KH Jamun Efendi; Ramadhan Momentum Tarbiyah dan Penyucian Jiwa

NU CILACAP ONLINE – Ramadhan adalah bulan istimewa yang tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai momentum pendidikan ruhani bagi umat Islam. Hal tersebut disampaikan oleh KH Jamun Efendi dalam tausiyahnya bertajuk “Ramadhan Bulan Tarbiyah.”
Dalam menjalankan ibadahnya puasa hendaknya didasari landasan ‘imanan wa ihtisaban’, yakni berpuasa dengan penuh keimanan serta mengharap pahala dari Allah SWT.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa siapa yang berpuasa dan menegakkan ibadah di bulan Ramadhan dengan iman dan penuh pengharapan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Ramadhan memiliki banyak sebutan yang masing-masing mengandung makna mendalam. Di antaranya adalah Syahru Siyam (bulan puasa), karena pada bulan ini umat Islam yang telah memenuhi syarat diwajibkan berpuasa. Bahkan anak-anak pun mulai dilatih untuk belajar menunaikan ibadah tersebut.
Ramadhan juga disebut Syahru Rahmah (bulan kasih sayang), karena pada fase awal bulan ini Allah melimpahkan rahmat-Nya. Baca juga Niat Puasa yang Benar Jangan Sampai Salah
Hal itu tampak dari meningkatnya semangat umat Islam dalam beribadah, baik puasa di siang hari, shalat tarawih di malam hari, maupun berbagai amal kebaikan lainnya. Baca juga Lima Hal yang Harus Kita Siapkan Saat Ramadhan
Selain itu, Ramadhan dikenal sebagai Syahru Maghfirah (bulan ampunan). Pada bulan ini, Allah SWT membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh memperbaiki diri.
Ramadhan juga disebut Syahru Qur’an sebab pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Namun yang paling ditekankan di sini diadalah makna Ramadhan sebagai Syahru Tarbiyah, yakni bulan pendidikan.
Puasa, jelasnya, melatih kedisiplinan yang dimulai dari niat. Tanpa niat yang benar dan disiplin waktu, puasa bisa kehilangan keabsahannya.
Lebih dari itu, puasa mendidik umat Islam untuk berlaku jujur. Tidak ada pengawasan manusia dalam ibadah puasa, tetapi seorang hamba tetap menahan diri karena sadar bahwa Allah Maha Melihat.
“Puasa bukan untuk dipuji atau disanjung, melainkan semata-mata untuk meraih ridha Allah dan menjadi pribadi yang bertakwa,”
Hindari penyakit EKSIB
Bulan Ramadhan juga momen membersihkan diri dari penyakit rohani yang disingkat dengan istilah “EKSIB”:
E, Egois, kita diajarkan untuk peduli dan menghargai orang lain.
K , Kasal (malas), penyakit yang mengganggu kinerja dan prestasi. Doanya: Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal.
S, Sombong, puasa mengajarkan kita rendah hati dan santun.
I – Iri
B, bakhil, sifat yang menjauhkan kita dari Allah.
Sifat-sifat ini harus dihindari karena dapat merusak kualitas ibadah dan kehidupan sosial.
Mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, orang yang dermawan akan dekat dengan manusia, dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Sebaliknya, orang yang bakhil akan jauh dari manusia, jauh dari Allah, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka.
Selain itu umat Islam dianjurkan memperbanyak amal sosial, termasuk memberi makan kepada orang yang berpuasa.
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang memberi makan orang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala sedikit pun.
Melalui momentum Ramadhan, umat Islam diharapkan mampu menjadikan bulan suci ini sebagai sarana tarbiyah untuk membentuk pribadi yang disiplin, jujur, rendah hati, serta dermawan, dem
i meraih derajat takwa di sisi Allah SWT.





