Inilah Sosok Syaikhona Kholil Bangkalan Sang Maha Guru Bangsa

NU Cilacap Online – Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan Bin KH Abdul Latif Al Ishaki Al Hasani (1835-1925) ulama kharismatik ini merupakan guru para pejuang bangsa seperti Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH As’ad Syamsul Arifin, dan KH Ahmad Dahlan. Para murid dan santri-santrinya itu sudah lebih dulu dikokohkan menjadi pahlawan nasional. Inilah sosok Syaikhona Kholil Bangkalan sang maha guru bangsa.
Bahkan Presiden pertama RI Soekarno pernah berguru padanya. Beliau juga inspirator berdirinya ormas Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Biodata Syaikhona Kholil Bangkalan
Lahir di Kampung Senenan, Kemayoran, Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur pada Hari Rabu Malam Kamis 9 Safar 1225 H atau 25 Mei 1835 M. Wafat pada Kamis, 29 Ramadan 1343 H (1925 M) di Martajasah Bangkalan, Jawa Timur.
Syaikhona Kholil adalah Dzuriyah Nabi SAW
Syaikhona Kholil Bangkalan terlahir dari pasangan KH Abdul Latif dan Nyai Hj Siti Khadizah. Nasab dari ayah sampai pada Said Sulaiman cucu Sunan Gunung Djati Cirebon (Syaikh Syarif Hidayatullah), sanad nasabnya yang terus menyambung sampai pada Rasulullah SAW. Maka jelas Syaikhona Kholil adalah dzuriyah Nabi SAW.
Menimba Ilmu, Dari Pesantren Ke Pesantren Hingga ke Makkah
Menimba ilmu di Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Cangaan Bangil, Pesantren Darussalam Kebon Candi Sidogiri Pasuruan, hingga Salafiyyah Safi’iyah Stail.
Pada tahun 1843 M melanjutkan studinya ke Makkah, berguru pada syaikh Ahmad Khotib Abdul Ghoffar, Syaikh Nawawi Al-Bantani, Syaikh Usman bin Hasan Ad-Dimyati, Syaikh Ahmad bin Zayni Ad-Dahlan Al-Hasani, Syaikh Mustafa bin Muhammad Al-Afifi Al-Makki dan Syaikh Abdul Hamid bin Mahmud As-Syahwani.
Selanjutnya Syaikhona Kholil secara istiqomah, tekun mempelajari, mendalami kebudayaan Nusantara yang kemudian menjadi strategi proses penyebaran Islam yang bercorak nusantara.
Aswaja, Islam Nusantara
Strategi Islam Nusantara menjadi model dan ciri khas misi penyebaran Islam yang membumi. Rupanya beliau mengamalkan apa yang pernah dilakukuan oleh Walisongo, yakni menjalankan praktik keagamaan yang bersifat seimbang yakni bi fi’li (perbuatan), dan qauly (perkataan).
Prinsip yang dipegang oleh Syaikhona Muhammad Kholil terhadap penerapan antara dua sisi yaitu bertasawuf dan berfiqih, menunjukkan bahwa cara berfikirnya beliau itu moderat (tengah-tengah).
Bukti nyata kemoderatan Syaikhona Kholil dalam kehidupan sehari-harinya sama sekali tidak pernah melakukan judgment (penghakiman) terhadap orang yang menjalankan praktik tasawuf dan fiqih dengan catatan tidak terlalu menyimpang dengan al-Quran dan as-Sunnah.
Syaikhona Kholil Bangkalan selalu mengajarkan kepada para santrinya untuk selalu bertamasuk (berpegangan) pada ajaran Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) sebagai kerangka konsep berfikir dalam menghadapi suatu permasalahan umat.
Beliau juga mengajarkan nilai-nilai sosial di tengah masyarakat yang saat itu Nusantara dalam kondisi pendudukan kuasa Hindia Belanda, dan pesantren adalah sebuah kongsi pemantapan akidah keyakinan bangsa agar tidak terjerumus terhadap keyakinan yang salah dalam menghadapi beragam tantangan dunia.
Syaikhona Kholil selalu mengacu pada prinsip Aswaja, terutama kitab-kitab bermadzhab Syafiiyah menjadi pegangan penting dalam memutuskan sebuah hukum atau permasalahan dalam kehidupan masyarakat.
Dengan mengembangkan pengertian Aswaja inilah Syaikhona Kholil menempatkan kalam, fiqih, dan tasawuf sebagai disiplin keilmuan yang saling mendukung satu sama lain.
Maka kemudian ulama kharismatik Indonesia ini merupakan guru bangsa, pelopor dan bapak pesantren Indonesia.
Jiwa pejuang dalam diri Syaikhona Kholil membentuk pola pergerakan politik nasional kebangsaan saat itu dengan aktif membina santri-santri yang berguru padanya, yang menjadikan masyarakat berbudi pekerti, agamis, berpendidikan, dan merdeka.
Cinta Tanah Air adalah Sebagian daripada Iman
Penobatan sebagai ulama besar pada beliau tidaklah berlebihan, karena keberhasilan membimbing, membina para santrinya bahkan masyarakat luas untuk cinta tanah air, dengan semangat keimanan, ketakwaan, dan jiwa nasionalismenya.
Demikian Syaikhona Kholil tidak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga mengajarkan iman pada cinta tanah air, dalam perjuangan bangsa meraih kemerdekaan Indonesia.
Sebagaimana dawuhnya yang terkenal yakni Hubbul Wathon Minal Iman bahwa cinta (membela) tanah air merupakan sebagian dari iman.
Maha Guru Bangsa
Sebagai guru bangsa, Syaikhona Kholil memiliki banyak murid dan santri beliau yang menjadi pahlawan nasional. Bahkan beliau merupakan inspirator berdirinya ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Maka maha guru pantas disandingkan padanya, beliaulah lampu pijar yang menjadi pusat ilmu dan laku, sebagai maha guru yang rahmatalil alamin sehingga menumbuhkan dan mempererat nilai-nilai nasional kebangsaan.
Melalui bakti mulia dan karya-karyanya Syaikhona Kholil tidak hanya tokoh dalam negeri, beliau pendidik yang telah diakui dunia.
Peran besar Syaikhona Muhammad Kholil dalam merintis dan melestarikan pesantren merupakan bukti konkrit akan keterlibatan Beliau dalam menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Kontribusi yang dilakukan oleh Syaikhona Muhammad Kholil melalui jalur pendidikan pesantren, utamanya keberhasilannya dalam mencetak kader ulama besar yang berkualitas, ini menunjukkan bahwa Syaikhona Muhammad Kholil merupakan ulama yang menjadi pijakan dunia pesantren sehingga tetap berada di jalur bingkai syariat, tarikat, hakikat dan makrifat.
Dedikasi Negara pada Ulama, Pahlawan Nasional
Beberapa murid santri Syaikhona Kholil sudah lebih dulu dikokohkan sebagai pahlawan nasional seperti Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH As’ad Syamsul Arifin, serta KH Ahmad Dahlan Pendiri Muhamaddiyah.
Dari sekian santrinya juga menjadi pengasuh pesantren dan tokoh ulama besar seperti KH Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), KH As’ad Syamsul Arifin (Sukorejo Situbondo), Kiai Cholil Harun (Rembang), Kiai Ahmad Shiddiq (Jember), Kiai Hasan (Genggong Probolinggo), Kiai Zaini Mun’im (Paiton Probolinggo), Kiai Abi Sujak (Sumenep), Kiai Toha (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Usymuni (Sumenep), Kiai Abdul Karim (Lirboyo Kediri), Kiai Munawir (Krapyak Yogyakarta), Kiai Romli Tamim (Rejoso Jombang), Kiai Abdul Majid (Bata-Bata Pamekasan).
Guru Proklamator Kemerdekaan
Bahkan Presiden pertama RI Soekarno pernah berguru padanya. Menukil Fuad Amin Imran dalam bukunya ‘Syakihona Kholil Bangkalan Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama, (hal.17-177),
Dengan demikian Syekh Kholil bukan hanya guru para pahlawan tetapi gurunya proklamator kemerdekaan, Soekarno. Cara mengajarnya min ba’dhil auliya.
KH A’sad Syamsul Arifin yang sehari-hari mendampingi, bahkan sempat menyaksikan bapak proklamator kemerdekaan Indonesia ketika mengunjungi Bangkalan di usap-usap kepalanya oleh Syekh Kholil, di tiup-tiup ubun-ubunnya, barangkali karena berkah itu, Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Pesantren, Warisan Sepanjang Masa
Warisan monumental yang ditorehkan oleh Syaikhona Muhammad Kholil bagi bangsa Indonesia tidak akan pupus ditelan masa.
Syaikhona Muhammad Kholil adalah ulama, sekaligus maha guru bangsa darinyalah gen lahirnya kader-kader ulama Indonesia terbaik, yang kemudian kader-kader itu menjadi guru bangsa juga, dab merupakan pimpinan-pimpinan pondok pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan Asia Tenggara. (IHA)





