Turba ke-16 PCNU Cilacap Sambangi Majenang: Dorong Sinergi Program dan Kemandirian NU

NUCOM — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap Dorong Sinergi Program dan Kemandirian NU melaui turun ke bawah (Turba) dengan menyambangi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Majenang yang digelar di STKIP Majenang. Pada Ahad 24 Mei 2026.

Kegiatan ini menjadi forum monitoring, evaluasi, sekaligus sinkronisasi program organisasi dari tingkat cabang hingga ranting. Hadir jajaran Mustasyar, Syuriyah, pengurus MWCNU Majenang, pengurus Ranting NU dari 17 desa se-Majenang, perwakilan Lembaga dan Badan Otonom (Banom), serta Manajer Area UPZIS.

Perkuat Komunikasi dan Semangat Pengurus

Ketua MWCNU Majenang H. Salamun HS menyebut Turba sebagai sarana vital untuk menyambungkan komunikasi antara PCNU dan struktur di tingkat kecamatan.

“Turba membuat program organisasi berjalan lebih efektif, terarah, dan selaras,” ujarnya.

Rais Syuriyah MWCNU Majenang KH. Khamid Alwi yang memimpin doa iftitah Annahdliyah juga mengapresiasi program ini. Menurutnya, Turba mampu membangkitkan kembali semangat pengurus, terutama di tingkat ranting dan PLPK yang saat ini mengalami penurunan.

“Dalam catatan, pendapatan PLPK saat ini berada di bawah Rp40 juta per bulan,” katanya.

Program Sinergis Segera Jalan

Dalam kesempatan itu, H. Salamun membeberkan sejumlah agenda yang siap dijalankan MWCNU Majenang. Salah satunya Gerakan Seribu Kulhu (Gerbuhu) pada Selasa 26 Mei sore, dilanjutkan pentasyarufan 50 ekor kambing dari DAM tamatuk jamaah haji.

“DAM tamatuk sari jamaah haji ini pertama kalinya untuk Majenang. Kita dapat jatah 50 ekor kambing. Pelaksanaannya di SMK Diponegoro pada Kamis 28 Mei,” terangnya.

Wakil Ketua PCNU Cilacap bidang OKK, H. Munawar, S.Ag menegaskan, setelah 100 tahun menjaga paham Ahlussunnah wal Jamaah dan kemerdekaan bangsa, kini NU harus memperkuat kemandirian ekonomi.

“Kemandirian dalam negara ini adalah pajak. Rokok saja pajaknya 40 persen. Tapi pernahkah pajak kita kembali ke kita? NU pemilik saham NKRI,” tegasnya.

Dia mengajak warga NU memperkuat Koin NU sebagai investasi masa depan. Dana itu sebagian dialokasikan untuk pengadaan bus NUtrans.

“Selama ini kegiatan ziarah dan lainnya pakai bus lain, kita terlalu loman pada orang lain. Mulai siki ziarah anggo bise dewek,” katanya disambut tawa peserta.

H Munawar lanjut mengatakan program NU ada dua sifat yakni instruktif seperti Lazisnu, UPZIS, dan PLPK, serta inisiatif seperti pembangunan gedung sekretariat MWCNU Majenang yang menyesuaikan kebutuhan lokal.

“Ke depan akan ada 5 bus. Semoga upaya ini berhasil untuk kemandirian NU kita. Intinya, potensi jangan sampai dimanfaatkan orang lain,” pungkasnya.

DAM Tamatuk Boleh di Luar Tanah Haram

Wakil Ketua bidang keagamaan KH. Mahfudz Fauzi menambahkan, mulai tahun ini DAM tamatuk boleh disembelih di luar tanah haram menurut madzhab Hambali. Keputusan ini hasil batsul masail yang mempertimbangkan kemanfaatan.

“Yang mengelola Lazisnu, Upzis sebagai manager area, Majenang dapat 50 kambing. Yang utama benar karena kaitannya dengan ibadah haji,” ujarnya.

 Ekonomi Jamiyyah Berbasis Jamaah

Direktur BUMNU Cilacap Wasbah Samudra Fawaid memaparkan perjalanan panjang Lazisnu. Dari nol pada 2018, kini NU sudah punya regulasi, program, hingga Koin NU. PLPK sendiri kini memiliki sebanyak 2013 PLPK.

“Ini perjalanan kita bersama-sama di NU, membangun ekosistem ekonomi untuk kemandirian NU. Ini tugas kita semua,” katanya.

Soal regulasi, BUMNU Cilacap mengaku sudah lebih dulu punya AD/ART, sementara di tingkat PB dan PW masih dalam tahap narasi.

Menurutnya, 2 Bus NUtrans yang telah hadir disebutkan sebagai rintisan awal untuk membuka jalur ekonomi NU lainnya, dengan prinsip peningkatan ekonomi jamiyyah berbasis jamaah.

Dari Majenang, pesan kemandirian itu bergema: NU tak hanya menjaga aqidah dan bangsa, tapi juga mulai mengurus aset dan ekonominya sendiri. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button