Halaqoh Interaktif Pesantren RMI PWNU Jawa Tengah Perkuat Komitmen Pesantren Ramah Anak dan Perempuan

BANJARNEGARA – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI PCNU) Cilacap menunjukkan komitmen kuat dalam peningkatan mutu pengasuhan santri dengan mendelegasikan pengasuh pesantren putri dan musyrifah dari berbagai pondok pesantren di Kabupaten Cilacap didampingi oleh pengurus RMI PCNU Cilacap. Delegasi ini hadir dalam agenda Halaqoh Interaktif Pengasuh Pesantren Putri se-Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh RMI PWNU Jawa Tengah di Kabupaten Banjarnegara, Minggu (10/05/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Dari Pesantren untuk Pesantren: Membangun Sistem Perlindungan Santri Berbasis Nilai Pesantren” ini menjadi momentum strategis dalam memperkuat budaya pesantren yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak serta perempuan. Halaqoh interaktif berlangsung di Pendopo Kabupaten Banjarnegara, sementara pelatihan musyrifah dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Fatah Parakancanggah.
Acara tersebut dihadiri oleh para pengasuh pesantren, mitra kegiatan, Narasumber dan Fasilitator Kegiatan, tokoh ulama, Bupati Banjarengara dr. Amalia Desiana, Wakil Gubernur Jawa Tengah H. Taj Yasin Maimoen, hingga Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Dra. Hj. Arifah Choiri Fauzi, M.Si.
Komitmen Moral dan Peluncuran Modul
Ketua Panitia, Ny. Hj. Royannach Ahal, M.Pd., A.H., dalam laporannya menegaskan bahwa persoalan kekerasan seksual, perundungan (bullying), hingga penyalahgunaan relasi kuasa tidak boleh lagi dianggap tabu untuk dibicarakan. Forum ini bukan sekadar diskusi, melainkan langkah konkret dengan diluncurkannya Modul Pesantren Ramah Anak dan Perempuan.
“Halaqoh ini bukan untuk mencari kesalahan atau membuka aib lembaga, melainkan demi memperkuat sistem perlindungan yang lahir dari nilai-nilai pesantren itu sendiri,” ujar Nyai Royannach.
Ketua RMI PWNU Jawa Tengah, KH. Ahmad Fadlullah Turmudzi, M.Pd, A.H. (Gus Fadwad), dalam sambutannya menekankan pentingnya sinergi kolektif antara ulama dan pemerintah (umaroh). Beliau menegaskan bahwa integritas pesantren saat ini diukur dari seberapa aman dan nyamannya santri dalam menuntut ilmu.
“Pesantren adalah pusat peradaban dan akhlak. Kita harus memastikan roh pesantren tetap terjaga melalui sistem perlindungan santri yang integratif,” tutur Gus Fadwad.
Baca Juga: Rumah Ibadah Ramah Anak Wujudkan Lingkungan Ramah Anak
Dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah
Mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Gus Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif RMI. Beliau mengungkapkan bahwa Pemprov Jateng berkomitmen penuh mendukung pesantren melalui akses layanan kesehatan, penguatan ekonomi melalui wakaf, hingga program beasiswa khusus bagi santri dan pengasuh.
“Pemerintah siap berkolaborasi untuk menyediakan layanan pendampingan psikologis dan ruang pengaduan yang profesional agar santri mendapatkan perlindungan maksimal,” jelas Gus Taj Yasin.
Pesan Menteri PPPA: Empat Pilar Keamanan
Menteri PPPA, Dra. Hj. Arifah Choiri Fauzi, M.Si., sebagai pembicara kunci (keynote speaker), menyentuh sisi emosional audiens dengan berbagi pengalaman sebagai seorang santri dan ibu. Beliau memaparkan data kritis nasional bahwa satu dari dua anak pernah mengalami kekerasan, sebuah fakta yang harus direspons dengan serius oleh dunia pesantren.
Beliau merumuskan Empat Pilar Keamanan Santri, yakni: aman jasmani, aman kehormatan, aman perasaan, dan nyaman belajar. “Kita harus membangun sistem pengaduan yang rahasia, edukasi hak anak, serta deteksi dini terhadap perubahan perilaku santri,” tegas Menteri Arifah.

Harapan Delegasi Cilacap
Delegasi pengasuh pesantren putri dan musyrifah dari PCNU Cilacap mengikuti seluruh sesi dengan antusias, mulai dari pembahasan regulasi hukum hingga teknis pendampingan psikologis. Kehadiran mereka diharapkan mampu membawa transformasi positif di pondok pesantren masing-masing.
RMI PCNU Cilacap berharap, melalui partisipasi aktif dalam halaqoh ini, kapasitas musyrifah dalam memitigasi kekerasan semakin mumpuni, sehingga marwah pesantren sebagai pusat pendidikan akhlak dan ilmu pengetahuan tetap tegak di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. (Rofik Khairulloh)





