Hukum & Syariah

Syari’at Qurban Dan Hubungannya Dengan Surat Al Kautsar

Syari’at Qurban ada hubungannya dengan Surat Al Kautsar dalam Al Qur’an, dan di balik turunnya Surat Al Kautsar kepada Rasulullah Muhammad SAW, menjadi dasar dan pijakan dilaksanakannya syari’at ibadah Qurban bagi umat Islam. Bagaimana penjelasannya?

Pada awal kedatangan Rasulullah SAW hijrah di kota Yastrib atau Madinah Al-Munawarah, beliau  menjumpai dan mengamati masyarakat sekitar yang ternyata pada  bulan Syawal dan bulan Besar, bulan Haji (Dzulhijjah) mereka pada berpesta pora, bersuka ria, riang gembira dan sebagainya.

Kemudian Rasulullah SAW bertanya: ada peristiwa apa hari ini ? Kok dirayakan meriah sekali ? Mereka orang-orang Madinah menjawab:  kami sedang melakukan tradisi, meniru orang-orang dulu sejak zaman jahiliyah.

Maka kemudian Rasulullah SAW bersabda:

إن الله قد أبدلكما خيرا منهما:  يوم الأضحى ويوم الفطر

Sesungguhnya Allah SWT telah menggantimu dengan dua hal yang lebih baik yaitu:  Idul Adha dan Idul Fitri (HR. Anas)

Sejarah hari raya  Idul Adha dan Idul Fitri di Madinah pada masa jahiliyah yaitu ada pesta perayaan atau festival yang disana disebut dengan Makhrojan. Kemudian datang ajaran Islam, tidak merubah acaranya, tapi isinya. “Nabi Muhammad SAW mengatakan, makhrojannya kita teruskan, tapi  acaranya, kontennya, esensinya atau subtansinya; Idul Fitri dan Idul Adha.”

Makhrojan pada masa Islam, diisi dengan shalat, takbir, dzikir,  tidak hanya sampai di situ saja, tetapi Islam mementingkan pemerataan umat, “Kalau Idul Fitri bagi-bagi sedekah dan zakat fitrah, maka kalau Idul Adha bagi-bagi sedekah dan daging mentah”.

Dalam suatu riwayat bahwa Abu Jahal, Abu Lahab, ‘Ash bin Wail dan kawan kawan mereka melecehkan, menghina dan menfitnah Rasulullah Muhammad SAW, dimana-mana ngomong (dengan nada merendahkan) bahwa Muhamad abtar (mandul, gabug, terputus tidak punya generasi penerus) saat putra laki-laki Rasulullah (Qosim, Abdullah Ibrahim) meninggal dunia.

Rasulullah SAW pun sempat cemas dan susah atas statemen mereka. Bahwa siapapun orangnya yang tidak punya anak laki-laki menurut pemikiran jahiliyah adalah abtar, dianggap putus, tidak punya generasi penerus.

Dalam sebuah hadits riwayat Anas ra menceritakan, suatu hari Rasulullah SAW mengantuk sejenak, kemudian mengangkat kepalanya sambil tersenyum gembira, maka Anas ra bertanya:  apa yang menjadikan engkau tersenyum ya Rasulallah ? Karena baru turun kepadaku suatu surat jawab Rasulullah Muhammad SAW, lalu membacakan surat yang baru diturunkan yakni surat Al-Kautsar:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.’

Ayat pertama dari Surat Al Kautsar:

إنا أعطيناك الكوثر

Al-Kautsar itu maknanya al-khairul katsir ( kebaikan yang sangat banyak) yang diberikan kepada Rasulullah SAW, di antaranya adalah:

Telaga Kautsar atau Bengawan dalam surga yang dikelilingi dengan emas, jalanya terbuat dari intan dan berlian, baunya lebih wangi dari minyak misik, warnanya lebih putih dari salju,  rasanya lebih manis dari madu, siapa yang meminumnya tidak akan haus selamanya.

Hal yang demikian ini merupakan karomah atau kemuliaan dari Allah SWT bagi Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Yang termasuk di antara alkautsar juga adalah : kenabian, Al-Quran, Islam, Syafa’at, Mu’jizat, kalimat Laa ilaaha illallah,  syari’at-syari’at yang ringan dibanding syari’at umat terdahulu dsb, itu semua termasuk Al Kautsar atau nikmat yang sangat banyak

Ayat Kedua dari Surat Al Kautsar:

فصل لربك وانحر

Dalam ayat ini Allah SWT mengkhususkan shalat dan qurban sebagai bentuk dzikir yang dominan, karena shalat itu merupakan rangkuman dari berbagai macam bentuk ibadah dan soko gurunya agama. Dalam melaksanakan shalat fardlu maupun sunat itu ikhlas karena Allah semata.

Kemudian membagikan daging qurban di sini merupakan pelaksanaan hak dan kepedulian terhadap sesama manusia. Kalau keduanya (haqqullah dan haqqul ‘ibad) sudah dilaksanakan, maka itulah manifestasi dari orang-orang shaleh.

Kapan Rasulullah Muhammad SAW melaksanakan Qurban? Pada tahun kedua hijrah Nabi Muhammad SAW mulai melaksanakan syari’at qurban. Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra bahwa:

وقد ضحى النبي صلى الله عليه وسلم بكبشين سمينين أقرنين أملحين  ، أحدهما عن أمته والثانى عن نفسه وآله

Sesungguhnya Nabi SAW berqurban dua ekor kambing gemuk, branggah sungunya, mulus putih bulunya, yang seekor qurban untuk umatnya, seekor yang lain untuk dirinya dan keluarganya (HR Ibnu Majah)

Setiap tahun Nabi Muhammad SAW melaksanakan qurban dan pada saat menunaikan haji wada’  Rasulullah SAW juga melaksanakan qurban 100 ekor unta  milik sendiri pas tanggal 10 Dzulhijjah di Mina beliau menyembelih sendiri 70 ekor, sisanya yang 30 ekor diserahkan kepada Sahabat Ali (menantu Nabi) untuk menyembelihnya.

Itu semua dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dengan ikhlash lillaahi ta’ala dan juga dalam rangka menandingi prilakunya kaum musyrikin yang menyekutukan Tuhan dan penyembelihan hewan mereka di batu besar untuk penyajian kepada patung tuhan mereka.

Oleh karenanya siapapun yang berani berqurban karena Allah semata, maka tidak akan menjadi korban, maksudnya:  barang siapa yang berani mengurbankan hewan ternak pada hari raya Idul Adha, maka akan selamat dari segala musibah dan bilahi dan tidak akan menjadi korban manakala Allah SWT menurunkan berbagai bencana dan pandemi.

Ayat Ketiga dari Surat Al Kautsar:

إن شانئك هوالأبتر

Sesungguhnya, orang-orang yang membencimu wahai Muhammad dan benci terhadap apa yang kamu bawa, —  yakni:  hidayah, kebenaran dalil dan cahaya yang nyata– itulah yang disebut abtar yang hina dan terputus dari kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

Jadi pemikiran mereka yang tidak punya anak laki-laki disebut abtar alias tidak jantan, mandul, tidak punya masa depan yang cerah itu salah besar. Bahwa orang yang abtar adalah orang-orang yang benci kepada Nabi Muhammad SAW, benci kepada sahabat, benci kepada ulama benci kepada orang shaleh, itu akan berakibat fatal mendapat laknat dari Allah SWT, na’udzubillaah min dzaalik. Wallahu a’lam bisshawab.

~ Artikel Syari’at Qurban Dan Hubungannya Dengan Surat Al Kautsar ditulis oleh KH Maslahudin, Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Cilacap.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 × three =

Back to top button