Feature & Figur

Mengenal Sosok KH Chudlori, Pendiri Pesantren API Tegalrejo

“Hati sutji adalah dasar hidup abadi”, selarik kata Mutiara ini tertulis di tugu mental yang terletak di makam seorang ulama. Makam yang tak pernah sepi dari bacaan alqur’an para peziarah. Siapakah sosok ulama yang bersemayam di dalamnya? Dialah KH Chudlori, pendiri Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo Magelang Jawa Tengah.

Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo adalah satu di antara beberapa Pesantren terbesar dan tertua di Jawa Tengah. Santrinya ribuan dan datang dari segala penjuru daerah di Indonesia. Sesuai dengan namanya API, keberadaannya laksana api penerang di tengah-tengah masyarakat

Kelahiran KH Chudlori

KH Chudlori lahir di Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah dari pasangan Muhammad Ikhsan dan Mujirah. Ia anak kedua dari sepuluh bersaudara. Muhammad Ikhsan adalah penghulu Tegalrejo pada masa penjajahan Belanda. Ayah Muhammad Ikhsan bernama Abdul Halim, juga penghulu zaman Belanda yang sangat dihormati.

Abdul Halim menangani urusan agama di Magelang meliputi kecamatan Candimulyo, Martoyudan, Mungkid, dan Tegalrejo.

Pendidikan

Pada tahun 1923, seteleh menyelesaikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), lembaga pendidikan setingkat Sekolah Dasar zaman Belanda, Chudlori kecil dikirim ayahnya ke pesantren Payaman yang diasuh KH Siroj. Ia menghabiskan 2 tahun di pesantren tersebut. Kemudian pindah ke pesantren Koripan di bawah asuhan Kiai Abdan. Tapi kemudian pindah lagi ke pesantren Kiai Rahmat di daerah Grabag hingga tahun 1928.

Kehausan akan ilmu agama, ia kemudian nyantri ke Tebuireng yang waktu itu diasuh Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’ari. Di pesantren pendiri NU tersebut, ia mempelajari beragam kitab. Saat di Tebuireng, ayah Chudlori mengirim uang sebanyak Rp. 750,- per bulan, tetapi ia hanya menghabiskan Rp.150,- dan mengembalikan sisanya.

Sosok Disiplin dan Ahli Riyadlah

Chudlori kecil hanya makan singkong dan minum air yang digunakan untuk merebus singkong tersebut. Dia melakukan ini dalam rangka riyadlah, amalan yang biasa dilakukan para santri. Cerita lainnya tentang Chudlori, di kamarnya di Tebuireng, ia membuat kotak belajar khusus dari papan tipis dan menempatkan kotak tersebut diantara loteng dan atap. Kapan saja bila ingin menghafal atau memahami pelajarannya, Chudlori naik dan duduk di atas kotak sehingga bisa berkonsentrasi dengan baik. Kotak ini sempit, tidak nyaman dan berbahaya untuk duduk. Jadi dengan kedisiplinan dia dapat belajar setiap hari hingga tengah malam.

Kapan saja tertidur sebelum tengah malam, dia menghukum dirinya sendiri dengan berpuasa pada hari berikutnya tanpa makan sahur Kemudian pada tahun 1933, ia pindah lagi Bendo, Pare, Kediri, menjadi santri Kiai Chozin Muhajir. Di situ ia belajar fiqih dan tasawuf seperti kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali.

Empat tahun berikutnya, ia mengaji di pesantren Sedayu. Di sana beliau belajar ilmu membaca Al-Qur’an selama 7 bulan. Pada tahun 1937, ia nyantri lagi ke Lasem, Jawa Tengah, yang diasuh KH. Ma’shum dan KH Baidlowi.

Setelah menikahi putri KH. Dalhar Watucongol, ia sempat mengajar di pesantren mertuanya tersebut. Namun mengajarkan ilmu agama di kampung halamannya adalah cita-citanya yang menggebu-gebu sehingga ia selalu melakukan mujahadah dan meminta petunjuk Allah Swt untuk niatnya itu.

Berdirinya Pesantren API

Setelah mendapat petunjuk dan membicarakan kepada mertuanya, kemudian pada 15 September 1944 KH. Chudlori pulang kampung dan mendirikan pesantren di Tegalrejo. Masyarakat desa itu, ketika ia mendirikan pesantren, terbelah menjadi yang pro dan kontra.

Kalangan yang pro gembira karena ada anak kampungnya yang menyebarkan ajaran agama. Sebaliknya yang kontra, lebih karena antipati terhadap penyebaran Islam. Sebagai kiai yang digembleng bertahun-tahun, Chudlori tetap tegar menghadapi kalangan yang kontra. Ia tetap menjalankan misinya mengembangkan syariat Islam.

Awalnya, KH Chudlori tak memberikan nama khusus pada pesantrennya, namun pada tahun 1947, atas saran teman-teman seperjuangannya, ia menamainya dengan Asrama Perguruan Islam (API). Nama itu merupakan hasil istikharahnya. Dengan nama itu, ia berharap santri-santrinya kelak akan jadi api penerang umat dalam kegelapan.

Pada tahun 1947, ketika Belanda melakukan Agresi Militer, Pesantren API menjadi benteng perjuangan mempertahankan kemerdekaan oleh para gerilyawan. Bahkan Chudlori yang kini sudah bergelar kiai, mengizinkan santrinya untuk turut berjuang.

Aktivitas belajar-mengajar dihentikan untuk sementara waktu. Karena perjuangan itu diketahui Belanda, pesantrennya kemudian dibakar habis. Santri, keluarga, dan Kiai Chudlori sendiri mengungsi dari satu desa ke desa lain. Kemudian di tahun 1949, ia kembali ke desanya dan membangun kembali pesantren.

Pembangunan kali ini, dibantu warga masyarakat yang telah bersimpati pada perjuangannya. Santri pun bertambah banyak. Pada tahun 1977, ia memiliki sekitar 1500 santri. Di tahun tersebut, pesantren API sedang berkembang pesat, tapi di tahun itu pula Kiai Chudlori dipanggil yang Kuasa.

Kurikulum Pesantren Salaf Yang Lestari

Setelah KH Chudlori wafat pada tahun 1977, Ponpes API dilanjutkan diasuh oleh KH Abdurrahman Chudlori (kakak tertua) dan KHA Muhammad Chudlori. Namun setelah keduanya meninggal, pengasuh ponpes diteruskan, KH Mudrik Chudlori, KH Hanif Chudlori dan Gus Yusuf.

Para putra ini tetap berusaha menjaga tinggalan-tinggalan orang tua yang baik dan relevan. Oleh karena itu, pondok pesantren salaf dengan racikan dan metode kuno, namun masih dibutuhkan tetap dijaga.Kurikulium ini tidak terikat diknas maupun kemenag. Sampai hari ini santri pesantren salaf ini mencapai 6000 orang santri putra dan 4000 orang santri putri.

Namun demikian dalam perkembangannya, Gus Yusuf bersama KH Abdurrahman Chudlori, mendirikan Yayasan Syubbanul Wathon yang membawahi pendidikan formal. Pendidikan formal yang dikelola mulai dari TK, SD, SMP, SMA/SMK hingga Sekolah Tinggi. Para siswa ini, pagi harinya sekolah formal, namun sore dan malam ngaji dengan sistem boarding.

Lokasi Makam

Makam KH Chudlori

Makam KH Chudlori tak pernah sepi dari bacaan Alquran, Dan di dekat makam terletak Tugu Mental bertuliskan “Hati sutji adalah dasar hidup abadi”.

Dan di Makam KH Chudlori juga tidak di sediakan “kotak amal”. Di samping itu juga bagi peziarah yang memakai mobi/motor tidak ada biaya parkir alias gratis. Lokasi Religi Makam KH Chudlori di Tegalrejo Magelang Jawa Tengah terletak di komplek pesantren API desa Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Provinsi jawa tengah.(Naeli Rokhmah)

Sumber: FB

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button