KH Ahmad Daelami: Apa itu Takwa?

NU Cilacap Online — Takwa (تقوى) terdiri dari empat huruf hijaiyah yakni Ta, Qof, Wawu, dan Ya, yang masing-masing huruf memiliki arti dan maknanya. Berikut ini Tausiyah Wakil Rais Syuriyah PCNU Cilacap KH Ahmad Daelami menjabarkan apa itu Takwa.

KH Ahmad Daelami Lc menyampaikan dalam tausiyah silaturahmi dan buka bersama PCNU Cilacap, pada Sabtu (7/03/2026), menyebutkan arti takwa, yang oleh para ulama pesantren, dan dalam tradisi keilmuan Islam, menjabarkan bahwasanya takwa (تقوى) terdiri dari empat huruf hijaiyah yang masing-masing mengandung filosofi mendalam mengenai hakikat menjaga diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Berikut adalah penjabaran takwa berdasarkan huruf-hurufnya:

Pertama, Huruf Ta (ت) – Tawadhu’ (تواضع): Artinya rendah hati. Orang yang bertakwa tidak sombong, sadar akan kelemahan diri di hadapan Allah, serta menghargai sesama manusia.
Ta yang berarti dari kalimat tawadhu’ adalah orang yang andap asor, merendah, dan dia merasa paling jelek sedunia.

Apabila melihat orang lain lebih jelek dari kita maka belumlah disebut tawadhu’. Mengapa? karena Orang yang dikatakan tawadhu’ itu dirinya merasa paling jelek.

Adapun sombong, dikatakan siapa yang takabur sebiji duroh pun tidak akan masuk sorga. Hati-hati tawadhu’ tidak bisa dibuat-buat, ibaratnya batu kalau dilempar jatuhnya ke bawah. Tapi kalau gabes, selalu muncul walau sekiankali ditenggelamkan.

Takabur itu sifat pengakuan, bahwa ada kebaikan dalam diri. Karena siapa yang ingat kejelekan orang lain, pasti dia orang sombong.
Dan apabila ketemu orang tidaklah akan nyaman, tidak plong, tidak bahagia.

Jadi agar bertemu siapapun bisa merasakan nikmatnya nyaman maka lupakan kesalahan orang lain, baik Kelemahannya, kejelekannya. Dengan demikian maka kita akan nikmat saat bertemu siapa pun.

Kedua, Qof (ق) – Qana’ah (قناعة): Artinya merasa cukup. Orang yang bertakwa menerima dengan ridha segala rezeki yang diberikan Allah, tidak tamak, dan selalu bersyukur

Qof adalah Qonaah atau nrima ing pandum. Syaratnya harus memiliki mahabbah yakni mengagungkan Allah SWT dengan sungguh-sungguh.

Kenapa ada keluhan karena belum sepenuhnya mahabbah kepada Allah SWT. Sebab ketika dikasih sediit kok ngeluh berarti mahabbahnya belumlah besar. Sebagai contoh seorang pemuda dikasih sedikit balasan dengan secarik lembar kertas surat cinta, begitulah dia merasakan kebahagiaan.

Tapi mengapa dikasih Allah dikit tidak bahagia? Jangankan selembar kertas dijiwit pun tetap senang. Dijiwit dengan ujian Allah kok ngeluh, karena cintanya pada Allah itu tidak maksimal. Dan dalam mengagungkan Allah belum maksimal sehingga berpeluh kesah.

Ketiga, Wawu (و) – Wira’i (ورع): Artinya berhati-hati. Orang yang bertakwa sangat berhati-hati dalam bertindak, takut menjatuhkan diri pada perkara yang haram, atau bahkan perkara syubhat (yang samar kehalalannya maupun keharamannya).

Wira’i sebagai laku kehati-hatian, dalam kehidupan seperti orang berjalan malam hari, petang dan licin. Artinya perlu kehatian-hatian dan mawas diri dalam menjalani kehidupan.

Keempat, Ya (ي) – Yaqin (يقين): Artinya yakin. Orang yang bertakwa memiliki keyakinan yang teguh kepada Allah SWT, iman yang kuat, dan tidak mudah goyah oleh ujian kehidupan.
Yakin kepada Allah pastinya lebih baik. Yakin bahwa Allah ysng paling mulia, yang paling agung, yang paling kita cintai.

Kalau pun tidak yakin maka keyakinannya lemah. Dengan keyakinan yang kuat pada Allah SWT akan menambahkan kekuatan iman kita, Islam kita sehingga betul-betul jadi orang yang bertakwa yang kita semua harapkan, ending dari pada ibadah puasa.

Takwa bermula dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang berarti menjaga atau melindungi diri. Maka, takwa bukan sekadar takut kepada Allah, melainkan kesungguhan menjaga diri dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, yang didorong oleh mahabbah, rasa cinta dan iman yang mendalam kepada Allah SWT dan Nabi-Nya. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button