Ranggalawe, Ahad Wage, dan Pemilihan Petinggi NU Muktamar Ke 35 di Tambakberas: Kembali ke Adab dan Musyawarah

JOMBANG, NUCOM —- Suasana kebatinan di kawasan Muktamar NU ke-35 di PP Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, terasa hening namun menyimpan kejutan sejarah. Ranggalawe, Ahad Wage, dan Pemilihan Petinggi NU Muktamar Ke 35 di Tambakberas: Kembali ke Adab dan Musyawarah.

Doa Para Peziarah

Di tanah inilah jejak para sesepuh NU seperti Mbah Ustman, Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Hamid, dan Mbah Wahab Hasbullah masih hidup dalam doa para peziarah.

Di Sungai Tambakberas Ranggalawe Gugur

Di sela diskusi santai para jurnalis Muktamar NU Ke 35 di SMK TI Bahrul Ulum, terkuak satu nama jauh dari masa lalu Ranggalawe.

Kesatria dari Tuban itu gugur di Sungai Tambakberas, dibunuh temannya sendiri yakni Kebo Anabrang, Ranggalawe pun tewas dalam duel sengit di tengah arus sungai melawan Kebo Anabrang.

Sementara Lembu Sora (paman Ranggalawe) yang adalah pasukan tempur Kebo Anabranh terbawa emosi kemudian menikam Kebo Anabrang hingga tewas di tempat yang sama pada hari yang sama.

Catatan sejarah budayawan NU Almagfurlah KH Agus Sunyoto menyebut, Sungai Tambakberas menjadi saksi akhir hayat Ranggalawe dan Kebo Anabrang yang tewas bersama.

“Apa hubungan Ranggalawe dengan Muktamar NU ke-35?” tanya seorang wartawan dari Jakarta. Ahad, (30/8)

Jawabannya mungkin terletak pada semangat yang sama: mengakhiri perpecahan harus dengan musyawarah. 700 tahun lalu tempat ini menjadi saksi tragis akibat egosentrisme para petinggi Majapahit. Hari ini, 700 tahun kemudian, NU memilih kembali ke adab.

Ahad Wage: Jeda untuk Menjernihkan Kepemimpinan

Pemilihan pucuk pimpinan tertinggi Rais Amm dan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, tanah Ranggalawe-Kebo Anabrang gugur, jatuh pada hari yqng sama Ahad Wage. Dalam penanggalan Jawa, Wage memiliki falsafah kepemimpinan yang khas.

Wage diasosiasikan dengan watak tenang, hati-hati, dan penuh pertimbangan. Ada empat nilai yang bisa direnungkan:

  1. Wening — Menjernihkan persoalan sebelum memutuskan. Keputusan dari pikiran keruh hanya akan memindahkan masalah.
  2. Ajeg — Teguh pada prinsip. Boleh lentur dalam cara, tapi tidak kehilangan arah tujuan.
  3. Gemi — Hemat dalam energi, kata, waktu, dan sumber daya. Tidak semua hal harus dijawab dengan kegaduhan.
  4. Eling dan Waspada — Selalu ingat amanah dan penuh kewaspadaan. Sebab kekuasaan tanpa eling dan waspada mudah berubah jadi sombong.

Ahad Wage karena itu bisa dimaknai sebagai jeda. Berhenti sejenak dari hiruk-pikuk, menepi dari riuhnya suara, menimbang dengan hati tenang, lalu melangkah dengan ajeg.

Rabu Wage berwatak Wening pikirane. Ajeg lstiqamah Iman, Islamé. Gemi tembunge. Eling amanahé, Waspada lakulampahé.

Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.

Rais Aam dan Ketum PBNU Siapa Dia?

Di tengah suasana “wening” itulah Muktamar ke-35 memilih nahkoda baru. Rais Aam dan Ketua Umum PBNU masa Khidmah 2026-2031

Kembali kepada titah yang dipercayakan memimpin Jamiiyah NU. Siapa? Namun, Keputusannya tertuang dalam sidang AHWA yang akan digelar tertutup.

Ketua Umum PBNU 2026-2031: Akan Dipilih Melalui Mekanisme AHWA

Berbeda dari periode sebelumnya, Ketum tidak dipilih langsung 1 orang 1 suara. Skema baru: PW, PC, PCINU mengusulkan 5 nama → ditabulasi → diserahkan ke Rais Aam untuk restu → ditetapkan melalui musyawarah AHWA.

Tujuannya satu yakni mengembalikan ruh musyawarah dan otoritas ulama dalam menentukan arah jam’iyyah.

Muktamar Gembira: Berkah, Berkah, Berkah

Penulis tiba di Tambakberas setelah perjalanan panjang dari Tegal naik kereta jalur selatan, sempat mampir berziarah ke makam almarhum Bapak Sagino di Kebumen.

Di sinilah, di tanah yang dulu berdarah karena perpecahan, NU hari ini merajut persatuan.

“Muktamar Gembira: Berkah, Berkah, Berkah. Alhamdulillah… Al-Fatihah”

Penutupan Muktamar dijadwalkan Senin, 31 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB dan akan dihadiri Presiden RI.

Dari Ranggalawe yang gugur karena perpecahan, kini lahir keputusan untuk bersatu. Dari Ahad Wage yang tenang, lahir pemimpin yang diharapkan wening, ajeg, gemi, eling lan waspada.

Penulis: Eko Wahyudi Sagino
Editor: Imam Hamidi Antassalam (Gus IHA)

Baca juga: Hari Ini Pemilihan Rais Aam dan Ketum PBNU 2026-2031, Berikut Skemanya

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button