Berita

KH Badruddin Mudassir, PP Miftahul Ulum Pamekasan Wafat

KH Badruddin Mudassir Bin Nashruddin, Wafat. Innalillahi wa inna ilaihi roi’un, KH Badruddin Mudassir – yang akrab dipanggil Lora Badrud – adalah Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Panyepen Palengaan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur

Nahdlatul Ulama (NU) kembali berduka. Kabar duka datang dari keluarga Rais Am PBNU KH Miftachul Akhyar . Almarhum KH Badruddin Mudassir Bin Al-Maghfurlah KH Badruddin merupakan menantu dari putrinya Nyai Hj Majidatul Quraisyiyah yang wafat dua hari lalu pada Hari Ahad wafat (27/06/2021) di Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari Surabaya.

Kabar wafatnya Pengasuh Pesantren Panyeppen, Kabupaten Pamekasan, tersebut tersebar di sejumlah jejaring WhatsApp NU hingga grup di lingkungan Lesbumi PBNU PCNU. Ucapan duka dan doa pun mengalir mengirini kabar duka.

“Innaalillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Telah wafat KH Badruddin Mudassir Bin Nashruddin Pesantren Sumber Kebun, Sampang Madura/Ponpes Panyeppen Pamekasan Madura. Menantunya ketua umum MUI pusat dan Rais Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar (suaminya Almarhumah Nyai Majidah, yang wafat dua hari yang lalu).” Demikian pesan duka yang tersebar di beberapa WhatsApp Grup.

Putra dari KH Miftachul Akhyar, Gus Mughits Al Iroqy membenarkan kabar tersebut. Begitu juga dengan Ketua Pengurus Cabang NU Pamekasan KH Taufik Hasyim. “Pandunganipun sami,” kata Gus Mughits saat dikonfirmasi.

Almarhum KH Badruddin Mudassir, dikenal ulama yang alim dan tegas, saat awal negeri ini dilanda wabah corona terkait polemik penanganan janazah yang meninggal sebab virus Corona menimbulkan pro dan kontra.

Sebab jika mengikuti protokol kesehatan covid-19 yang ada saat itu, pasien yang meninggal karena covid-19 tidak dimandikan dan langsung dikebumikan, Bahkan pihak keluarga tidak diperbolehkan meskipun sekedar melihat.

Hal ini membuat resah, apalagi pasien meninggal adalah orang Islam yang secara syar’i harus dimandikan, dikafani, disholati kemudian dikuburkan.

Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyepen Tersebut Menjelaskan bahwa Pasien yang meninggal karena virus, Maka Virusnya juga akan mati, Baik virusnya Thobi’i (alami) atau rekayasa.

“Lagi pula orang yang betul wafat karena virus, ketika meninggal maka virusnya pasti ikut mati. Tidak mungkin menular, baik virusnya thobi’i/alami maupun rekayasa, apalagi masih diragukan apa betul kena virus atau diviruskan,”

Pesan KH Badruddin Mudassir sempat beredar luas di pesan media sosial, Sehingga menghilangkan keraguan kepada ummat islam terutama santri yang pernah berguru kepada beliau untuk tetap memperlakukan pasien yang meninggal Covid-19 sebagaimana aturan dalam Islam.

“Tolong sahabat-sahabat, hal ini disebarkan. Jangan sampai saudara-saudara atau keluarga-keluarga muslim kita yang wafat terkena virus, lalu diperlakukan seperti bangkai atau anjing. Jangan takut sampai mengurangi iman dan tawakkal. Jangan mau diperlakukan dengan aturan yang bukan syar’i. Saya bertanggung jawab tentang hal ini,” Tegas KH. Mudassir.

Almagfurlah KH Badruddin Mudassir Bin Nasruddin adalah cucu KH Istbat bin Ishak Pendiri Pondok Pesantren Banyanyar Pamekasan. Disampaikan dalam web pesantren karangdurin.net, Nasabnya bersambung pada Sunan Giri atau dikenal Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden ‘Ainul Yaqin dan Joko Samudro. Sunan Giri merupakan salah satu Wali Songo, penyebar semangat ajaran Islam Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

seventeen − 7 =

Back to top button