KH Raden Affandi Mursyid Tarekat Annaqsabandiyah Al-Khalidiyah

NU CILACAP ONLINE – KH Raden Muhammad Affandi alias Kiai Affandi adalah Mursyid Tarekat Annaqsabandiyah Al-Khalidiyah, juga sebagai ulama saudagar kaya pada zamannya.

Konon, KH Raden Muhammad Affandi memiliki kapal laut yang biasa untuk mengangkut calon jamaah haji. Oleh sebab itu, beliau sering mengawal jamaah haji Indonesia ke Tanah Suci.

Sebagai ulama pesantren, Kiai Affandi punya kelebihan dan karisma tersendiri. Beliau menyukai kesenian tradisional Jawa, dan tak jarang sering nonton pagelaran wayang kulit atau seni tayuban (lengger), dengan cara ini, ternyata banyak masyarakat yang tertarik dan akhirnya menjadi murid beliau.

Sejarah Berdirinya NU Sokaraja

Pada awal pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Sokaraja tahun 1928-an, Kiai Affandi mendukung KH Ahmad Satibi untuk menjabat Rais Syuriyah.

Kiai Affandi sendiri memilih berjuang di balik layar sambil mengurus Pesantren. Beliau mengajukan sang putra KH Rifai, yang kemudian menjadi Ketua Tanfidziyah.

Menurut Kiai Abdul Razak, aebagai ulama sepuh, Kiai Affandi tidak terjun langsung. Sebagai wujud dukungan, beliau memerintahkan putranya untuk masuk dalam kepengurusan NU.

Kiai Affandi memimpin tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah pusat Sokaraja selama 14 tahun. KH Affandi wafat pada 12 Dzulhijjah 1348 Hijriyah pada Ahad, 11 Mei 1930.

Seusai wafat Kiai Affandi, mursyid tarekat Annaqsabandiyah Al-Khalidiyah  lanjut oleh putranya yaitu  KH Raden Rifai. Kiai yang satu ini adalah  sosok yang sangat akrab dengan para santri.

Tatkala ada santri atau ikhwan tarekat yang datang, beliau selalu meminta sang istri untuk menyediakan makanan.

Selain mengasuh Pondok Pesantren, Kiai Rifai juga harus mengurus sawah pertanian cukup luas dan usaha batik peninggalan ayahnya. Usaha batik itu melibatkan para santri sebagai pengrajin.

Sebagai seorang pengusaha, Kiai Rifai banyak menjalin relasi dengan pelaku bisnis –termasuk dari kalangan keturunan Tionghoa.

Belasan ribu santri yang berguru kepada Kiai Rifai semasa hidupnya. Santrinya tersebar tidak hanya Jawa Tengah, melainkan Jawa Barat, Sumatera dan Lampung. Salah satu murid Kiai Rifai adalah Mbah Mangli dari Magelang.

KH Rifai mepunyai 12 orang anak Kedua belas putra-putri Kiai Rifai adalah: Siti Kalsum, Siti Afiah, Abdussalam, Ngabdiah, Ali Ridlo, Siti Aminah, Siti Rogayah, Ngakib, Zubaidah, Abu Bakar, Siti Sofiah, dan Siti Khotimah. KH Raden Rifai wafat pada 10 Jumadil Awal 1388 atau pada Senin, 5 Agustus 1968. (Rhmn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button