Berangkat dari kegersangan dan ruang batin kosong spiritual dan meluruskan arah gerak yang jernih serta rasa prihatin dari JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah An Mu’tabarah An Nahdliyyah) terhadap realitas pada Mahasiswa, maka JATMAN merasa perlu membentuk sebuah wadah untuk melakukan pendidikan terhadap mahasiswa sehingga menjadi generasi muda dan calon pemimpin bangsa yang memiliki integritas tinggi dengan basis spiritual dan intelektual. Di samping itu, sebagai ikhtiyar JATMAN dalam melestarikan Islam ‘ala Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat, toleran dan inklusif di lingkungan perguruan tinggi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam konteks inilah, deklarasi organisasi Mahasiswa Ahlith Thariqah an-Nahdliyyah (MATAN) menjadi sebuah keniscayaan bagi JATMAN dan masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia pada umumnya sebagai sebuah upaya konkrit atas penyelesaian problematika sosial politik dan krisis moral bangsa ini. Selengkapnya tentang Dasar Pemikiran Pembentukan MATAN sebagai berikut;

MATAN Dasar Pemikiran

Thariqah merupakan wahana yang berusaha memberikan dan mengisi ruang batin dengan kejernihan hati. Melahirkan kebersihan diri dan berwujud pada tindakan dan gerak yang bersifat objektif (tidak konservatif dan normatif saja). Karena Thariqah merupakan sebuah ilmu untuk mengetahui hal ikhwalnya nafsu dan sifat-sifatnya. Membentuk jiwa yang kokoh berdasarkan kejernihan berfikir dan bisa membedakan mana yang tercela kemudian dijauhi dan ditinggalkan, dan kemudian yang terpuji diamalkan. Thariqah akan melahirkan dan menjadi sumber kehidupan yang berlandaskan pada konsep spiritual. Dari kejernihan hati pulalah akan mendapatkan dan mendatangkan kejernihan tindakan sosial murni. Tidak sebatas jargon maupun tindakan yang hampa dan berhenti pada tatanan elitis

Thariqah juga berupaya melestarikan Islam ‘ala Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang moderat, toleran dan inklusif secara konsisten dalam bidang syari’at, hakikat dan ma’rifat di tengah masyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Untuk itu dipandang perlu perluasan sayap Thariqah yang merupakan visi dari Lajnah Pemberdayaan SDM yang berada dalam sistem kepengurusan dalam organisasi Thariqah. Serta sebagai bagian tindakan gerak dari pencapaian tujuan dari PD-PRT yang tertuang dalam pada Pasal VI, di mana Thariqah mensosialisasikan semangat nasionalisme di tengah-tengah masyarakat dengan menghindari terjadinya konflik-konflik, baik antara penganut Thariqah maupun anggota masyarakat lainnya.

Karena itu, Jam’iyyah Ahlith Thariqah An Mu’tabarah An Nahdliyyah (baca: JATMAN) merupakan organisasi terbuka bagi siapa pun yang berpaham Islam ’ala hlussunnah wal Jama’ah untuk menjadi anggota, sebagaimana ketentuan yang sudah diatur pada PD-PRT (termasuk salah satunya sosok mahasiswa). Bahkan anggota dari kalangan muda justru memiliki kedudukan strategis untuk menjadi anggota Thariqah, karena di samping mereka memiliki kedudukan strategis di tengah masyarakat, bangsa dan Negara juga merupakan bagian dari upaya mengimplentasikan amanat Rasulullah saw, sebagaimana riwayat hadits yang menyebutkan bahwa anak muda yang memiliki kekuatan spiritual (qalbu) melalui kedekatannya (mu’allaqun) dengan rumah-rumah Allah (masajid) menjadi salah satu dari tujuh kelompok yang memperoleh jaminan keselamatan di akherat nanti.

Selama ini Thariqah sudah membumi dan mengakar di kalangan masyarakat luas yang pada umumnya adalah orang-orang tua. Padahal Thariqah sangat memberikan pintu kemaslahatan bagi semua usia, seyogyanya juga harus mengakar pada kalangan muda terutama mahasiswa karena mahasiswa merupakan sosok agen perubahan, baik dalam tatanan sosial politik maupun dalam menciptakan terobosan sistem dalam bentuk tindakan dan gerak sosial. Bahkan mahasiswa memiliki kedudukan strategis sebagai generasi penerus dan calon pemimpin bangsa ini. Dalam konteks ini seorang mahasiswa harus memiliki jiwa yang tangguh dan bersifat jangka panjang (visioner), baik dalam bidang intelektual, sosial maupun politik tanpa harus meninggalkan konsep spiritual. Sehingga benar-benar mampu mereka memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Kemampuan intelektual dan kekritisan mahasiswa yang melahirkan sebuah gejala baru dan perubahan yang sangat luar biasa. Akan sangat ideal jika sosok mahasiswa memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Sehingga mahasiswa tidak terjebak dalam lingkungan pemikiran yang sempit dan cenderung didasarkan pada nafsu. Hal ini menimbulkan pemikiran-pemikiran subyekif dan ekstrimis. Oleh karena itu, diperlukan sebuah pendekatan yang menggabungkan dan memadukan antara kecerdasan intelektual (akal), emosional dan spiritual (hati) di kalangan mahasiswa sebagai bentuk riil penyelesaiannya.

Untuk menyeimbangan kemampuan intelektual, sosial, dan spiritual tersebut di atas mahasiswa harus memiliki dasar yang kuat (Thariqah/tasawuf) demi terciptanya perubahan yang bersifat obyektif. Dasar yang memiliki gerak riil yang mengakar dan tidak memuat kepentingan yang pragmatis. Inilah yang sangat sulit ditemukan dalam jiwa seorang mahasiswa yang kritis. Bahkan sering kali melahirkan sikap radikalis dan eksklusif yang diakibatkan oleh frustasi atas arah gerak dan tindakan. Karena aksi dan gerakan mereka jauh dari kekuatan batin (thariqah/tasawuf) yang menekankan pada cinta dan kasih sayang (rahmah wa syafaqah) terhadap diri, sesama dan makhluk lain.

Kebanyakan tindakan mahasiswa saat ini yang tidak dilandasi oleh konsep spiritual melahirkan sikap gegas (rushed), ganas (anarchy), gersang (humorless) yang diakibatkan tidak memiliki rasa cinta dan kasih sayang (rahmah wa syafaqah). Untuk itu sangat diperlukan sekali jalan spiritual yang benar-benar tidak terjebak pada konsep subjektifitas. Disadari atau tidak kekolotan pandang spiritual bagi mahasiswa sudah menjangkit (bersifat normatif dan konservatif). Bukti riil mahasiswa jauh dari konsep spiritual bisa dilihat dari hasil tindakan dan gerak yang mementingkan kepentingan mahasisiwa secara individual dan gerak yang hampa. Dan terlalu mengagung-agungkan dirinya hingga merasa paling benar dirinya sendiri atau kelompoknya sendiri. Semua ini karena adanya kekosongan ruang batin (Ketentraman Illahiyah) dalam dirinya.

Berangkat dari kegersangan dan ruang batin kosong spiritual dan meluruskan arah gerak yang jernih serta rasa prihatin dari JATMAN terhadap realitas pada Mahasiswa, maka JATMAN merasa perlu membentuk sebuah wadah untuk melakukan pendidikan terhadap mahasiswa sehingga menjadi generasi muda dan calon pemimpin bangsa yang memiliki integritas tinggi dengan basis spiritual dan intelektual. Di samping itu, sebagai ikhtiyar JATMAN dalam melestarikan Islam ‘ala Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat, toleran dan inklusif di lingkungan perguruan tinggi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Dalam konteks inilah, deklarasi organisasi Mahasiswa Ahlith Thariqah an-Nahdliyyah (MATAN) menjadi sebuah keniscayaan bagi JATMAN dan masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia pada umumnya sebagai sebuah upaya konkrit atas penyelesaian problematika sosial politik dan krisis moral bangsa ini.