KH Zulfa Mustofa, Sosok Pj Ketum PBNU Pengganti Gus Yahya, Berikut Profilnya

NU Cilacap Online – KH Zulfa Mustofa adalah pendakwah yang sering wara wiri dari majelis satu ke majelis lain. Ceramahnya sarat nilai, dan berbobot dengan argumentasinya yang padat, terutama menyangkut syariat Islam. Lantas siapa dia dan dari mana dia? Inilah sosok KH Zulfa Mustofa. Penjabat (Pj.) Ketum PBNU, Pengganti Gus Yahya, Berikut kilasan profilnya.

KH Zulfa Mustofa (48) nama yang tidak asing lagi bagi masyarakat muslim Indonesia, terutama bagi warga Nahdliyyin.

Dakwahnya kerap menghiasi beranda media sosial, dirinya pun cukup diperhitungkan di kancah internasional karena kiprahnya yang luar biasa dalam membina akhlak dan menyatukan umat Islam di seluruh dunia.

Jadi Solusi bagi Masa Depan NU

Usai resmi ditetapkan sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum Tanfidziyah PBNU menggantikan Gus Yahya yang telah dicopot, KH Zulfa Mustofa mengatakan pribadinya tak ingin menjadi bagian konflik masa lalu. Dan bahkan ingin menjadi solusi bagi masa depan NU.

“Saya juga menyampaikan bahwa saya tidak ingin menjadi bagian konflik masa lalu. Tapi saya ingin menjadi solusi buat jam’iyah ini untuk masa depan,” kata Kiai Zulfa dalam pernyataan perdananya usai penetapannya di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Selasa (9/12) malam.

Dia menyebut jabatannya saat ini merupakan satu kehormatan pada satu sisi, namun sekaligus menjadi amanah yang besar di sisi lain.

Kiai Zulfa mengaku bertekad untuk menjalankan roda organisasi NU dalam sisa periode kepengurusan hingga 2026 mendatang.

Lalu seperti apa sih sosok Pj. Ketim PBNU KH Zulfa Mustofa? berikut ulasannya;

Profil KH Zulfa Mustofa

Melansir dari berbagai sumber pada Rabu (10/12/2025), KH Zulfa Mustofa lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977. Beliau merupakan anak dari pasangan KH Muqarrabin, seorang ulama asal Pekalongan, Jawa Tengah, dan Nyai Hj Marhumah Latifah, yang berasal dari daerah Kresek, Tangerang sekitar dua belas kilometer dari Tanara, Banten.

KH Zulfa Mustofa juga memiliki hubungan keluarga yang erat dengan ulama-ulama terkemuka di Indonesia, karena ibunya adalah anak dari Nyai Hj Maimunah, yang merupakan ibu dari eks Rais Amm PBNU dan Wakil Presiden RI ke 13, KH Ma’ruf Amin.

Cicit Syekh Nawawi Al Bantani

Dengan demikian, KH Zulfa Mustofa adalah keponakan dari KH Ma’ruf Amin, dan juga cicit kemenakan dari Syekh Nawawi Al Bantani.

Pada usia muda, KH Zulfa Mustofa menikah dengan Hulwatin Syafi`ah dan dikaruniai beberapa orang anak.

Dalam perjalanan hidupnya, beliau mendapat pendidikan formal di SD Al-Jihad Tanjung Priok, Jakarta Utara, hingga kelas tiga.

Kemudian, ia melanjutkan pendidikan di SD di Pekalongan dan bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Simbangkulon.

Selanjutnya, beliau menempuh pendidikan di MTs di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, di mana ia belajar dengan dua guru besar yang sangat berkesan, yakni KH M A Sahal Mahfud (eks. Rais Amm PBNU dan Ketua Umum MUI Pusat) dan KH Rifai Nasuha, yang merupakan guru dari Kiai Sahal.

Setelah menyelesaikan pendidikan Madrasah Aliyah pada tahun 1996, KH Zulfa Mustofa sempat merencanakan untuk melanjutkan kuliah ke Timur Tengah, ke Al-Azhar atau Makkah. Namun, niat tersebut tidak dapat terwujud karena pada malam Idul Fitri, beliau kehilangan sang ayah.

Sebagai penerus, beliau kemudian menggantikan posisi ayahnya untuk mengajar di majelis-majelis taklim yang dulu diasuh oleh sang ayah.

Majlis Taklim Darul Mustofa

Pada usia 19 tahun, KH Zulfa Mustofa sudah mengisi sekitar lima belas majelis taklim. Pada tahun 2000, beliau mendirikan majelis taklim yang bernama Darul Mustofa, sebagai wadah untuk menyebarkan ilmu dan memperdalam ajaran Islam.

Sejak itu, beliau terus berkiprah dalam bidang pendidikan dan dakwah, mengikuti jejak sang ayah dan para pendahulunya, yang telah memberikan kontribusi besar bagi kemajuan umat.

Saban kali berkesempatan bertemu jemaah, terlebih warga NU. Kiai Zulfa Mustofa berpesan agar selalu menjalankan prinsip yang dibangun oleh para ulama NU.

Tanggung Jawab Agama dan Bangsa

Pada setiap pengajiannya Kiai Zulfa kerap menyampaikan bahwa NU didirikan atas dua landasan tanggung jawab, yaitu tanggung jawab agama dan kebangsaan.

“NU hadir untuk memastikan agama terjaga, kehidupan masyarakat selamat, dan bangsa ini kokoh. Jangan ragukan komitmen NU terhadap bangsa dan tanah air, karena cinta kepada bangsa adalah nafas NU,” katanya pada Harlah NU ke 102 lalu

Dia pun kerap menyoroti pentingnya menjaga persatuan umat dan menolak segala bentuk radikalisme yang merusak persaudaraan.

“Kita sesama Muslim tidak boleh saling mengkafirkan. NU kuat lantaran komitmennya yang teguh pada agama, pada kebhinekaannya, dan tanggung jawab moral pancasila,” tegasnya. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button