Feature & Figur

Cerita Relawan NU Cilacap Peduli Bantu Korban Gempa Cianjur

Beraksi di kebencanaan bagi para relawan NU Cilacap Peduli mungkin menjadi hal biasa mengingat sudah terlatih dan sering terlibat penanganan bencana di Cilacap. Entah di dapur umum, evakuasi, ataupun recovery paska bencana. Akan tetapi saat mereka beraksi membantu korban bencana gempa bumi di Cianjur, mungkin menjadi cerita yang tidak biasa.

NU Cilacap Online telah menghimpun cerita para relawan NU Cilacap Peduli baik dari wawancara maupun laporan-laporan di WAG Relawan NU Cilacap Peduli.

Gempa Cianjur

Gempa berkekuatan magnitude 5,6 SR mengguncang Cianjur Jawa Barat pada senin (21/11/2022) masih menyisakan duka yang mendalam. Gempa tersebut terjadi pada kedalaman 10 kilometer, dengan koordinat 6,84 lintang selatan-107,05 bujur timur itu terasa hingga Jakarta. Sebagai aksi solidaritas Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap melakukan rapat koordinasi dengan Banom dan Lembaga NU dan hasilnya memutuskan akan mengirim relawan ke lokasi gempa.

Relawan itu khususnya untuk Tim NU Cilacap Peduli dengan pemberangkatan awal pada Rabu (23/11/2022). unsur relawan Tim NU Cilacap peduli yang berangkat antara lain dari unsur NU Care LAZISNU Cilacap, GP Ansor (BAGANA) Cilacap dan Pagarnusa Cilacap.

Hari masih pagi saat para relawan berkumpul di Kantor PCNU Cilacap. Titik di mana tim relawan dilepas oleh Sekretaris PCNU Cilacap Khazam Bisri. Hujan yang turun sejak dini hari seolah enggan berhenti mengiringi rombongan yang membawa 2 unit ambulans, 1 mobil klinik sehat NU, 1 unit mobil dhahar, dan 1 unit mobil pick up milik  PC GP Ansor Cilacap. Tepat pukul 09.00 WIB iring-iringan kendaraan yang membawa rombongan keluar dari halaman Gedung PCNU Cilacap.

Baca juga:

Relawan Bagana

Tim tiba di Cianjur pada Rabu malam Kamis sekitar pukul 22.00 WIB. Salah satu relawan Bagana Adi menuturkan hari yang gelap dengan pencahayaan yang minim menghalangi pandangan mereka. Ia pun mengaku tidak bisa melihat dengan jelas keadaan sekitar. Akses jalan juga banyak yang rusak yang mengakibatkan perjalanan yang normalnya memakan waktu 6 hingga 7 jam harus molor begitu lama hingga mereka kemalaman tiba di lokasi.

Mereka yang lelah karena lama di perjalanan pun langsung beristirahat. Namun belum lama tidur tiba-tiba terjadi gempa sebesar 4,2 magnitudo yang mengguncang lokasi di mana mereka beristirahat.

“Waktu itu sekitar pukul 2 malam saya dan teman-teman baru saja tertidur eh tiba-tiba ada gempa. Tentu saja kita panik dan berlarian keluar,” tuturnya.

Gempa itu merupakan gempa susulan dan tidak terlalu parah tetapi tetap saja harus waspada mengingat masih musim hujan juga turut memicu longsor. Setelah merasa aman, para relawan Cilacap kembali beristirahat.

cerita relawan NU Cilacap Peduli gempa cianjur

Pagi hari saat mereka bangun barulah bisa melihat dengan jelas bagaimana situasi dan kondisi di sekitar. Adi dan relawan lainnya hanya bisa terpana melihat parahnya kerusakan yang terjadi akibat gempa.

“Saya dan teman-teman cuman bisa melongo melihat rumah-rumah pada hancur. Parah pokoknya. Hati rasanya teriris apa lagi melihat para warga yang hanya terdiam memandangi reruntuhan rumah mereka,” ujarnya.

Menurut penuturan Adi, kebanyakan rumah yang hancur adalah rumah-rumah kayu dan rumah tua yang bangunannya sudah rapuh.

“Ada rumah yang tidak hancur. Kebanyakan rumah-rumah orang kaya yang bangunannya bagus. Kalo rumah-rumah tua yang terbuat dari kayu roboh semua,” kata Adi.

Baca juga: NU Cilacap Peduli Serahkan Laporan Kegiatan Selama di Cianjur

Hari itu juga usai melakukan koordinasi dengan PCNU Cianjur tim NU Cilacap Peduli mendirikan Dapur Umum di Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur. Adi dan kawan-kawan Bagana dari Cilacap pun mulai beraksi mengeksekusi bahan makanan yang mereka bawa dari Cilacap.

“Kami masak sehari dua kali untuk makan siang dan malam. Ini karena keterbatasan tenaga di posko. Untuk paginya warga masak sendiri-sendiri di tendanya masing-masing,” sambung Adi.

Selain membantu di dapur umum, relawan NU Cilacap Peduli juga turut membantu evakuasi korban.

“Pada saat relawan Cilacap sampai di Cianjur, pencarian korban tidak boleh memakai alat berat. Jadi penggalian terpaksa memakai tangan. Ini karena khawatir jazad korban telah membusuk karena bencana sudah berjalan 5 hari,” tuturnya.

Jumatan di Pengungsian

Hari itu, Jumat (25/12/2022) agaknya menjadi momen ibadah shalat Jumat para pengungsi gempa Cianjur. Mungkin itu adalah kali pertama mereka melakukan shalat Jumat di ruang terbuka. Mau bagaimana lagi, satu-satunya masjid di kampung mereka hancur rata dengan tanah. Terpaksa para pengungsi dan relawan melaksanakan shalat Jumat di tengah-tengah jalan kampung dengan beralaskan tenda seadanya.

Momen mengiris hari tertangkap kamera relawan NU Cilacap Peduli yang di instagram NU Care Cilacap Peduli. Seorang lelaki paruh baya duduk berdampingan dengan jamaah lainnya sambil menunduk dalam sembari mendengarkan adzan sang muadzin.

Dalam duduknya yang dalam, tampak punggung laki-laki itu bergetar, terdengar lirih di sela-sela suara adzan isak tangisnya. Tak hanya laki-laki itu, jamaah lain pun tampak hanyut oleh merdu suara musdzin yang entah kenapa hari itu terdengar menyentuh sekali di hati.

“Waktu itu rasanya nyesek banget mba. Saya sendiri mrebes mili (berlinang air mata). Jumatan di tengah-tengah jalan, panas, pating grenjul (tanah yang tak rata karena banyak bebatuan). Saya benar-benar ikut merasakan duka para korban gempa,” kata Adi.

Momen shalat Jumat yang penuh kaharuan itu berjalan singkat. Menurut penuturan Adi mungkin karena keadaan masih darurat jadi hanya mengambil wajibnya saja. Ada juga kejadian korban sakit di pengungsian hingga meninggal dunia.

Banyak juga warga untuk mengevakuasi barang-barang berharga milik mereka. Adi mengaku sempat menemukan perhiasan emas dalam jumlah cukup banyak.

“Mungkin yang punya orang berada jadi punya emas banyak. Saya dan teman-teman juga pernah mengevakuasi kendaraan bermotor dan alat elektronik lainnya. Pokoknya apa saja yang bisa kami selamatkan,” kata Adi.

Tugas selanjutnya yang tak kalah penting adalah membuat hunian sementara (huntara) untuk para korban. Ia dan relawan Bagana lainnya membuat huntara dengan menggunakan tenda darurat di huntara. Adi berharap para korban selalu sehat dan tabah.

“Doa saya, semoga keadaan cepat pulih dan warga selalu sehat, sabar dan tabah,” pungkas Adi menutup ceritanya menjadi relawan gempa bumi di Cianjur.

Posko NU Cilacap Peduli

Memasuki pekan ke-2 sejak awal pemberangkatan relawan ke Cianjur hingga berita ini diturunkan Posko NU Cilacap Peduli di Cianjur masih aktif. Direktur NU Care LAZISNU Cilacap disini sebagai PIC program NU Peduli, Ahmad Fauzi pengiriman relawan dilakukan secara bergantian.

“Para Relawan secara bergantian stanby di lokasi. Terhitung hingga saat ini telah 3 kloter pemberangkatan relawan,” kata Fauzi.

Fauzi pun mengimbau masyarakat untuk turut berkontribusi membantu meringankan beban penderitaan korban dengan ikut berdonasi melalui NU Care LAZISNU Cilacap yang nantinya akan disalurkan melalui NU Cilacap Peduli.

“Bantuan untuk masyarakat Cianjur yang terdampak gempa bumi masih sangat dibutuhkan. Oleh karena itu Tim NU Peduli PCNU Cilacap mengajak saudara untuk berdonasi melalui Rekening BSI : 7390 6834 60 a.n NU Peduli Kemanusiaan Informasi dan Konfirmasi di 081228221010,” tandasnya.

(Naeli Rokhmah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button