Esai Opini Wawasan

Dari Rahim IPPNU, Harus Lahir “Kartini Kartini Baru”

Kartini wafat di usia ke 25 Tahun, usia kader IPPNU, sebagai kader IPPNU mari kita refleksikan bersama; agar dari Rahim Organisasi IPPNU lahir Kartini Kartini Baru untuk kemajuan agama, nusa dan bangsa.

“Door Duisternis Tot Lich” atau dalam Bahasa Indonesia; “Habislah Gelap Terbitlah Terang”, judul buku yang disusun berdasarkan manuskrip surat menyurat antara Raden Ajeng (R.A.) Kartini dengan sahabat-sahabatnya dari Eropa. Dikumpulkan dan dibukukan oleh Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda pada saat itu, yaitu; J.H. Abendon, beliaulah yang mengumpulkan dan membukukan surat-surat itu setelah R.A Kartini wafat.

Surat-surat itu berisi gagasan Kartini tentang kekekangan sistem feodal dan kolonial yang menghambat kemajuan pribumi Indonesia pada saat itu. Selain itu, ia juga mencantumkan gagasan tentang emansipasi wanita. Karena beliau merasa gelisah terhadap budaya dan aturan yang sangat melemahkan kaum wanita yang sangat dianggap lemah dan cenderung disepelekan pada masa itu. Orang tua pada zaman dahulu merasa bahwa hakikat sebagai wanita adalah untuk mengurusi rumah tangga bukan untuk mencari pendidikan setinggi-tingginya.

Bukan hanya dalam bidang literatur saja, di usia yang ke-24 R.A. Kartini juga mengelola sekolah untuk kaum putri di komplek Bupati Rembang. Perjuangan dan cita-cita R.A. Kartini didukung oleh suaminya, Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang pada saat itu menjabat sebagai Bupati Rembang. Serta masih banyak lagi gerakan yang beliau persembahkan untuk membela kaum wanita.

Perjuangan dan cita-cita yang ia gelorakan, Alhamdulillah kita sebagai kaum wanita bisa merasakan nikmatnya mengenyam pendidikan setingi mungkin, serta diskriminasi dan pelecehan terhadap wanita juga sudah ada undang-undangnya dan sangat diperhatikan oleh Pemerintah Indonesia.

Seiring dengan perkembangan zaman, hari ini banyak sekali wanita inspiratif yang patut kita jadikan contoh untuk meraih mimpi dan cita-cita, seperti; Khofifah Indar Parawansa, Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani, Najwa Shihab, Susi Susanti, Merry Riana dan lain sebagainya.

Para Ulama Nusantara khususnya Nahdlatul Ulama sangat memperhatikan hak-hak dan kebebasan bagi wanita untuk menyampaikan pendapat, aspirasi dan mengekspresikan diri. Hasil Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 di Jombang tahun 2015, disampaikan bahwa ada berbagai macam organisasi badan otonom NU yang seluruh anggotanya adalah wanita, diantaranya; Muslimat NU, Fatayat NU, IPPNU dan Kopri.

Kita ketahui bersama bahwa R.A. Kartini wafat di usia ke 25 Tahun, usia kader IPPNU. Oleh sebab itu, sebagai kader IPPNU mari kita refleksikan bersama. Bahwa di usia yang sama seperti R.A. Kartini, kita sebagai kaum wanita harus terus produktif. Jangan sampai kita ternina bobokan di zona nyaman, jangan sampai kader IPPNU terus-terusan malu untuk menyampaikan gagasan dan berani tampil di depan.

Bahkan dalam literatur khazanah Islam, kita ketahui bersama bahwa Aisyah R.A. yang bergelar Ummul Mu’minin tidak segan-segan mengkritik Mu’awiyyah bin Abi Sufyan yang pada saat itu menjabat sebagai Kholifah.

R.A. Kartini lahir di Jepara tanggal 21 April 1879. Hingga saat ini selalu kita diperingati sebagai “Hari Kartini”, sebagai bentuk penghormatan dan tanda terimakasih dari wanita-wanita Indonesia terhadap pengorbanan serta perjuangan membela hak wanita agar bisa sederajat dengan pria. Harapan kami, semoga dari Rahim IPPNU lahir kartini-kartini baru untuk kemajuan agama, nusa dan bangsa.

Martin Nur Alfiani

 

 

 

 

 

 

 

Penulis: Martin Nur Alfiani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

five − 3 =

Back to top button