik Jejak Kiprah KHM Minhadjul Adzkiya Kroya, Pendiri NU Cilacap
ESTAFET KEPEMIMPINAN HINGGA KINI
Konferensi Cabang pertama PCNU Cilacap digelar 1955 dengan Ketua KH. Mu’awam dan Rais Syuriyah KH. Minhajul Adzkiya.
Estafet kepemimpinan terus berjalan. Dari masa khidmat ke masa khidmat berikutnya, hingga kini. Dan berdasarkan data PCNU Cilacap 2025, saat ini Ketua Tanfidziyah dijabat H. Paiman Sahlan periode 2024-2029, dengan KH. Su’ada Adzkiya masih istiqamah mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah sejak 1997.

Kantor PCNU yang awalnya di barat Stasiun Cilacap, kini memiliki 2 gedung representatif:
- Kantor PCNU 1, Jl. Raya Kalisabuk No. KM 15, Cipelus, Kesugihan
- Kantor PCNU 2, Jalan Masjid, Sidanegara, Cilacap Tengah
INSPIRASI DARI MASA LALU
Sejarah NU Cilacap bukan sekadar catatan tahun dan nama. Ini adalah kisah para kiai yang berjalan kaki, menjemput ulama di Stasiun Kroya tengah malam, mendirikan madrasah dan pesantren di tengah keterbatasan, demi menjaga Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Dari 7 madrasah dan 3 pondok di tahun 1935, kini ribuan lembaga pendidikan NU tersebar di Cilacap. Dari 900 anggota awal, kini jutaan warga Cilacap merasakan manfaat jam’iyah ini.
“NU itu bukan organisasi, NU itu peradaban,” tegas KH. Su’ada Adzkiya. Dan di Cilacap, peradaban itu dimulai dari kesederhanaan para pendiri di Majenang, Kesugihan, dan Kroya.
Semangat gotong royong, tawadhu, dan khidmah merekalah yang membuat NU di Cilacap tetap hidup dan relevan hingga hari ini.
Wallahu a’lam bishawab
—– Catatan Redaksi:
Sejarah bersifat dinamis dan terus berkembang seiring ditemukannya data-data baru yang otentik dan dapat dipertanggungjawabkan. Bagi pembaca yang memiliki dokumen, arsip, foto, atau kesaksian lain terkait sejarah PCNU Cilacap, kami mempersilakan untuk memberikan komentar dan data di kolom yang tersedia di bawah artikel ini. Setiap masukan akan menjadi bagian penting dalam melengkapi kajian sejarah NU di Cilacap. (IHA)





