Masjid Mbah Utsman Gedang, Masjid Kecil Menyimpan Sejarah Besar KH Hasyim Asy’ari

JOMBANG, NUCOM— Menuju Muktamar NU ke 35 di Tambakberas tidak hanya tentang agenda dan forum. Di sela ada kesempatan ambil waktu menelusuri jejak para muassis. Salah satunya di Masjid Gedang, Tambakrejo, Jombang. Masjid Mbah Utsman, Masjid kecil yang menyimpan sejarah besar KH Hasyim Asy’ari.

Sekitar pukul 10.00 WIB, usai berziarah pada muassis pesantren dan mendoakan para ulama, penulis ambil waktu berjelajah pada lokasi bersejarah, dan masuk ke bangunan tua. Sekitar 50 meter dari makam Mbah Mustofa, berdiri Masjid Gedang. Bangunan sederhana itu kini juga dikenal sebagai Masjid Al-Utsmani.

Menurut warga setempat, tempat inilah yang menjadi saksi masa kecil KH Hasyim Asy’ari. Lebih menguatkan sejarah, sebuah keterangan di muka masjid tertulis: “Sebuah masjid ketjil di desa Ngendang, tetapi besar artinja. Di desa ini lahir K.H. Hasjim Asj’ari dan dalam mesdjid ketjil ini ia pernah beladjar dan mengadjar.”

Di masjid inilah KH Hasyim kecil pertama kali belajar agama. Ilmu dasar ia terima dari ayahnya, KH Asy’ari, dan kakek dari jalur ibu, KH Utsman.

Dari ruang sempit dengan sajadah sederhana itu, tumbuh tradisi mengaji, mengajar, dan khidmah yang kelak mengakar di seluruh pesantren Nusantara. Pada 1926, dari rahim tradisi inilah beliau bersama para kiai mendirikan Nahdlatul Ulama.

Yang menarik, suasana di Masjid Gedang saat siang itu tidak terasa seperti di situs sejarah. Beberapa Jamaah ada shalat dhuha, ada yang duduk iktikaf, ada yang putar tasbih, berzikir, ada juga yang nderes membaca kitab suci Al Qur’an.

Sementara beberapa yang lain, maklum lokasi dalam ruang lingkup adanya hajat akbar Muktamar NU ke-35, hal ini sudah tradisi puluhan kali, ribuan jamaah turut hadir walau tanpa undangan resmi, mereka yang di luar masjid, ada yang melepas otot kaku-kaku, mungkin lelah dan terbangun dari mimpi, ada yang duduk sembari obrolan ringan, menyapa untuk ngopi,

Dari sini ada cerita mengenai pesantren hingga sejarah bangsa. Salah satunya bahkan mengajak cerita kedatangan Portugis ke Maluku, bukan sekadar soal rempah, tapi juga jejak kolonialisme.

Percakapan berhenti ketika azan dhuhur berkumandang. Para santri serentak berwudu dan berbaris untuk shalat berjamaah. Pemandangan sederhana itu justru paling kuat: sejarah tidak hanya dibaca di buku, tapi dihidupi lewat ngaji, diskusi, menjaga masjid, dan menjawab panggilan azan.

Bagi penulis, singgah di Masjid Gedang menjadi pengingat. NU tidak lahir dari gedung megah, tapi dari masjid-masjid kecil, surau, dan majelis ilmu di desa. Dari sinilah jejak keilmuan KH Hasyim Asy’ari bermula.

Dari Tambakberas, Jombang, satu hal yang tertinggal: bangunan boleh sederhana, tapi nilai yang diwariskannya sangat besar. Ia terus mengalir, dari generasi ke generasi, hingga hari ini menyambut Muktamar ke-35 NU.***(IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button