Purna PMI Glempangpasir Dibekali Ketrampilan Digital Marketing

NU CILACAP ONLINE – Di balik cerita panjang mengais rejeki di negeri orang, ada mimpi besar. Dari peluh yang ditinggalkan nun jauh di sana, para purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) kini menata harapan baru di tanah sendiri. Inilah setitik harapan yang tercuat dari Pelatihan Usaha Mikro  bagi purna PMI yang berlangsung di Balaidesa Glempangpasir, Kecamatan Adipala.

Upaya memperkuat kemandirian ekonomi warga desa terus digencarkan melalui pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas. Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan Pelatihan Keterampilan Usaha Mikro bagi Purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) dalam Program Penguatan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Berbasis Komunitas (P2MI-BK) yang digelar di Balai Desa Glempangpasir pada 22–23 April 2026.

Kegiatan ini merupakan program inisiasi Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) yang dilaksanakan oleh Lakpesdam NU Cilacap sebagai tim lapangan.

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari purna PMI dan keluarganya, Satgas Desa Migran Maslahah (Demimas), perangkat desa, PKK, pemuda, hingga tokoh masyarakat. Selama dua hari, peserta dibekali materi mulai dari fondasi bisnis, inovasi produk lokal, manajemen keuangan, hingga praktik pemasaran digital dan fotografi produk.

Kepala Desa Glempangpasir, Margana, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Lakpesdam NU atas inisiatif penyelenggaraan pelatihan tersebut. Menurutnya, program ini menjadi angin segar bagi masyarakat desa, khususnya dalam membangun kemandirian ekonomi keluarga.

“Ilmu kewirausahaan adalah pondasi penting. Kami berharap hasil kerja keras warga yang merantau ke luar negeri tidak habis untuk konsumsi, tetapi bisa diputar menjadi usaha produktif yang berkelanjutan,” ujarnya.

Margana menegaskan bahwa Lakpesdam NU selama ini telah menjadi mitra strategis pemerintah desa, terutama dalam upaya perlindungan PMI sejak sebelum keberangkatan hingga purnatugas. Baca juga Purna PMI Bojongsari Didorong Bangun Usaha Mandiri

Pendampingan Berkelanjutan

Sementara itu, perwakilan Lakpesdam NU Cilacap, Ismah, menjelaskan bahwa program P2MI-BK dirancang secara komprehensif dengan menyasar PMI aktif, purna PMI, serta keluarga mereka. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendampingan yang berkelanjutan.

“Program ini tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi juga mencakup pembentukan Satgas Demimas, penguatan regulasi desa, hingga dukungan psikososial dan kewirausahaan,” jelasnya.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif sejak sesi awal. Fajri Nida sebagai fasilitator membuka ruang perkenalan yang tidak sekadar formalitas, melainkan menjadi sarana membangun kepercayaan dan jejaring antar peserta. Para peserta diajak berbagi pengalaman sebagai mantan pekerja migran sekaligus merumuskan harapan dalam mengembangkan usaha di desa.

Fokuskan pengelolaan SDA dan pemasaran digital

Pada sesi materi, peserta dibekali pemahaman tentang potensi konflik dalam usaha mikro oleh narasumber Ulil Albab. Konflik yang sering muncul antara lain terkait pembagian peran, pengelolaan sumber daya, serta perbedaan visi usaha. Melalui diskusi kelompok, peserta diajak mencari solusi agar konflik tidak menjadi penghambat perkembangan bisnis.

Selanjutnya, materi inovasi produk lokal menekankan pentingnya pemanfaatan sumber daya alam desa sebagai basis usaha. Peserta didorong untuk tidak sekadar menjual bahan mentah, tetapi mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Dalam hal ini, kualitas sumber daya manusia menjadi kunci utama dalam menggerakkan potensi tersebut.

Materi manajemen keuangan juga menjadi perhatian penting. Peserta diingatkan untuk memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga serta mencatat setiap transaksi secara disiplin agar usaha dapat berkembang secara sehat dan berkelanjutan.

Memasuki hari kedua, pelatihan difokuskan pada praktik pemasaran digital. Peserta dikenalkan pada pengembangan produk, pembuatan identitas visual, serta pemanfaatan platform digital seperti marketplace dan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar.

Tidak hanya itu, peserta juga mengikuti praktik langsung pengambilan gambar produk menggunakan ponsel. Mereka belajar pentingnya pencahayaan dalam fotografi, mulai dari memanfaatkan cahaya alami hingga memahami teknik dasar seperti front lighting, side lighting, dan backlighting.

Suasana pelatihan tampak hidup ketika peserta mencoba memotret objek sederhana sebagai latihan awal. Dari praktik tersebut, peserta menyadari bahwa kualitas visual produk sangat menentukan daya tarik di pasar digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button