Feature & Figur

Peserta Diklatsar Banser Dayeuhluhur Tertua, Ini Sosoknya

Ada peserta diklatsar Banser di Dayeuhluhur beberapa waktu yang lalu yang secara usia masuk kategori tertua. Meski banyak orang yang menilainya telah sepuh, tua dan tak lagi muda, hal ini tidak membuat semangatnya surut, keyakinannya terus tumbuh dan makin terasah dengan menghibahkan hidupnya untuk tetap berkhidmat pada Nahdlatul Ulama (NU).

Adalah Muhlisin seorang pria lanjut usia asal Desa Salebu Kecamatan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah telah membuktikan kecintaannya terhadap Nahdlatul Ulama (NU).

Dia buktikan melalui keikutsertaannya melalui Pendidikan Dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Cilacap baru-baru ini, yang dihelat pada hari jum’at-Ahad, 26-28 Maret Kemarin di kompleks Pondok Pesantren Miftahul Huda, Ciparahu, Dayeuhluhur, Cilacap.

Keikutsertaan dirinya sebagai peserta Diklatsar Banser tempo hari itu tak pelak menimbulkan perhatian khusus khalayak bahkan menjadi bahan perbincangan, pun pembicaraan dengan beragam pertanyaan banyak orang, apalagi di era digital dan industri 4.0 saat ini, sebuah era di mana zaman keterbukaan informasi serba cepat dan canggih.

Di banyak akun media sosial (medsos) dijumpai para nitizen mengunggah dengan kalimat “Peserta Diklatsar Banser Dayeuhluhur 2021 Tertua“, kendati demikian tak banyak orang tahu, maka untuk menjawab tanda tanya nitizen, NU Cilacap Online berusaha menelusuri siapa dia dan dari mana dia.

Peserta Diklatsar Banser Dayeuhluhur Tertua Di Dampingi Isteri
Muhlisin (58) didampingi isterinya, Musrifah (51)

Adalah Muhlisin Bin Haji Yasrohidin, Dia dilahirkan di Desa Salebu, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap pada 12 Maret 1963. Anak kedua dari 7 bersaudara ini mempersunting seorang istri asal Purworejo bernama Musrifah. Diusia pernikahannya yang kini menginjak 28 tahun telah dianugerahi 4 anak, namun satu telah wafat.

Pasangan Suami Istri ini dikenal Pasutri Mus yakni Muslihin (58 tahun) dan Musrifah (51 tahun) kini telah dikaruniai dua orang cucu dari anak pertamanya (Rijalul Hadi)

Muslihin, kakek dua cucu ini mengaku keikutsertaan dirinya dalam diklatsar banser Dayeuhluhur 2021 sepenuhnya kesadaran diri atas cintanya, atas keyakinannya untuk berkhidmah. Berkhidmah pada Kiai, pada NU, pada NKRI. Bela negara, bangsa dan agama.

“jalaran seneng berjam’iyah, kadung tresna, ya apa baé dilakoni (Sebab senang berorganisasi, sudah kadung cinta, ya apa saja dilakukan)” akunya

Diceritakan, dirinya mengaku sebenarnya sudah sejak lama berkeinginan menjadi banser walaupun dirinya bagian dari anggota Ansor, namun baru kali ini diberi kelonggaran dan kesempatan turut serta mengikuti diklatsar banser.

Baca Juga : Diklatsar Banser Dayeuhluhur Wujud Komitmen Kebangsaan Ansor

Hal ihwal jalan hidup di tengah kesibukannya sebagai kepala rumah tangga dan apalagi profesinya sebagai pedagang, baginya sangatlah sulit bagi waktu bahkan nyaris, waktunya begitu sibuk nyatanya tak bisa memberinya peluang.

“di setiap bertemu teman seperjuangan yang pernah bersama dulu saat di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), atau dari sahabat Ansor, saya selalu bertanya kapan ada diklatsar banser? dan alhamdulillah, garis waktu menjodohkannya saat ini, diusia lanjut ini, dan inilah takdir.” tegasnya.

Musrifah (51) istri Muhlisin (58) mengaku awalnya tak percaya bahkan kaget atas keinginan suaminya ketika hendak ijin padanya mendaftar sebagai peserta diklatsar banser, namun dirinya tahu dan yakin bahwa suaminya orang yang gigih, kuat walau usianya terhitung lanjut usia. Atas berkat keihklasan restu sang belahan jiwanya itu, sang kakek Muslihin ini bisa lalui semua proses diklatsar banser hingga lulus, keluarga pun bahagia.

“alhamdulillah, saya dan anak-anak bersyukur, bapak bisa ikuti proses kegiatan diklatsar hingga tuntas dan lulus.” akunya bahagia.

Bahkan bukan hanya keluarga, termasuk jajaran pengurus ranting Ansor Desa Salebu yang mendelegasikan dirinya mengikuti diklatsar banser Dayeuhluhur pun turut bersuka cita, pasalnya Pengurus Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Desa Salebu yang dinahkodai ustadz Zamroni ini kini bertambah dan memiliki sesepuh.

“Simbah Muhlisin menjadi satu-satunya orang tertua dari 115 peserta diklatsar banser Dayeuhluhur, semoga memberi motivasi bagi yang muda.” terangnnya.

Tim Redaksi NUCOM Cilacap bersama Peserta Diklatsar Banser Dayeuhluhur Tertua
Imam Hamidi Antassalam dari NUCOM Cilacap bertemu langsung dengan Muhlisin, Peserta Diklatsar Banser Dayeuhluhur Tertua, di kediamannya di Salebu, Majenang

Muhlisin, kakek dua cucu ini juga diketahui aktif dalam kegiatan bermasyarakat, terhitung sudah 25 tahun dirinya mengabdi pada negeri melalui jabatannya sebagai ketua RT 03 Rw 03 di Dusun Salebu Barat Desa Salebu, Kecamatan Majenang.

Dia pun pernah nyantri di Pondok Pesantren Al Hidayah Asuhan Almagfurlah KH Nawawi, Pangen Jurutengah, Purworejo dan juga pernah nyantri di Lirboyo, Jombang. Dia berharap pada generasi muda untuk bisa belajar meyakini diri sensiri sebelum meyakini hal lainnya, berharap lebih semangat dari dirinya, lebih mantab dalam berkhidmah di NU, dan harus ikhlas, dan ikhlas.

“ikhlas ialah kunci, kunci segala harap, segala keberhasilan.” pungkasnya.

Kepala Kesatuan Koordinasi Cabang (Kastkorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) X 26 Cilacap Hadi Mustofa, mengapresiasi apa yang telah ditempuh Muhlisin sebagai kader, peserta diklatsar Banser tertua Dayeuhluhur hal tersebut memberi pengertian bahwa pemuda tidak di lihat dari usia, tapi semangatnya yang utama, apalagi urusan berkhidmah pokoke TANPA BATAS RUANG DAN WAKTU Karena Banser semboyane selawase alias sampe mati.

“Sungguh semangat juang yang dimiliki beliaunya itu perlu, bahkan wajib diintegrasikan ke dalam jiwa pelopor yang muda, yang tua tetap semangat, tentu yang muda harus lebih semangat.” Paparnya

Baca Juga : Kaderisasi Ansor Dari Nusawungu Hingga Dayeuhluhur

Pembina Kesatuan Kordinasi Banser Nasional (Kasatkornas) Habib Abduh Cirebon yang juga hadir dalam kesempatan malam mujahadah diklatsar Banser Dayeuhluhur mengatakan kehadiran Banser di tengah masyarakat haruslah memberikan manfaat kepada umat.

“sebagaimana hadist Nabi Muhammad Saw. menyebutkan, manusia yang terbaik adalah manusia yang memberi manfaat bagi orang lain. Maka diharapkan, Banser hendaklah memberikan manfaat bagi yang lain. Dengan sendirinya akan menjadi manusia terbaik. Cukuplah Allah yang mengetahui dan menilai kita sebagai orang terbaik.” terangnya

Habib Abduh, menyampaikan via aplikasi pintarnya usai membaca kisah peserta diklatsar banser tertua; ya gus.. kadangkala kecintaan seseorang terhadap suatu hal memang seringkali membuat seseorang lupa terhadap entitas dirinya.

“Dan apa yang menjadi jalan cerita Simbah Muhlisin, yang diketahui peserta diklatsar Banser Dayeuhluhur tertua tersebut sebagaimana siratan Hadis Nabi SAW berbunyi ‘Man Ahabba Say’an Fahuwa Abduhu’ (Barang siapa mencintai sesuatu maka berarti dia siap mengabdi untuknya).” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

19 + 15 =

Back to top button