Perintah Membaca Ta’awudz, Inilah Dalil, Makna dan Faedahnya

NUCOM — Inilah amaliyah An-nahdliyah yang baik untuk terus dilestarikan, sebagai ijasah dari ulama terdahulu tentang Perintah Membaca Ta’awudz. Inilah Dalil, Makna dan Faedahnya.

Ta’awudz atau isti’adzah merupakan lafal berbunyi “Audzubillahiminasyaitonirrojim.” Yang mengandung arti : “Aku berlindung kepada Allah dari gangguan/godaan setan yang terkutuk.”

Dalil Perintah Membaca Ta’awudz

Banyak ulama mengemukakan sejumlah dalil baik dalam Al Quran maupun hadits mengenai perintah untuk membaca ta’awudz (Isti’adzah) yakni perlindungan dari gangguan setan.

Perintah membaca ta’awudz disebutkan dalam Al Qur’an Surat Al-A’raf ayat 200 yang berbunyi: “Jika kamu ditimpa godaan setan maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.”

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ نَزْغٌ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ سَمِيعٌ عَلِيم

Membaca ta’awudz sebagai perintah, kalam suci atau panduan dari Allah SWT agar manusia selalu memohon perlindungan-Nya dari godaan dan bisikan setan yang dapat melemahkan iman atau mendorong perbuatan buruk.

Adapun berikutnya tentang perintah membaca ta’awudz (Isti’adzah) juga terdapat pada surat Al-mu’minun ayat 97-98, Ayat 97

وَقُلْ رَّبِّ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزٰتِ الشَّيٰطِيْنِۙ

Artinya: Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan.”

Ayat 98

وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

Artinya: “Dan aku berlindung pula kepada-Mu ya Tuhanku, dari kehadiran mereka (setan) agar mereka tidak mendekati aku dalam segala aktivitasku.”

Pada surat Fushshilat ayat 36, juga ditemukan perintah membaca ta’awudz atau isti’adzah sebagai berikut:

وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۚاِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Dan jika setan menggodamu dengan suatu godaan/gangguan maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui,”

Menurut Al imam al-Thabari kata “syaithon” dalam kalimat Arab mengacu pada setiap person yang durhaka baik kalangan jin, manusia, hewan melata, maupun apa saja. kata Ar rajim berpola fail tetapi bermakna maaf Maf’aul kata ini berarti yang terlempar atau terdampak. Maksudnya terlaknat dan tercela. Segala yang tercela dengan ucapan buruk dan cacian adalah merjum. asalnya adalah ar-rojmu adalah lemparan dan perbuatan.

Faedah Baca Ta’awudz

Faedah dan keutamaan pelafalan ta’awudz atau isti’adzah, Al imam Ibnu Katsir (1301 M -1372 M) berpendapat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan baca ta’awudz atau isti’adzah agar terhidar dari setan jin (karena ada setan dari kalangan manusia) karena dia tidak dapat disuap untuk terhindar dari kejahatannya dan tidak terpengaruh oleh kebaikan (berbeda dari setan manusia yang menerima suap), secara tabiat setan jin sangat buruk.

Dan yang dapat menahan kejahatan setan terhadap manusia tidak lain hanyalah penciptanya sendiri yakni Allah SWT.

Setan dalam kosakata Arab merupakan keturunan dari kata syathona yang berarti jauh. Maksudnya, setan jauh dari tabiat manusia dan dengan kefasikannya menjadi jauh dari kebaikan.

Menurut Al Imam Ibnu Katsir pelafalan ta’awudz atau isti’adzah berfaedah untuk membersihkan mulut dari ucapan sia-sia dan kotor.
Pelafalan ta’awud merupakan persiapan mulut untuk membaca kalam ilahi.

Makna Ta’awudz

Ta’awudz atau isti’adzah adalah bentuk pengakuan atas kekuasaan Allah dan kelemahan manusia dalam melawan gangguan musuh yang bersifat batin. Setan dapat melihat manusia. Sedangkan sebaliknya, manusia tidak dapat melihat setan. Namun secara umum ta’awudz atau isti’adzah adalah bentuk permohonan kepada Allah untuk melindungi kita dari segala bentuk kejahatan dan keburukan.

Al Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa salah satu manfaat pelafalan adalah dapat meredakan kemarahan di dalam hati yang sedang dialami seseorang. Dia Al Imam Ibnu Katsir membawa riwayat hadits al imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud dan Imam an-Nasa’i.

“Al imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Sulaiman bin surat bahwa dua orang saling mencaci di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sementara kami duduk di dekatnya salah seorang dari keduanya mencakup yang lain dan ia tampak marah dengan wajah memerah Rasulullah bersabda sungguh aku mengetahui kalimat yang bila diucapkan, niscaya kemarahan di hatinya akan reda. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu membaca “audzubillahiminasyaitonirrojim.”

Al Imam Ibnu Qayyim dalam kitabnya Bustanul Wa’idzin mengatakan: “Bahwa diriwayatkan dalam sebuah hadis Qudsi, seseorang yang dalam satu hari mengucapkan ta’awudz sampai 10 kali, maka Allah SWT mewajibkan bagi diri-Nya untuk melindungi orang tersebut,”

Berdasarkan riwayat ini, maka hendaklah agar kita memperbanyak membaca ta’awudz atau isti’adzah, baik di dalam shalat sebelum membaca surat al-fatihah atau di luar shalat.

2 Versi Bacaan Ta’awudz

Adapun bacaan ta’awudz (isti’adzah) ada beberapa versi dan semuanya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Berikut adalah versi yang paling umum dan sering diamalkan dalam ibadah maupun membaca Al-Qur’an:

1. Versi Pendek (Sesuai hadis nahi dan kesepakatan mayoritas ulama). Ini adalah lafal yang paling populer dan paling sering dibaca saat memulai membaca Al-Qur’an atau di dalam salat.

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari gangguan/godaan setan yang terkutuk.

2. Versi Panjang (Berdasarkan Hadis Nabi dan jumhur ulama). Versi ini merupakan salah satu dari riwayat hadis yang shahih dan sering dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebelum membaca Al-Qur’an.

أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Artinya: Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari gangguan/gofaan setan yang terkutuk.

— Sumber tulisan dari Buku Istighotsah, doa dan Munajat, Penulis KH Abuya Soleh Muhammad Basalamah, Pengasuh PP. Darussalam, Jatibarang, Brebes.
Editor Imam Hamidi Antassalam (Gus IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button