Jejak Ulama

Haul Ke-5 KH Ahmad Hasyim Muzadi, LAHULFATIHAH

Bulan Maret ini, rangkaian kegiatan haul ke-5 mendiang abah Hasyim Muzadi (KH Ahmad Hasyim Muzadi); sebuah peringatan yang lazim dilakukan setiap tahun untuk mengenang sosok agung. Kepergian kiai, merupakan duka keluarga, santri dan para pecintanya. Bahkan duka mendalam untuk sebuah bangsa.

Sebuah doktrin bahwa kepergiannya, hanyalah berpindah tempat. Ia wafat sebab kodrat jasad yang sudah ditetapkan-Nya, tetapi jiwanya tetap hadir dan dirasakan siapa saja. Jasad yang telah berpisah dari kehidupan dan alam normal manusia sebuah keputusan terbaik dari-Nya

Kodrat itu diyakini betul oleh abah Hasyim Muzadi. Sebab itu, sblm kepergiannya, ia meminta utk menempelkan bait kitab Hikam di sebuah dinding: “istirahatkan dirimu untuk mengatur apa yg sdh dlm ketetapan-Nya. Apa saja yg sdh diatur oleh selainnu maka kamu jgn mengaturnya untuk dirimu”

Permintaan itu tak sedikitpun terbesit di kepala kami akan kepergiannya. Tapi itulah isyarat terakhir yang sangat jelas. Seperti berucap bahwa “tugasku di dunia sudah selesai”.

Derai air mata dan penuh duka menghinggapi masyarakat Indonesia atas kepergian sosok bijaksana, toleran, moderat, politisi yang berkarakter dan ulama karismatik.

KH Ahmad Hasyim Muzadi
Alm KH Hasyim Muzadi bersama putranya, Alm Gus Hilman, lahuma al-Fatihah

Saya menyadari, jasad memiliki umurnya. Tinggallah kebaikan dan manifestasi duniawinya yg dirasakan manusia sesudahnya. Panggilan suci itu tak bisa ditawar, apalagi digugat. Sebab Tuhan tlh berisyarat, matinya ulama bentuk Tuhan sayang pada hamba itu

Peringatan haul untuk mengenangnya sebagai sebuah refleksi kehidupan. Ungkapan bijak bestari dan langkah progresif yang dilakoninya, kerap perlu diulang-ulang

Terkadang, haul menjadi momentum penyadaran jiwa yang sebelumnya belum terketuk. Peringatan sakral yang menyelimuti rangkaian acara, kerap melahirkan pikiran-pikiran bernas sebagai kelanjutan pemikiran almarhum

Laku memorial sang teladan yang dikumandangkan disela-sela acara bisa menembus sekat-sekat jiwa yang keras sekalipun. Terpaan angin kebaikan sang teladan mampu menggoyahkan pasak bumi

Sang teladan membuktikan bahwa hidup di jalan yang lurus, tidak saja membutuhkan energi yang kuat, tetapi keimanan yang mantab dan kokoh. Lintas ilmu menyatu pada gerak langkahnya. Terucapkan menjadi sebuah kesimpulan penuh perenungan dan pendalaman yang sesungguh-sungguhnya

Laku memorial pun mampu mengingatkan manusia-manusia yang telah berkeping-keping untuk kembali bersatu dan merapikan barisan. Kebersatuan dalam ragam perbedaan hanya bisa diwujudkan oleh satu bukti kecintaan atas sang teladan.

Nostalgia tahunan ini bukanlah sembarangan peringatan biasa. Haul mengenang sang teladan, sebagai upaya peringatan atas pentas yang telah dilakoni sang teladan semasa hidupnya, dan diambil hikmahnya

Keteladanan ini dibutuhkan, sebab kini keteladanan lebih sulit dibandingkan bunyi ujaran kebaikan. Iman tak lagi difaktakan dan agama tak lagi diindahkan. Baju agama kerap diganti sesuai kepentingan manusiawi

Lebih jauh lagi, agama ‘diperkosa’ sana-sini demi mencari legitimasi kelompok dan posisi Tuhan kerap diambil manusia yang merasa memegang kebenaran hakiki

Abah… seandainya Tuhan mengabulkan permintaanku, maka aku akan meminta agar Tuhan menghidupkanmu kembali dan membimbingku.

Rinduku padamu, abah…!

AL-FATIHAH

Sumber: Twitter Makmun Rasyid

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button