KH Ahmad Daelami: Berbahagialah Sepenuh Syukur

NU Cilacap Online — Pandangan bahwa Donald Trump (DT) “tidak bersyukur” karena memiliki sifat ambisius, dan terlalu banyak keinginan-keinginan, hal ini sering kali menjadi bahan diskusi publik bahkan dalam forum Silturahmi Nahdlatul Ulama (NU) Cilacap baru-baru ini. Inilah tausiyah KH Ahmad Daelami: Berbahagialah Sepenuh Rasa Syukur.

Wakil Rais Syuriyah PCNU Cilacap KH Ahmad Daelami berpandangan manusia macam DT digambarkan sebagai sosok yang sepenuhnya dikendalikan oleh keinginan (ruled by desire), terutama keinginan untuk dikagumi, dan keinginan dianggap sebagai yang paling ‘sukses’ dan kuasa.

Dalam forum silaturahmi dan buka bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) yang dihelat di Aula Pusdiklat PCNU Cilacap KM 15 Jalan raya Kalisabuk, Kesugihan, Cilacap pada Sabtu, (7/03/2026), Kiai Daelami mengemukakan ciri orang yang tidak bersyukur itu karena banyak keinginan-keinginan, dan karena orang memiliki banyak keinginan itulah sesungguhnya yang menyiksa dirinya.

Pandangan tersebut sebagai realitas yang nyata atas sifat seorang DT Presiden USA yang akhir-akhir ini jadi sorotan dunia oleh karena keterlibatan USA sebagai negara yang mendukung Israel dalam konfliknya dengan Palestina.

Bahkan atas campur tangan USA pada Israel itulah sehingga menimbulkan insiden perang yang hingga hari ini makin menegangkan dan tak berkesudahan.

Perang yang mengerahkan kekuatan militer negara dengan kecanggihan teknologi paling mutakhirnya itu, mulai dari mortir, rudal balistik, hingga rudal supersonik bahkan drone kamikaze, diberitakan akibat serangan militer Israel ke Gaza Palestina hingga kini terhitung begitu banyak menewaskan ribuan jiwa, telah menembus angka lebih dari 60.000 hingga 70.000 jiwa.

Bahkan sampai menewaskan Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, meninggal pada (28/02/2026) akibat serangan udara yang dilakukan oleh pasukan militer Amerika. Iran sebagai negara yang membela Palestina, hal itu sontak mengguncangkan dunia.

Pandangan Kiai Daelami atas insiden tersebut menyoroti pada sosok DT yang tidak bisa bersyukur lantaran karena sesungguhnya ingin merebut kekayaan tambang negara Timur Tengah.

Sebelumnya dia pun kemukakan bahwa sesungguhnya mengapa USA, atas kuasa DT ini merebut Venezuela dan sebelumnya Irak. Karena DT tidak bersyukur oleh karena terlalu banyak keinginan-keinginan, dan itu yang menyiksa dirinya.

Konon Venezuela bukan sekedar soal teror narkoba namun sumber daya minyaknya melimpah dan banyak. Artinya tambang-tambang itu ingin dikuasai USA. DT tidak rela kalau China mapun Rusia ikut menikmati tambang-tambang di Timur Tengah.

Perilaku DT ini menurut Kiai Daelami adalah model manusia yang suka berebutan balung. Dia menggambarkan ada dua model khayawan (hewan), pertama ialah hewan bangsa manusia ‘gegremetan’. Adalah bagi mereka yang kalau dikasih makan hingga kenyang, diam, anteng (meneng). ‘Sing penting Wareg, mesti Meneng’.

Kedua adalah manusia bangsa ‘reang’ yakni kalau dikasih mereka itu sukanya kisruh, rebutan balung seperti anjing, atau ‘USA’ (dibalik ASU).

“Jadi kalau ada hewan suka buat kisruh (rebutan balung) ya model USA saat ini. Maksudnya USA kalau di balik (jadi ASU). Mosok kiai ngomong ASU ya ora patut,” kelakarnya.

Kiai Daelami yang merupakan pengamat timur tengah lulusan Yaman tersebut juga mengemukakan bahwa di Timur Tengah dalam pandangan pranata sosial masyarakat suku atau kelompok. Bahwasannya setiap suku. Suku adalah kelompok dalam sebuah Bani. Satu Bani, atau setiap kelompok Bani saja di sana sudah punya senjata. Di Yaman setiap Bani sudah punya mortir, tank tempur.

“Jadi kalau ada gesekan sedikit saja di sana (Timur Tengah) akan terjadi pertempuran,” terangnya.

Maka Kiai Daelami dalam forum silaturahmi dan Buka Bersama yang dihadiri jajaran kepengurusan PCNU Cilacap baik Lembaga maupun Banom NU, dia berpesan bahwa momentum puasa ramadhan ini mengajarkan kita untuk bersyukur.

“Bersyukur bukan karena bahagia, tapi bersyukurlah agar kita bahagia. Kita bersyukur bukan karena banyak nikmat, bersyukurlah karena nikmatnya penuh rasa bahagia,” ajaknya.

“Ketika bersyukur Allah SWT akan menambahkan nikmatnya, meskipun sedikit yang utama adalah berkah, dan manfaaatnya,” imbuhnya.

Lantas puasa kita ini sesungguhnya mengikuti lakulampah, cara hidup malaikat. Kenapa? Malaikat itu mituhu, lurus jalannya, dan ketaatannya. Sehingga Allah SWT menuntun kita untuk menjalani puasa.

Malaikat tidak makan, tidak minum, tidak berkumpul (suami istri) di siang hari. Puasa diperuntukkan untuk kita, untuk dilatih. Dilatih oleh karena dalam diri manusia punya potensi sifat yang banyak. Sifat yang bagai malaikat, syetan, bahkan hewan. Manusia tergolong hewan, tapi hewan yang berakal (khayawan natiq).

Maka semoga Allah menyederhanakan keinginan-keinginan kita.

“Kenapa orang semakin tersiksa oleh ambisinya, karena terlalu banyak keinginan-keinginan, sehingga lupa bersyukur,” jelasnya.

Dengan demikian sebagaimana penjelasan di atas, maka dengan puasa kita kurangi sifatnya ‘USA’ (dibalik ASU), sifat syetan yang sukanya menggoda dengan kebohongan-kebohongan.

Maka dengan puasa, tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri di siang hari itu seperti malaikat yang nurut, taat, patuh, tidak macam-macam dan ending dari semua ini adalah menggapai Takwa.

“Maka dengan keyakinan yang kuat. Allah SWT akan menambahkan kekuatan iman kita, Islam kita, sehingga kita betul-betul jadi orang takwa yang diinginkan sebagai ending daripada Puasa”. Pungkasnya. (IHA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button