Hj Arifah Fauzi; Tiga Pemicu Angka Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

NU CILACAP ONLINE – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Hj Arifah Fauzi, menyoroti fenomena memprihatinkan terkait angka kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih tinggi di Indonesia.

Dalam acara silaturahmi dan halal bihalal yang diinisiasi oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap pada Jumat (26/03/2026), dirinya membedah akar permasalahan yang terjadi di masyarakat saat ini.

Menurut Hj. Arifah Fauzi, setidaknya ada tiga faktor utama yang menjadi pemicu terjadinya tindak kekerasan tersebut:

“Saya melihat, kenapa angka kekerasa terhadap perempuan dan anak semakim tinggi. Yang pertama karena tekanan Ekonomi,” katanya.

Faktor ekonomi masih menjadi pemicu klasik namun fundamental. Ketidakstabilan finansial dalam rumah tangga seringkali menimbulkan stres dan ketegangan yang berujung pada tindakan kekerasan fisik maupun verbal. Baca juga Menteri PPPA Hj Arifah Fauzi Ingatkan Jangan Cari Hidup di NUĀ 

Yang kedua pola asuh yang Keliru.
Menteri PPPA menekankan bahwa cara mendidik anak dalam keluarga telah mengalami pergeseran. Dia menilai banyak orang tua yang kehilangan kedekatan emosional dengan buah hatinya. Baca juga PW Fatayat NU Jateng Deklarasikan Tolak Kekerasan Terhadap PerempuanĀ 

“Mungkin sudah jarang diajak bicara, jarang kita tatap matanya, dan jarang dicium keningnya. Kedekatan emosional itu sudah pudar,” ungkapnya.

“Faktor ketiga adalah tantangan digital. Media sosial menjadi sumber keluhan banyak ibu muda karena dianggap menyulitkan proses pengasuhan,” tukasnya.

Ketum PP Muslimat NU ini juga mengkritik kebiasaan orang tua yang memberikan gawai (HP) sebagai solusi instan saat anak rewel atau susah makan.

Selain tiga faktor tersebut, Hj Arifah Fauzi juga menyinggung perubahan tatanan sosial di lingkungan bertetangga.

Jika dulu antar-tetangga saling menjaga dan berani menegur anak-anak yang bermain hingga larut, kini masyarakat cenderung lebih individualis.

“Sekarang jangan berani-berani menegur anak tetangga, bisa jadi masalah. Dunia sudah berubah,” imbuhnya.

Pesan Hikmah dari Pesantren

Dalam kesempatan tersebut, ibu menteri membagikan pesan menyentuh dari Tuan Guru Turmuzi asal NTB yang sempat beliau kunjungi.

Pesan tersebut mengingatkan para ibu bahwa mengasuh anak yang sedang rewel dengan penuh kasih sayang memiliki nilai spiritual yang tinggi.

“Ketika anak menangis dan ibu memeluk serta membujuknya agar berhenti, pada saat itulah seorang ibu sedang menggugurkan dosa-dosanya,” tuturnya mengutip pesan sang Kyai.

Menutup arahannya, Menteri PPPA menitipkan pesan agar setiap keluarga memperkuat fondasi internal mereka.

Dia menegaskan bahwa Indonesia masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga generasi yang memiliki adab.

“Indonesia tidak hanya butuh anak-anak yang pintar, akan tetapi Indonesia butuh anak-anak yang mempunyai budi pekerti dan akhlakul karimah,” pungkasnya.

Penulis Naeli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button