Islam Aswaja

Muktamar Internasional Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) Chechnya

Muktamar Internasional Ahlussunnah Wal Jamaah disebut juga Muktamar Aswaja Internasional Chechnya digelar dengan tujuan untuk meluruskan stigma dan membedakan yang mana paham Aswaja dan Wahabi. Ini berangkat dari klaim sepihak Wahabi yang merepresentasikan diri dan menganggap diri paling “Sunnah”, yang mengakibatkan Aswaja menjadi korban stigma lantaran paham Wahabi kemudian teridentifikasi sebagai ideologi yang sarat dengan nuansa kekerasan.

Muktamar Aswaja Internasional Chechnya kemudian menegaskan bahwa Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) paham keagamaan Islam yang secara akidah berhaluan Asy’ariyah dan Maturidiyah, menganut Empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam fikih (syariat Islam), serta ahli tasawuf yang murni – dengan ilmu dan dengan akhlak— sesuai Manhaj Tasawuf Imam Junaedi AL baghdadi dan para ulama tasawuf tarekat lainnya

Syekh Ali Jum’ah, Guru Besar Al Azhar Mesir  dalam sambutannya di muktamar Aswaja Internasional Chechnya mengatakan, “(Aswaja, Ahlussunnah Wal Jamaah) Itu adalah manhaj yang menghargai seluruh ilmu yang berkhidmah kepada wahyu (Al-Quran) dan Hadits (Sunnah). Dan telah benar-benar menyingkap tentang ajaran-ajaran agama ini dan tujuan-tujuannya. Dalam menjaga jiwa dan akal. Menjaga agama dari distorsi dan permainan tangan-tangan jahil. Menjaga harta dan kehormatan manusia, serta menjaga akhlak yang mulia,”

Jika pun ada mazhab di luar kategori di atas, Ali Jum’ah mengingatkan dan mengaskan, Aswaja tidak mengkafirkan siapa pun yang mengaku sebagai Muslim. Penegasan ulama Aswaja kelahiran Mesir ini juga menjadi pembeda antara paham Aswaja dengan kelompok radikal atau ekstrimis.

Masih menurut Syekh Ali Jum’ah, Aswaja tidak pernah mengafirkan orang yang shalat menghadap kiblat, tidak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan tidak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram).

Sementara itu, Usamah al-Azhari, Penasehat Presiden Mesir dan utusan Komisi Keagamaan Parlemen Mesir, menjelaskan, Muktamar Aswaja Internasional Chechnya bermaksud memberikan pencerahan mengenai problematika yang mengitari dunia Islam. Dalam berbagai persoalan akidah dan pemikiran yang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok teroris radikal dalam mencetak manhaj-manhajnya yang menghancur-leburkan.”

Menurut Usamah al-Azhari, kaum takfiri (yang terbiasa mengkafirkan) dan kaum tafjiri (yang melaksanakan aksi-aksi peledakan), berjalan di satu jalan yang sama. Sementara lembaga-lembaga keagamaan beberapa yang enggak memahami keadaan kritis. Sehingga membukakan kesempatan bagi takfirisme untuk melawan penyebaran agama yang moderat dan dengan akidah yang benar.

Mengenai gerakan Salafi / Wahabi, Imam Besar Al-Azhar Syeikh Ahmad al-Tayeb dalam Muktamar Aswaja Internasional Chechnya mengingatkan; bahwa konsep Aswaja yang telah berlaku sekian abad di tengah ummat Islam belakangan ini digugat oleh klaim-klaim tertentu dan hawa nafsu orang-orang yang secara fisik mengenakan jubah agama, namun batinnya keluar dari pokok (ushul/aqidah), kaidah (fikih) dan toleransi agama.

Menurut Syeikh Ahmad al-Tayeb, fenomena ini nyatanya sudah membikin konsep yang telah berabad-abad goyang di kalangan awam ummat Islam. Dan bahkan sebagian kalangan yang terlibat dalam aktivitas dakwah Islam. Dan para pengklaim itu pun tampil dengan label Aswaja (Sunni) dan berlagak selaku satu-satunya juru bicara Aswaja.

Akibatnya, barisan ummat Islam terpecah, dan pemahaman yang salah soal Aswaja itu bercokol dalam pikiran kalangan awam dan bahkan kalangan pendakwah. Mereka yang sesungguhnya bukan Aswaja mempercayai bahwa dirinya Aswaja (Sunni). Sehingga maraklah faham radikalisme, ekstrimisme, terorisme, dan aksi tindakan mematikan seakan-akan dilakukan oleh kaum Sunni (Aswaja).

Baca Artikel Terkait

Dia meneruskan bahwa keguncangan konsep Aswaja (Sunni) sudah sukses memecah Ummat Islam; membangkitkan nyali para pengintainya membidikkan anak panahnya kepada golongan ini; mencemarkan perjalanan sejarahnya, dan melaksanakan distorsi-distorsi yang membikin golongan Aswaja seakan bertanggung-jawab atas aksi-aksi teror yang ditunaikan oleh kelompok-kelompok takfiri bersenjata.

Syeikh Ahmad al-Tayeb menerangkan bahwa kelompok-kelompok ini sudah mencemarkan nama baik Aswaja dengan menyebut diri mereka selaku Sunni (sebutan Arab untuk Aswaja). Dan potensi mereka sengaja menyerbu konsep Aswaja untuk melicinkan obsesi politik, juga tendensi sektarianisme, dan ambisi ekspansif untuk memintarkan para penebar perpecahan.

Syeikh Ahmad al-Tayeb lantas menerangkan soal Aswaja. Bahwa dalam metode pendidikan Al-Azhar, Aswaja ialah sebutan untuk kalangan pengikut Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi dalam beraqidah. Mereka meliputi para ulama mazhab fikih Hanafi, Maliki, Syafi’i dan para ulama moderat dari mazhab fikih Hanbali. Pengertian yang sedemikian luas sehingga juga meliputi para ahli hadis dan penganut tasawwuf. Pengertian inilah yang dipahami oleh umat Islam selama berabad-abad sejak munculnya istilah ini sepeninggal Imam Abu Hasan al-Asy’ari.

Masih menurut beliau, Mazhab Asy’ari bukanlah aliran baru. Namun ia merupakan mazhab yang menjelaskan dengan penuh amanah tentang akidah salaf saleh dengan manhaj/metodologi baru yang menggabungkan antara teks dan akal. Hal inilah yang tidak mampu dilakukan oleh kalangan tekstualis yang sulit untuk melakukan kajian analitik, juga kalangan Muktazilah dan kelompok-kelompok lainnya.

Demikian juga, Mazhab Asya’ri adalah satu-satunya mazhab yang tidak mengafirkan seorang pun dari kalangan muslim. Bukti otentik dari sikap ini adalah Imam Abu Hasan al-Asy’ari mengarang kitab yang berjudul “Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin” dimana judulnya menunjukkan bahwa kelompok-kelompok Islam yang dibahas di dalam kitab tersebut masih berstatus muslim.

Dia menyimpulkan bahwa inilah realitas yang telah berjalan di tengah ummat Islam selama lebih 1000 tahun. Dan dengan realitas inilah mereka menjalani kehidupan yang satu tapi meliputi keragaman dan perbedaan pandangan yang terpuji. Serta mencampakkan ghirah perpecahan dan ikhtilaf yang tercela.

Muktamar Internasional Ahlussunnah Wal Jamaah di Chechnya yang digelar pada 25-27 Agustus 2016 antara lain dihadiri oleh sejumlah Ulama Islam Internasional seperti Syeikh al-Azhar al-Imam al-Akbar, Prof. Dr. Ahmad Muhammad al-Tayyeb, Mufti Mesir, Syiekh Prof. Dr. Syauqi Ibrahim ‘Allam, Mantan Mufti Mesir, Syeikh Prof. Dr. Ali Jum’ah, Mufti Syiria, Syeikh Ahmad Badruddin Hassoun, Syeikh Prof. Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi, putra Syeikh al-Syahid M. Sa’id Ramadhan al-Buthi. Al-Da’i ila Alloh, al-Habib Umar ibn Hafidz, Yaman, Al-Da’i ila Alloh, al-Habib Ali al-Jufri, Yaman, Syeikh Prof. Abu Bakr Ahmad Musliyar, Kerala-Hindia, Sekjen Jam’iyyah Ulama’ al-Hind, Syeikh Prof. Dr. Ahmad al-‘Abbadi, Sekjen Robithoh Muhammadiyah lil-Ulama’, Maroko, Syeikh Dr. Usamah al-Sayyid al-Azhari, Mesir, Syeikh Prof. Dr. Syarif Hatim al-Auni, Saudi Arabia, Syeikh Dr. Sa’id Abdullatif Foudah, Yordania, Dan Ulama’-ulama’ lain dari seluruh Dunia termasuk dari Malaysia dan Indonesia.

Muktamar Internasional Ulama Islam, untuk memperingati haul al-Syahid Presiden Syaikh Ahmad Haji Kadyrov rahimahullah dengan tema: “Siapakah Ahlussunnah Wal Jamaah? Penjelasan Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah; Akidah, Fikih dan Akhlak serta Dampak Penyimpangan darinya di Tataran Realitas.” Muktamar Internasional Ulama Islam menghasilkan >> 7 Butir Hasil Muktamar Internasional Aswaja Di Chechnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

eleven − 1 =

Back to top button