Menilik Sejarah Awal Lahirnya NU Di Cilacap

NU CILACAP ONLINE – Menilik sejarah awal lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Cilacap, maka tak lepas dari pergerakan ulama-ulama sepuh di masalalu. Sebut saja KH Hasan Bisri pembawa risalah NU pertama dari Majenang, KH Badawi Hanafi dari Kesugihan, pendiri pesantren tertua dan terbesar di Cilacap, dan KH Minhajul Adzkiya, tokoh NU dari Kroya.
Tokoh-tokoh inilah yang kemudian menjadi pionir pergerakan NU di Kabupaten Cilacap seiring selangkah dengan jalan dakwah dan perkembangan pesantren.
Sejarah awal lahirnya NU di Cilacap memang masih menyimpan banyak misteri, terutama terkait tahun berdirinya secara pasti. Namun, berdasarkan beberapa dokumen yang ada, ada indikasi kuat bahwa NU sudah hadir di Cilacap setidaknya sejak tahun 1936, atau bahkan lebih awal.
Dokumen yang menyebut “Tjilatjap” sebagai bagian dari Tjabang HBNO sekitar tahun 1936 menunjukkan bahwa NU sudah memiliki struktur organisasi di Cilacap pada masa itu.
Selain itu, catatan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) tentang surat dari PCNU Cilacap kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada tahun 1955 semakin memperkuat dugaan bahwa eksistensi NU di Cilacap sudah cukup lama.
Informasi ini dikuatkan oleh Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap KH Su’ada Adzkiya dalam sebuah wawancara khusus.
Mbah Su’ada demikian ia akrab disapa mengungkap momen saat dirinya mengikuti ayahnya pada acara konferensi Cabang NU Cilacap.
“Pertama ngerti ada NU tahun 55 di gedung Tjunghua Tjunghui acara konferensi cabang PCNU Cilacap. Sekarang di depan Rita Cilacap. Dari kabupaten ke arah selatan jurusan taman makam pahlawan,” tuturnya.
Ayahandanya, KH Minhajul Adzkiya adalah salah satu tokoh perintis NU di Cilacap kala itu. KH Su’ada sendiri waktu itu baru berumur 13 tahun.
“Saat itu saya membaca catatan bahwa NU di Cilacap berdiri tahun 1931. Tanggal dan bulannya saya lupa. Hanya tahunnya saja,” ungkap Mbah Su’ada.
Tiga Titik Awal Lahirnya NU di Cilacap
Berbicara tentang sejarah berdirinya NU di Kabupaten Cilacap, maka tidak lepas dari tiga titik wilayah penting yang menjadi pionir pergerakan NU di masa -masa awal.
Tiga titik tersebut yaitu Majenang, Kesugihan, dan Kroya sekaligus di sini akan menyinggung tokoh-tokoh penting dalam Sejarah berdirinya NU di Cilacap.
Majenang, Embrio Lahirnya NU di Cilacap
Melansir berita obituari NU Cilacap Online yang berjudul KH Mu’awam Bisri Wafat, Warga NU Majenang Berduka, menyebut seorang tokoh ulama di Majenang bernama KH Hasan Bisri.
KH Hasan Bisri adalah salah satu santri Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ary di Tebuireng Jombang, Jawa Timur.
Santri takdzim itu diberi amanat oleh kiainya untuk membawa risalah NU untuk dikembangkan di tanah kelahirannya, Majenang.
Peristiwa tersebut terjadi 3 tahun setelah NU resmi berdiri 1926. Maka pada tahun 1930, di Majenang pertama kali NU berkibar dan para ulama bersatu guna menghidup-hidupkannya hingga berkembang keluasannya sampai wilayah Cilacap, Banyumas, dan Bumiayu.
Cerita ini dikisahkan oleh Ulama sepuh KH Amin Jakfar (Ketua NU Majenang Periode 1963-1970)
“NU Majenang di tahun 1940-an berkembang pesat dan mendaki sebagai organisasi Islam terbesar di tlatah Kawedanan Majenang bahkan tanah air,” terangnya.
Kesugihan, Kota Santri
Berbicara tentang NU dan persebarannya di masa lalu maka tak lepas dari nama Kesugihan. Satu kecamatan yang identik sebagai kota santri.
Di sinilah lahir pesantren tertua dan terbesar di Kabupaten Cilacap yakni Pesantren Al Ihya Ulumadin.
KH Badawi Hanafi telah merintis perjuangannya sejak tahun 1923 dimulai dengan mengajarkan agama di sebuah mushala yang disebut Langgar Dhuwur.
Seiring berjalannya waktu santri semakin bertambah hingga akhirnya dibangunlah pesantren pada tahun 1936.
Selain menyebarkan ajaran agama Islam, KH Badawi merupakan tokoh penting dalam merintis berdirinya NU di Kabupaten Cilacap kala itu.
Rais Syuriyah PCNU Cilacap KH Su’ada menyebut nama KH Badawi sebagai tim formatur saat dilaksanakannya konferensi NU Cabang Cilacap pada tahun 1955 sebagaimana dituturkan di atas.
“Waktu itu yang jadi ketua KH Mu’awam, Rais Syuriyahnya KH Minhajul Adzkiya. Dan yang jadi formaturnya KH Badawi Kesugihan,” tuturnya saat ditemui di kediaman (28/02/2025).
Hal ini menunjukkan bahwa KH Badawi menempati posisi penting di kalangan NU waktu itu. Di masa-masa selanjutnya, kiprah beliau dilanjutkan oleh putra-putranya.
KH Mustolih Badawi putra beliau yang ke enam di kemudian hari menjadi tokoh penting di NU.
Sosok yang akrab dipanggil Romo Mustolih ini pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Cilacap dengan wakil Rais Syuriyah Syekh Mas’ud Kawunganten. Ia juga pernah menjabat sebagai Rais PBNU.
KH Chasbullah Badawi putra ke-7 juga tak kalah aktifnya di NU. Dirinya menjabat sebagai Mustasyar PBNU hingga akhir hayatnya.
Pesantren Al ihya Ulumaddin juga pernah menjadi tempat dihelatnya Munas Alim-Ulama NU pada tahun 1987. Pada masa itu PCNU Cilacap diketuai oleh KH Su’ada Adzkiya.
Kroya, Kota NU-nya Cilacap
Kecamatan Kroya adalah titik penting ketiga dalam Sejarah NU Cilacap. Pada kurun tahun 60-70 an, Kecamatan Kroya menjadi pusat kegiatan NU di Kabupaten Cilacap. Informasi ini dikuatkan oleh kiai Nasrun (87), tokoh NU asal Kawunganten.
“Kota NU ne Cilacap ya Kroya,” kata kiai Nasrun (28/02/2025). Iapun menuturkan bahwa dirinya kala itu pernah menggiring beberapa kader Ansor dari Kawunganten untuk mengikuti kegiatan penataran (pelatihan-red).
Kiai Nasrun pada waktu itu adalah sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kawunganten sekaligus Ketua GP Ansor Cabang Cilacap. Ia sendiri waktu itu didaulat untuk mengisi materi.
“Naik sepur waktu itu. Saya membawa beberapa anggota Ansor dari Kawunganten untuk mengikuti penataran. Tempatnya di MI waktu itu. Adapun kantornya ya di ndalem kiai Adzkiya,” terangnya.
Tempat itu menjadi cikal bakal pesantren Miftahul Huda Kroya. Berasal dari dua buah asrama sederhana dan sebuah mushola kecil di sebelah selatan stasiun Kroya yang dirintis oleh K H M Minhajul Adzkiya.
Tidak diketahui dengan pasti tarikh pendirian pesantren tersebut. Sejauh yang bisa diingat, pesantren tersebut telah ada pra Kemerdekaan. Meski demikian, jumlah santri pada masa awal ini mencapai 200 orang yang berasal dari wilayah Kroya dan sekitarnya.
Sayangnya, sebelum sempat berkembang lebih jauh, pada masa Aksi Militer Belanda II (Clash II), kiai Adzkiya, para santri, dan beberapa warga terpaksa mengungsi.
Awalnya, beliau mengungsi ke wilayah Ngasinan, sebuah wilayah di Kebasen, Kabupaten Banyumas, dan kemudian ke Rawaseser, dusun kecil yang merupakan bagian dari Desa Mujur Lor, kecamatan Kroya.
Di tengah kesulitan hidup sebagai pengungsi, kiai Adzkiya tetap istiqomah mengajar para santri yang mengiringi beliau.
Ketika kondisi telah aman Pasca Clash II, kiai Adzkiya dan para santrinya kembali ke Kroya dan mendapati pesantrennya telah rata dengan tanah.
Sekali lagi, kiai Adzkiya harus pindah. Dan, tempat yang kali ini dituju adalah Kauman, Kroya.
Di sinilah cikal bakal berdirinya pesantren Miftahul Huda Kroya dengan jumlah santri ratusan. Saat ini telah memiliki berbagai institusi Pendidikan mulai dari sekolah kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. (Naeli Rokhmah)





