Jaga Marwah Rais Aam, Belajar Keteladanan dan Ketulusan Berorganisasi dari Mbah Moen

NUCOM — Dr. KH Abdul Ghofur MZ adalah putra almagfurlah KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) berkisah apa yang dilihat, dan saksikan, menyoroti teladan ketulusan berorganisasi dari ayahnya, Mbah Moen; Marwah Rais Amm.

Terang beliau, menolak pencalonannya diatur oleh “tim sukses” atau panitia, demi menjaga marwah NU dari politik uang dan mencegah masuknya figur-figur tanpa jiwa santri ke dalam kepengurusan.

Pesan moral utamanya adalah pentingnya menjaga keikhlasan dan nilai-nilai kesantrian dalam berkhidmah di organisasi yang didirikan oleh alim ulama ini, serta menghindari praktik politisasi yang dapat merusak integritas.

Apakah saat ini akan ada sosok setulus Mbah Moen? Perlu diketahui, Mbah Moen Lahir di Sarang, Rembang, 28 Oktober 1928, Wafat 6 Agustus 2019 di Makkah, dan dimakamkan berdekatan dengan makam gurunya, Alawi al-Maliki al-Hasani. Makbaroh ini satu area dengan makam istri nabi Muhammad, Khadijah binti Khuwailid.

Berikut ini ulasan Dr. KH Abdul Ghofur MZ mengenai Marwah Rais Aam, Belajar Ketulusan Berorganisasi dari Mbah Moen.

Pada MUKTAMAR ke 32 di Makasar tahun 2010, salah satu calon Rais Aam Nahdlatul Ulama adalah guru kita semua, KH. Maimoen Zubair. Sejumlah santri atau muhibbinnya berkeinginan agar beliau kerso menjadi calon.

Sebagai tokoh nasional, sudah ada yang bersedia menjadi ‘panitia’ dengan segala umborampenya.

Jawaban Mbah Mun tegas sekali. “Saya mau dicalonkan tetapi tidak boleh dipanitiani”, demikian kita-kira dawuh beliau.

Salah Satu dosa besar Kita semua adalah membiarkan panitia-panitia ini mengatur segala urusan pemenangan calon.

Apalagi jika yang dipanitiani adalah perihal pencalonan Rais Aam.

“Tapi Mbah .. mengke mawon!” kata salah satu muhibbin, “Gak popo .. ben podo ngerti, ngene ini carane pencalonan Rais NU’, demikian kira-kira dawuh beliau seingat saya.

Tafsir saya, beliau sedang menyampaikan fardhu kifayah dalam amar makruf dan nahi munkar.

Kita merasakan betul, salah satu akibat buruk dari ‘kepanitian’ ini adalah budaya politik uang yang begitu kuat dalam pemilihan pimpinan NU.

Persoalan ini semakin membikin NU tak bermarwah karena kepanitiaan ini masuk pada pemilihan Rais Aam.

Salah satu petakanya lagi adalah banyak dari panitia ini merupakan person-person yang tidak berjiwa santri.

Karena merekalah yang biasanya piawai dalam urusan kepanitiaan ini.

Setelah sukses, di antara mereka ada yang tiba-tiba menduduki posisi penting di kepengurusan.

Mereka tumbuh di sana bukan karena khidmah kesantrian, akan tetapi lahir dari aset kepanitiaan. (IHA)

Baca juga: Muktamar: Permusyawaratan Tertinggi Organisasi NU

Nama Rais Aam, Ketua Tanfidziyah & Muktamar NU Dalam Sejarah

Download Hasil Keputusan Muktamar Ke-32 NU Di Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button