Trending

Novi Basuki: Yang Perlu Diketahui dari Islam Khonghucu

NU CILACAP ONLINE – Bila di Indonesia  mengenal Islam Nusantara dengan berbagai akulturasi budayanya,  maka di China ada Islam Khonghuchu. Ini menjadi bukti Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin.  Lantas apa saja yang perlu diketahui dari Islam Khonghucu? Samakah denga Islam Nusantara?

Secara rinci dan mendalam Pakar Islam di China Novi Basuki menjelaskan kesamaan antara Islam Khonghucu dan Islam Nusantara. Menurutnya Pertama, kesamaan Islam Khonghucu sendiri juga disebarkan dengan pendekatan budaya.

Islam, Nusantara dan China

Istilah Islam Nusantara di Indonesia yang mengangkat pribumisasi Islam supaya sinkretis dengan budaya setempat. Itu juga dilakukan di China dengan Islam Khonghucunya.

Pakar Islam di China Novi Basuki seorang santri lulusan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo, Jawa Timur yang lama belajar di China; mengatakan pribumisasi Islam menyesuaikan kultur budaya setempat sangat penting dilakukan di setiap Negara.

Bukan apa ujar Novi Basuki. Islam di negara-negara Arab sana dan di amini oleh mantan ketua PBNU Kiai Said Aqil Siradj, dalam wawancaranya dengan BBC. Kiai Aqil secara terang-terangan menyatakan Islam Arab ialah Islam yang “selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.”

Pengertian Islam Nusantara di Indonesia sendiri yang dijelaskan oleh Mantan Ketua umum PBNU Kiai Aqil Siradj. Berarti Islam yang bercirikan ramah, anti radikal, inklusif dan toleran.

“Karena tempaan sejarah panjang persebarannya yang “didakwahkan dengan cara merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya asli negeri kita”. Kata Kiai Aqil Siradj.

Novi Basuki sendiri dalam melihat Islam yang dipandukan dengan ajaran Khonghucu di China sebagaimana menjadi ajaran moral orang-orang di sana dulu. Menilai apa yang dilakukan China tak berbeda dengan indonesia dengan karakteristik Islam Nusantara.

Tentu saja tentang Khonghucu sendiri di Indonesia. Jelas di China berbeda dengan Indonesia yang mana Khonghucu sudah diakui sebagai agama resmi yang artinya Khonghucu dapat dikatakan sebagai agama di Indonesia.

Namun di China Khonghucu merupakan ajaran moral atau sebuah pengetahuan dari filsafat lokal. Mungkin filsafat Jawa atau Kejawen dapat menjadi perumpamaan ajaran Khonghucu melihat konteks di Jawa.

Perbedaannya filsafat Jawa atau Kejawen dengan Khonghucu hanya tidak ditulis secara rinci sehingga tidak terstruktur seperti ajaran filsafat Khonghucu yang rututan ajarannya jelas langsung ditulus oleh Confusius. Seorang filsuf kenamaaan China yang karya-karyanya dikenal sampai saat ini.

Baca juga Revelansi Kitab Risalah Aswaja Dalam Kontra Narasi Ekstrimisme

Islam Khonghucu

Novi Basuki menjelaskan tidak ada perbedaan yang signifikan antara Islam Nusantara di Indonesia dan Islam Khonghucu di China. Novi secara pribadi yang telah meneliti Islam Khonghucu di China dan menilai; margin perbedaannya 11:12. Artinya ada kecenderungan untuk sama.

Hanya saja perbedaan yang mencolok antara Islam Khonghucu dan Nusantara terletak pada mazhabnya saja. Di mana Islam Khonghucu di China menggunakan mazhab Hanafi dan di Nusantara ini menggunakan Mazhab  Syafi’i.

Secara rinci dan mendalam Novi Basuki menjelaskan kesamaan antara fenomena Islam Khonghucu di China dan Islam Nusantara di Indonesia.

Pertama, kesamaan Islam Khonghucu sendiri juga disebarkan dengan pendekatan budaya. Sama seperti ketika Islam masuk ke Indonesia yang waktu itu kebanyakan masyarakatnya menganut Hindu, Buddha, atau animisme. Islam datang ke China kala mayoritas penduduk dan penguasa kedinastian menjadi pemeluk Buddha atau kepercayaan lokal.

Sebab itu bentuk masjid dibiarkan mempertahankan corak arsitektur China yang lebih menyerupai kelenteng. Pun bacaan Al-Quran muslim China, tidak dipaksakan sefasih orang Arab melafazkan makhraj huruf dalam bahasanya sendiri.

Novi Basuki mencontohkan jika di Jawa adanya buyi Alfatekah, eh Alfatihah, misalnya. Di China sendiri dipersilakan dibaca sebagai Alefatihaiha atau Alefatiha. Sebab muslim China sulit mengucapkan huruf-huruf bersukun.

Terbukti, metode dakwah yang lebih mengedepankan esensi ketimbang emosi lewat pendekatan kebudayaan. Islam di China berhasil membentuk karakter Islam Khonghucu yang layaknya Islam Nusantara bersifat moderat, ramah, dan toleran.

Kedua, Islam Khonghucu juga bermaulid Nabi dan menghelat tahlilan. Maka tak heran jika di bulan mauled. Tidak sulit menemukan muslim yang tengah berkumpul merayakan Shengji jie (Maulid Nabi) di masjid-masjid. Apalagi di wilayah China barat laut yang populasinya didominasi muslim semisal Ningxia, Qinghai, dan Gansu.

Acara ini biasanya dihelat cukup meriah dengan acara pengajian perihal akhlak rasul yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan shalawat bersama lantas diakhiri dengan suguhan penganan khas berlimpah buat hadirin.

Tasawuf Mewarnai Islam di China

Adapun tahlilan bagi muslim China, juga menjadi agenda penting untuk mendoakan yang meninggal. Seperti muslimin Nusantara, muslim China mengadakan kenduri tahlilan guna menyelamati 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari kematian.

Di China, tradisi tahlilan disebut “ermaili” yang merupakan transliterasi dari kata “’amal” dalam bahasa Arab. Sesuai namanya, ermaili memang ditujukan untuk beramal yang pahalanya diharapkan bisa sampai kepada yang wafat.

Ketiga, Islam Khonghucu juga bertasawuf dan melakukan ziarah kubur. Muslim China termasuk muslim yang rajin bertasawuf dengan mengikuti tarekat-tarekat. Selain Nakeshibandiye (Naqsyabandiyah). Kuburenye (Kubrawiyah), atau Gadelinye (Qadiriyyah) adalah tarekat utama yang cukup masif kepengikutannya.

Menurut Novi tentang Tarekat di Muslim China. Ketiga Tarekat itu masih terbagi lagi menjadi beragam aliran dan cabang sesuai daerah atau mursyidnya. Biasanya, mereka menghelat ritualnya di gongbei: makam sesepuh yang dikeramatkan. Tarekat Naqsyabandiyah aliran Hufuye (Khufiyya), umpamanya, akan menggelar zikir di gongbei-nya almarhum Ma Laichi yang notabene pencetus tarekat tersebut di Cina.

Karena itu, layaknya muslimin Nusantara, ziarah ke pusara ulama adalah hal yang lumrah bagi muslim Cina. Sebagaimana ngalap berkah dalam ziarah sama dengan muslim di nusantara pada umumnya.

Baca juga Skala Prioritas Membangun Nasionalisme Dan Mentalitas Bangsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button