Waspada Generasi Stroberi, ini Sikap Kakan Kemenag Cilacap

NU CILACAP ONLINE – Kemajuan teknologi diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang perlu disikapi dengan bijak. Jika tidak diantisipasi dengan baik, kemudahan teknologi justru dapat memicu lahirnya generasi stroberi, generasi yang fasilitas hidupnya terpenuhi namun mentalnya rapuh. Hal ini disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cilacap, H. Aziz Muslim, saat menghadiri Musyawarah Anak Cabang (Musancab) Dewan Perwakilan Anak Cabang (DPAC) Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kecamatan Kesugihan.
“Kondisi yang lebih memprihatinkan adalah semakin menurunnya minat anak-anak terhadap Al-Qur’an,” ujarnya di Gedung Madin Al Hidayah, Platar Kesugihan (26/1/2026).
Fenomena tersebut dinilai sebagai persoalan serius yang membutuhkan perhatian dan kerja bersama dari seluruh elemen, khususnya lembaga pendidikan keagamaan.
“Minat anak-anak terhadap Al-Qur’an semakin menurun. Di sinilah peran Madrasah Diniyah menjadi sangat penting untuk memperkuat pondasi iman dan akhlak generasi,” ujar H Aziz Muslim.
Dia menjelaskan, kemajuan teknologi di satu sisi memberi kemudahan, namun di sisi lain menghadirkan tantangan besar dalam dunia pendidikan keagamaan.
Anak-anak semakin sulit dikontrol dalam mengakses informasi, terlebih pasca pandemi Covid-19 yang membuat mereka terbiasa belajar secara daring.
“Saat pandemi, anak-anak belajar daring. Tapi faktanya bukan belajar, justru banyak yang bermain gim. Akibatnya muncul kecanduan gadget,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, berpotensi menjadikan anak-anak bersikap asosial, kurang mengenal lingkungan sekitar, malas bergerak, serta cenderung manja.
Fenomena inilah yang kemudian melahirkan istilah generasi stroberi.
Meski demikian, Aziz Muslim tetap memberikan apresiasi kepada TPQ dan Madrasah Diniyah yang mampu bertahan dan bahkan memiliki jumlah santri hingga ratusan orang.
“Ada TPQ yang santrinya 150 bahkan 200. Ini adalah bukti kerja cerdas dan kerja keras para guru ngaji,” katanya.
Dia juga menyoroti hadirnya Undang-Undang Pesantren sebagai angin segar bagi dunia pendidikan Islam. Baca juga Kakan Kemenag Cilacap Imbau Santri Asah Diri
Pentingnya Advokasi Guru Ngaji
Negara, menurut Aziz, kini tidak hanya hadir dalam aspek pendanaan, tetapi juga advokasi dan pendampingan.
Kasus guru ngaji di Demak menjadi pengingat pentingnya perlindungan dan pendampingan hukum bagi para pendidik keagamaan.
Dalam menghadapi tantangan zaman, Aziz Muslim menegaskan bahwa guru ngaji dituntut untuk terus berinovasi dan melakukan elaborasi metode pembelajaran agar Madrasah Diniyah tetap menarik bagi anak-anak.
“Ilmu tanpa iman akan lepas kendali, sebaliknya iman tanpa ilmu tidak akan dinamis,” tegasnya.
Terkait Madrasah Diniyah yang belum memiliki izin operasional, ia meminta agar kendala yang ada dipantau dan dicarikan solusi bersama.
“Kalau kita ikhlas dan sungguh-sungguh, pasti akan ada jalan kemudahan yang tidak kita sangka,” tambahnya.
Kakan Kemenag Cilacap juga menyampaikan bahwa salah satu ciri organisasi yang sehat adalah melakukan reorganisasi tepat waktu.
Reorganisasi DPAC FKDT yang telah berjalan dinilainya sebagai tanda bahwa FKDT berada di jalur yang benar (on the track).
Sementara itu, Ketua FKDT Kecamatan Kesugihan, Kiai Mahruri, dalam sambutannya menyampaikan bahwa guru ngaji memiliki peran sosial yang besar di tengah masyarakat.
“Guru ngaji itu pamong. Apa-apa diomong. Salah sedikit saja bisa jadi bahan pembicaraan,” ujarnya sedikit berkelakar.
Sementara , mewakili FKDT Kabupaten Cilacap, Nur Faiqoh, yang menyebut Musancab di Kesugihan sebagai putaran ke-21 dari rangkaian Musancab FKDT se-Kabupaten Cilacap.
“Harapannya FKDT Cilacap bisa turun dan terbentuk secara maksimal di seluruh 24 kecamatan,” katanya.
Nur Faiqoh menegaskan bahwa FKDT memiliki struktur organisasi yang lengkap dari tingkat kecamatan, kabupaten hingga pusat. Kabupaten Cilacap sendiri dikenal sebagai kabupaten terluas sekaligus FKDT yang paling kompak di Jawa Tengah.
Nur Faiqoh juga menyoroti kendala Madrasah Diniyah yang belum memiliki izin operasional maupun belum menerima insentif, yang sebagian besar disebabkan oleh lemahnya kemampuan IT pengelola lembaga.
“Mumpung ada Pak Kakan Kemenag, kami mohon agar fasilitas dan pendampingan Madrasah Diniyah bisa lebih diperhatikan,” pintanya.
Nur Faiqoh juga menegaskan pentingnya menjaga semangat kebersamaan dalam organisasi.
“Kalau kita sudah tidak senang dalam FKDT, ini berbahaya,” pungkasnya.





