Ma’mumku Orang Wahabi

Oleh: Toufik Imtikhani*)

NU CILACAP ONLINE – Pegal dan lelah usai menempuh perjalanan jauh dari Yogyakarta menuju Cilacap naik motor, saya memutuskan mampir di sebuah masjid daerah Buntu untuk shalat Maghrib. Karena jamaah utama sudah usai, saya pun shalat sendiri dengan bacaan yang dikeraskan. Tiba-tiba, ada yang menepuk pundak menandakan ia ingin menjadi makmum. Belum sempat rakaat pertama selesai, jeriji dan betis kakinya langsung menempel rapat ke kaki saya. Sambil membatin dalam hati, “Wah, orang Wahabi ini…”—memangnya kenapa kalau makmum saya seorang Wahabi?

Kemarin, di usia tepat ke 54 tahun, penulis bersama istri, bernostalgia pergi ke Yogyakarta dengan naik motor. Sebelumnya dari Cilacap, mampir Kutoarjo, terus lewat Grabag, Ketawang, Ngombol, Temon, Glagah, Wates, Panjatan, Brosot, sampai Bantul. Itulah wilayah-wilayah yang dahulu sering dilewati. Setelah itu ke Berbah Sleman, menjenguk anak ke-2 yang sedang kuliah di jurusan arsitektur UIN Sunan Kalijaga. Menginap satu malam, kemudian pulang kembali ke Cilacap.

Setelah melewati dinamikanya jalan raya, lelah dan capai, pantat terasa panas, penulis mampir di Masjid perempatan Buntu. Sudah lebih dari dua puluh tahun tidak mampir di masjid ini. Padahal waktu masih bujang, cukup sering.

Toufik Imtikhani

Penulis mampir untuk sholat maghrib. Karena jamaah sudah selesai, penulis akhirnya sholat sendiri dengan bacaan jahr.

Tiba-tiba ada orang menepuk pundak penulis. Suatu isyarat meminta jamaah. Jeriji jari kakinya ditempelkan ke jeriji jari kaki penulis. Betisnya pun disenggolkan kepada betis kakiku. Ini orang wahabi.. batinku.

Hi.. hi. hi… sholat kok membatin. Sholat jalan terus. Basmalah di al fatihah dan suratan tetep aku baca jahr. Dan orang wahabi itu tidak mufaroqoh dan tetep makmum sampai sholatnya selesai. Dia mendapati penulis sholat dua roka’at. Setelah penulis salam, dia melanjutkan sholat. Sementara sambil wirid, penulis melirik ke wahabi tersebut. Usia sekitar 50 tahun, celana cingkrang, jenggot 20 cm, sekepal dan memutih. Baju, pakai baju model Thaliban.

Wahabi memang banyak varian. Ada yang radikal, model Abu Bakar Ba’asyir, Jakfar Umar Thalib, dan para teroris bom Bali. Radikalnya pun bervariasi. Ada yang radikal pemikiran, ada yang radikal gerakan, atau dua duanya.

Tapi ada juga yang moderat. Ustadz Fikri Jakfar Umar Thalib ( putra Jakfar U Thalib) itu moderat. Tapi beliau bukan wahabi-salafi Tapi Muhammadiyah. Di Muhammadiyah ada juga yang cenderung salafi, atau menurut Prof Abdul Mu’thi menyebutnya, musa. Muhammadiyah salafi. Ustadz Mujiman mungkin dapat dimasukan katagori ini. Ustadz Adi Hidayat adalah warna lain di Muhammadiyah. Ia sisi keseimbangan dari kehadiran Musa di Muhammadiyah. UAH sangat kental nuansa NU-nya. Beliau masuk golongan munu, atau Muhammadinu. Muhammadiyah rasa NU.

Perbedaan furu’ dan khilaf

Di Wates Kulonprogo, saya dulu kost di rumah tokoh Muhammadiyah. Tapi punya menantu wahabi. Meskipun demikian, dia tidak selalu minta jadi imam jamaah. Bahkan kadang mendorong penulis untuk menjadi imam. Dan dia sendiri menjadi makmumnya.

Di masjid kecil penulis juga pernah kedatangan wahabi muda. Dia ikut sholat berjamaah. Namun jamaah lain merasa terganggu sebab jari kakinya yang menempel ke jamaah lain selalu bergerak-gerak. Hal inilah yang disampaikan kepada penulis.

Pada suatu kesempatan, penulis dan wahabi muda itu janaah berdampingan. Betul juga yang disampaikan orang-orang. Jari kakinya yang menempel ke jari kaki saya, terus bergerak sepanjang berdiri sholat.

Aswaja (NU) dan wahabi (salafi), selama ini berada di posisi diametral. Perbedaan furu’ dan khilaf, adalah wilayah demarkasi yang sulit dijembatani. Perbedaan dan perdebatan terus terjadi, baik di dunia nyata atau dunia maya. Bahkan dunia maya telah menjadi medan kurusetra pertempuran antar darah mahabharata keturunan dan pemeluk satu agama.

Terpikirkan, mungkin di dunia maya banyak distorsi informasi dan miskomunikasi. Beberapa satria aswaja dan wahabi saling tantang perang tanding di medan perdebatan yang sesungguhnya. Namun bukan titik temu atau konvergensi yang didapatkan. Gus Ajir Ubaidillah, layaknya Sri Kresna yang menjadi duta pandawa aswaja, malah dibully dan dihina. Gus Ajir kemudian tiwikrama. Seolah membesar, membawa balatentara aswaja untuk tampil membela.

Paska duta dan perdebatan itu, genderang perang malah semakin keras dibunyikan. Bahkan kecamuk perang mulai terjadi. Kesatria aswaja yang gagah berani, Ustadz Adi Hidayat, melempar panah Ardedali bagai Sang Harjuna. Membidik secara tepat kepada sasaran inti pasukan supit urang para wahabi. Ia mengatakan bahwa Nashiruddin Al Albani hanyalah bakhistul hadist, bukan muhaddist.

***

Kaum wahabi terbakar. Mereka bermunculan bagai sela blekiti. Sela itu batu, blekiti adalah semut. Bagai barisan semut yang keluar dari dalam batu.

Kesatria andalan mereka, berjalan paling depan. Heri Pras, satria pilih tanding, dengan kemampuan ilmu kanuragan, merangsek menusuk kepada pasukan aswaja. Ada juga Ustadz Ahmad Ubaidillah, Ustadz Toyyib, dan para pendekar Wahabi lainnya yang selama ini memang sudah merajai dunia persilatan maya. Semua telah matek aji jaya kawijayan dan guna kasantikan masing-masing.

***

Namun, masih banyak pendekar dan kesatria aswaja yang nampak tenang, dan menganggap serangan wahabi itu hal yang tidak penting. Para kesatria ini terus menyibukkan diri membina para cantriknya, serta melakukan konsolidasi internal. Bahkan masih banyak di antara para ksatria aswaja ini guyonan.

Gus Iqdham, malah asyik ngajar ngaji kepada siapa saja, tanpa pandang bulu, sambil menghibur para cantrik agar bahagia, senang, di tengah kehidupan dunia yang sulit dan serius. Gus Iqdham membawakan warna Islam yang penuh suka cita. Bermusik, sedikit bergoyang, tertawa bahagia. Dengan seperti itu, lahirlah rasa syukur karena nikmat Alloh berupa apa saja, dan tentunya nikmat islam yang membawa dan menjanjikan kegembiraan, bukan ketakutan.

***

Sebagai orang yang lahir dengan “fitrah” NU-nya, penulis tentu merasa menjadi bagian dari “pasukan ” NU, walau mungkin pasukan terakhir dan tidak penting. Membela NU sebetulnya banyak cara dan pilihannya. Kyai Idrus Romli, Gus Wafi, Gus Ajir, Sani Uye, atau yang lainnya, memilih menyerang balik wahabi karena berbahaya bagi aswaja. Tapi juga ada yang memilih penguatan internal umat. Seperti Gus Iqdham, Gus Kautsar,, Gus Baha, dll. Penulis secara pribadi, juga ngurusi umat yang sangat terbatas, para orang tua, ibu-ibu pengajian di lingkungan, agar tetap istiqomah dengan manhaj aswaja. Tegasnya NU.

***

Pada suatu kesempatan lain menjelang jamaah sholat, penulis menyampaikan kepada bocah wahabi tersebut, bahwa boleh tidak mengapa menempelkan jari kaki, asal diam jangan gerak terus. Sebab mengganggu jamaah lain yang jari kakinya ditempeli. Setelah peristiwa itu, bocah wahabi itu tidak kelihatan lagi di masjid kami.

Penulis juga punya langganan servic AC mobil orang wahabi. Jenggotnya lebat, tubuhnya kekar, celananya cingkrang. Kami berteman, walau tidak akrab sekali. Hal yang penulis sukai dari dia adalah kejujuran dalam melayani pelanggan. Disamping itu cara kerjanya juga bagus, rapi dan baik.

Waktu penulis SMP 1984-1987, punya teman akrab satu bangku, juga punya hoby ada yang sama. Ketika SMA penulis mendengar bahwa dirinya aktif di rohis sampai kemudian ketika kuliah. Beberapa tahun kemudian, penulis mendengar bahwa teman tadi telah menjadi tokoh salafi-wahabi. Reputasinya cukup baik, karena punya basic ekonomi yang mapan.

Namun hubungan kami tetap baik, walau dia tahu bahwa penulis seorang NU yang fanatik. Ketika bapak penulis wafat, dia juga datang beberapa hari setelah bapak dimakamkan.

Jadi, wahabi atau wahabi salafi, tidak bisa digebyah uyah. Masih banyak juga diantara mereka yang toleran. Sikap toleran mereka bisa disebabkan bahwa akar tradisi keagamaan mereka tidak sepenuhnya tercabut oleh paham wahabi yang mereka anut kemudian hari, atau luasnya ilmu dan wawasan yang mereka miliki.

Bukan hal mudah untuk menghilangkan tradisi lama yang telah dilakukan dari generasi ke generasi. Residu dan sedimentasi itu telahin mengubah paham keagamaan, menjadi konfigurasi dan konstruksi sosial yang kokoh dan kuat. Kata dan istilahnya telah menjadi lingua franca. Fondasinya sudah terlalu dalam untuk dapat dibongkar begitu saja. (Toufik Imtikhani)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button