Wayang dan Simbol Kehidupan; Bima Satria Penegak Pandhawa
Oleh Toufik Imtikhani

NU CILACAP ONLINE – Bima adalah salah satu tokoh wayang yang bisa diinterpretasikan ke dalam banyak hal. Seorang satria panegak Pandawa. Soko guru, dan ia merupakan anak nomor dua Dewi Kuntinalibrata dengan Prabu Pandu Dewanata. Pandawa berjumlah lima, melambangkan rukun islam yang lima. Nomor satu, Puntadewa yang memiliki jimat kalimasada, kalimat sahadat, sebagai landasan seorang muslim.
Bima, kita fokus kepada tokoh ini. Bima anak nomor dua, yang melambangkan sholat. Makanya disebut satria panegak Pandawa, karena panegak, yang membuat tegak, Bima adalah soko guru, tiang besar. Ini identik dengan sabda Nabi SAW
الصَّلاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ، فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنَ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنَ
Sholat adalah tiang agama. Barang siapa mendirikan sholat naka dia mendirikan agama. Barangsiapa meninggalkan sholat, maka dia meruntuhkan agama.
Itulah makna sholat, nomor dua, Bima, soko guru penegak Pandawa. Makanya figur Bima itu besar, tinggi, kokoh dan kuat, karena fungsinya sebagai soko guru yang bisa menegakkan sebuah bangunan, yang bernama Islam. Sabda Nabi SAW:
بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Demikian juga sholat, harus kokoh dan kuat. Karena ia soko guru agama. Agama akan terlihat dari akhlak, moral. Sholat yang kokoh dan kuat, akan membentuk moralitas yang baik, sebagaimana disebut dalam Quran: Al an Kabut:45
وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ ۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ
Sholat, soko guru yang kokoh, akan menjaga dari kehancuran sebuah bangunan, dari kerusakan dan keburukan yang merongrong. Bahkan sholat, akan memberi pengaruh yang baik kepada semua aspek bangun keislaman dan kehidupan manusia. Baca juga Wayang dan Simbol Kehidupan Part 1
Bima, simbol ketaatan seorang murid
Bima, atau werkudara, itu seorang santri, murid, dari gurunya yang bernama Pandita Durna. Dalam pemahaman umum, Durna itu orang yang buruk. Tetapi dalam versi India, justru Durna itu seorang guru yang baik. Baca juga Memahami Falsafah Pamomong Dalam Wayang
Durna adalah guru dari semua keturunan Mahabharata. Dan salah satu murid terkasihnya adalah Bima. Pada suatu waktu, Durna memerintahkan Bima untuk mencari sarang angin. Suatu perintah yang mustahil. Tapi karena taat kepada guru, maka Bima tanpa banyak tanya, langsung sami’na wa atho’na. Dalam kitab Ta’limul muta’alim disebutkan, bahwa sekian syarat menuntut ilmu adalah hormat pada guru.
Berbagai rintangan untuk mencari sarang angin, dihadapi oleh Bima. Dan semua rintangan itu dapat di lalui, Bima kemudian sampai ke dasar lautan. Di situlah Bima bertemu dengan Dewa Rutji, atau Sang Hyang Wenang. Bima kemudian mendapatkan Tirta Amerta, air kehidupan.
Tubuh Bima yang besar, masuk ke dalam tubuh Dewa Rujti yang kecil. Sebagai lambang, bahwa dunia material, tidak ada artinya bagi Tuhan. Fisik, pangkat drajat di hadapan Tuhan itu tidak penting. Kemuliaan itu ditentukan oleh ketaqwaan. Inna akromakum ‘indalloohi atqookum.
Keberhasilan Bima bertenu dengan Sang Hyang Wenang dan memperoleh tirta amerta, tidak semata mata karena ketaatan kepada perintah guru tanpa reserve. Pertemuan bahkan al ittihad Bima dengan Sang Hyang Wenang, karena didasarkan atas kesucian dan ketaqwaan diri.
Di awal telah saya sebutkan, bahwa Bima memiliki tiga istri. Dua di antaranya, adalah istri-istri yang dapat melambangkan hawa nafsu, yaitu Arimbi yang berwujud rasaksa perempuan, dan Nagagini, yang berwujud ular. Bima memperistri keduanya, artinya Bima dapat menundukan hawa nafsu.
Setiap yang bisa menundukan hawa nafsu, maka dia menjadi jiwa yang suci. Tuhan Maha Suci. Hanya sesuatu yang suci pulang yang dapat bertemu, bahkan melebur dengan-Nya. Itulah nilai-nilai tassawwuf dari ajaran tentang Bima.
Bimbingan dan ketaatan kepada guru, tetap menjadi bagian yang integral dari proses ini. Durna mengajarkan kepada Bima, untuk menjadi seorang salik, agar menemukan kebenaean yang hakiki. Tuhan memberi pengetahuan kepada Bima tentang diri-Nya. Suatu pengetahuan yang tidak akan terbantah oleh siapapun.
Namun begitu, jalan syareat, syarat, methode tetap ditempuh. Bima menjadi satu-satunya tokoh wayang yang memperoleh pengetahuan tertinggi dan pertemuan dengan Tuhannya.
Penulis: Toufik Imtikhani
Editor: Naeli Rokhmah





